AS-China Gencatan Senjata, Harga Minyak Naik Hampir 4 Persen

Liputan6.com, Chicago – Harga minyak melonjak hampir empat persen pada hari Senin setelah Amerika Serikat (AS) dan China menyetujui gencatan senjata 90 hari, meredakan perang dagang antara dua negara tersebut.

Kenaikan harga minyak juga dipicu rencana pemotongan produksi minyak di provinsi Alberta, sementara kelompok eksportir OPEC tampaknya akan mengurangi pasokan.

Dikutip dari Reuters, Selasa (4/12/2018), harga minyak mentah Brent berjangka naik USD 2,23 atau 3,75 persen menjadi menjadi USD 61,69 per barel. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik USD 2,02 atau 3,97 persen menjadi USD 52,95 per barel.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping memutuskan menunda pemberlakuan tambahan tarif dan kembali berunding dalam waktu 90 hari usai bertemu dalam rangkaian pertemuan G20 di Buenos Aires, Argentina.

Pihak Gedung Putih menyatakan Presiden Donald Trump tidak akan meningkatkan tarif senilai US$ 200 miliar dari barang-barang China atau menjadi 25 persen seperti yang diumumkan sebelumnya.

Dalam kesepakatan itu, China setuju untuk membeli sejumlah produk pertanian, energi, industri dan barang lainnya. Lalu, kedua negara akan melakukan pembicaraan untuk mengatasi masalah seperti transfer teknologi, kekayaan teknologi, hambatan non tarif, pencurian cyber, dan pertanian.

Perang perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia telah sangat membebani perdagangan global dan memicu kekhawatiran perlambatan ekonomi.

Minyak mentah belum termasuk dalam daftar produk yang menghadapi tarif impor, tetapi para pedagang mengatakan sentimen positif mendukung pasar minyak mentah.

“Tanda-tanda awal membaiknya hubungan perdagangan AS-China telah memberikan dorongan untuk harga minyak di sesi perdagangan hari ini,” kata Abhishek Kumar, analis energi senior di Interfax Energy di London.

Minyak juga mendapat dukungan dari pengumuman oleh Alberta, provinsi Kanada Barat yang akan memaksa produsen untuk memangkas produksi sebesar 8,7 persen, atau 325.000 barel per hari (bph), untuk mengatasi hambatan pipa yang telah menyebabkan minyak mentah meningkat di penyimpanan.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak bertemu pada hari Kamis untuk memutuskan produksi minyak. OPEC bersama dengan anggota non-OPEC Rusia, diperkirakan akan mengumumkan pemotongan yang ditujukan untuk menahan melimpahnya pasokan yang telah menurunkan harga minyak mentah sekitar sepertiga sejak Oktober.

“Kami merasa bahwa penurunan sekitar 1,1-1,2 juta barel per hari akan diperlukan jika ingin menahan pelemahan harga minyak,” kata Jim Ritterbusch, presiden Ritterbusch and Associates, dalam sebuah catatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *