Dipertanyakan Massa FUI, KPU Jelaskan Hak Tunagrahita Nyoblos

Dipertanyakan Massa FUI, KPU Jelaskan Hak Tunagrahita Nyoblos Komisioner KPU Wahyu Setiawan (Foto: Ari Saputra)

Jakarta – Massa FUI yang melakukan aksi di depan Kantor KPU diterima oleh komisioner KPU. Saat audiensi, salah satu pertanyaan yang muncul adalah tentang ‘orang gila boleh mencoblos’.

Komisioner KPU, Wahyu Setiawan, kemudian memberi penjelasan. Dia menegaskan bahwa KPU hanya menjalankan putusan MK. Mereka yang diberikan hak mencoblos juga adalah tunagrahita.

“Sudah ada putusan MK untuk memberikan hak pilih kepada tunagrahita. Jadi para ustaz ustazah, jadi bukan orgil yang telanjang kita data, enggak. Tapi kalau ada keluarga yang kelainan mental itu yang dimaksud oleh MK,” kata Wahyu di Kantor KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Jumat (1/3/2019).

Tunagrahita yang memiliki hak pilih juga harus memenuhi sederet syarat. Jumlahnya sekitar 600.000 orang.

“Insyaallah kami tidak pernah mendata orang gila, kami tak pernah lakukan. Tetapi tunagrahita yang kami data karena ada putusan MK,” ungkapnya.

Sebelumnya diberitakan, massa Forum Umat Islam (FUI) sebelumnya berkumpul di depan Kantor KPU. Amien Rais yang sempat ikut serta, lebih dahulu meninggalkan lokasi sebelum audiensi dimulai.

“Jadi itu kalau KPU bagus, jujur, kita doakan mudah-mudahan dapat hidayah, rahmat, dimuliakan Allah dunia-akhirat. Tetapi kalau KPU sampai curang, kita doakan dapat laknat hidupnya sengsara dunia dan akhirat,” kata Amien sebelumnya.
(imk/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ratna Sarumpaet Merasa Kasusnya Politis, TKN: Ikuti Saja Proses Hukum!

Jakarta – Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin heran dengan pernyataan Ratna Sarumpaet yang merasa kasus hoax dirinya politis. Menurut TKN, terungkapnya kasus hoax Ratna justru menghindarkan politisasi. Apa maksudnya?

“Tidak ada yang mempolitisasi kasus Ratna Sarumpaet. Justru kalau Ratna Sarumpaet tidak terungkap kebohongannya, maka akan terjadi politisasi terhadap kekerasan yang dilakukan terhadap Ratna Sarumpaet,” kata juru bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Ace Hasan Syadzily kepada wartawan, Kamis (28/2/2019).

Menurut Ace, kasus hoax penganiayaan Ratna saat itu berpotensi dipolitisasi tim Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dengan menyalah-nyalahkan penguasa. Ia menyinggung peristiwa itu kala Prabowo dan timses menggelar konferensi pers mengenai penganiyaan Ratna.
“Bayangkan kalau Ratna Sarumpaet tidak berani menyatakan yang sebenarnya, maka propaganda oposisi mengalami penindasan, dizalimi oleh rezim yang berkuasa akan tersembur dengan kencang,” tutur Ace.
“Itulah sebabnya tanpa fact checking, Prabowo dan kubu 02 ramai-ramai konferensi pers. Jadi poinnya bukan semata-mata tidak ada fact checking, tapi pada upaya menggunakan kasus ini sebagai bagian dari politisasi,” imbuhnya.

Ratna Sarumpaet Merasa Kasusnya Politis, TKN: Ikuti Saja Proses Hukum!Foto: Ace Hasan Syadzily (Foto: Ari Saputra/detikcom)

Karena itu, dia meminta Ratna mengikuti proses hukum dengan baik. Ia meminta Ratna tak buru-buru menyimpulkan.

“Oleh karena itu, sebaiknya ikuti saja proses hukum itu dengan sebaik-baiknya. Kita lihat apakah ada fakta persidangan bahwa kasus kebohongan Ratna Sarumpaet ini semata-mata menyangkut dirinya sendiri. Atau melibatkan pihak-pihak lain untuk maksud-maksud tertentu,” ujar Ace.
(tsa/gbr)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cara Nyentrik ABG Cantik Protes Jalan Tak Laik

Palembang – Sekelompok remaja di Batumarta, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan, punya cara dan nyentrik dalam memprotes jalan rusak. Mereka melakukan pemotretan dengan cara unik dan pose lucu agar direspons pemerintah.

Ada yang berpose sedang memancing, ada yang berpose romantis dan seolah duduk santai di tepi danau, ada pula yang sampai mandi lumpur.

Mereka berhasil membuat pose konyol tapi di jalan rusak yang seperti kubangan. Lubang di jalan yang rusak seolah memberi banyak ide kreatif. Pemotretan sendiri dilakukan seorang fotografer bernama Robby Ari Sanjaya.

“Jalanan itu memang sudah lama rusak. Sudah lama tidak diperbaiki pemerintah setempat. Itu merupakan bentuk protes masyarakat yang sudah kesal karena ini tidak ada perbaikan jalan,” kata seorang warga, Syakirin Edo Lugan, saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (27/2/2019).
Sang fotografer, Robby Ari Sanjaya, menyebut pemotretan dilakukan pada Minggu (24/2) pagi. Untuk mendapatkan hasil maksimal, dia melibatkan 4 anak muda yang ‘siap untuk malu’.

“Awalnya jalan itu jalan yang saya lewatin setiap hari. Saya selalu pergi pagi pulang malam dan saya harus lewat jalanan itu,” ujar fotografer Robby Ari Sanjaya, yang memotret para ABG cewek tersebut, saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (27/2).

Karena kesal melihat kondisi jalan yang selalu dilewatinya rusak semakin parah, Robby akhirnya putar otak mencari ide. Dia ingin memotret jalan dengan cara unik dan kreatif untuk menceritakan isi hatinya.

Cara Nyentrik ABG Cantik Protes Jalan Tak LaikFoto: (dok Istimewa-Robby)

Aksinya ini, kata Robby, cukup berhasil karena jepretannya mendapat banyak respons dari masyarakat. Tidak jarang warganet ikut membagikan dan menanggapi fotonya yang di-posting di media sosial.

“Responsnya banyak, luar biasa. Kadang cara-cara kreatif seperti ini justru cukup menarik perhatian masyarakat. Jadi ini bukan hanya dari pemerintah setempat, tetapi juga nasional dan saya berharap segera ada perbaikan jalan,” tutupnya.

Salah seorang ABG yang menjadi model jalan rusak penuh lumpur sebagai aksi protes itu adalah Resysta Saputri Mojjes atau Putri. Tindakannya itu dilakukan sebagai bentuk protes kepada pemerintah karena jalanan di daerahnya sudah 4 tahun tak diperbaiki.

“Itu dilakukan secara spontan saja. Lagi pula jalannya sudah lama rusak nggak pernah diperbaiki. Kesal,” terang Putri saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (27/2/2019).

Untuk mencurahkan kekesalannya itulah ABG yang akrab disapa Putri tersebut memilih ikut terlibat dalam pemotretan. Putri pun mengaku jalan rusak itu sudah bertahun-tahun tidak diperbaiki.

“Sudah sekitar 4 tahun nggak pernah dibenerin, dari masih sekolah. Selain itu, banyak pengendara jatuh di daerah jalan berlubang dan lumpur yang dalam foto itu,” kata Putri.

Protes para ABG soal jalan rusak di OKU itu mendapat respons dari pemerintah setempat. Pemprov Sumatera Selatan menargetkan perbaikan jalan pada 2019 segera terealisasi dan sudah disiapkan dana Rp 500 miliar.

“Kami telah menyiapkan dana perbaikan infrastruktur Rp 500 miliar, dana ini akan digunakan untuk perbaikan jalan-jalan di 17 kabupaten/kota yang ada di Sumsel,” ujar Gubernur Sumsel Herman Deru saat ditemui di Palembang, Rabu (27/2)

Sementara itu, guna menanggapi jalan rusak di Musi Banyuasin dan Ogan Komering Ulu (OKU) yang ramai diperbincangkan beberapa hari terakhir ini, Herman Deru mengaku telah membagikan anggaran tersebut.
(idh/idh)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Melihat Pose ABG Cewek di Sumsel Jadi Foto Model di Jalan Rusak

Rabu 27 Februari 2019, 12:01 WIB

Foto News

Robby Ari Sanjaya/istimewa – detikNews

Palembang detikNews – Di Batumarta, Ogan Komering Ulu (OKU), Sumsel, anak muda memprotes jalan rusak dengan cara unik. Mereka berpose layak model di jalan rusak yang digenangi air.

Sejumlah ABG cewek di OKU melakukan photo session di jalanan rusak bak kubangan lumpur. Mereka berpose layaknya model majalah untuk memprotes jalan rusak. (Robby Ari Sanjaya-ist)

Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com

Kocak! ABG Cewek di Sumsel Protes Jalan Rusak dengan Berfoto Ala Model

Palembang – Menyampaikan protes pada pemerintah ternyata tak hanya dilakukan dengan kekerasan atau berunjuk rasa. Di Batumarta, Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, anak muda protes jalanan rusak dengan cara unik.

Protes jalan rusak ini dilakukan dengan seni fotografi para anak muda di daerah tersebut. Mereka membentuk kelompok untuk pemotretan dengan cara unik dan pose lucu agar direspons pemerintah.

Ada yang berpose sedang memancing, ada yang berpose romantis dan seolah duduk santai di tepi danau bahkan ada pula yang sampai mandi lumpur.

Mereka berhasil membuat pose konyol tapi di jalanan rusak yang seperti kubangan. Lubang di jalanan yang rusak seolah memberi banyak ide kreatif. Pemotretan sendiri dilakukan seorang fotografer bernama Robby Ari Sanjaya.

“Jalanan itu memang sudah lama rusak. Sudah lama tidak diperbaiki pemerintah setempat. Itu merupakan bentuk protes masyarakat yang sudah kesal karena ini tidak ada perbaikan jalan,” kata seorang warga, Syakirin Edo Lugan saat dimintai konfirmasi detikcom, Rabu (27/2/2019).

Dikatakan Lugan, jalan rusak itu berada tepat di daerah Lubuk Raja dan menjadi akses penghubung masyarakat menuju pusat pemerintahan OKU. Bahkan jalan itu setiap hari dilalui oleh anak sekolah, petani dan masyarakat sekitar.

“Iya salah satu akses utama, petani, anak sekolah semua lewat jalan itu. Itu sangat rawan orang kecelakaan. Terutama pada malam hari jadi rawan kejahatan,” imbuh Lugan.

Sementara itu sang fotografer, Robby Ari Sanjaya menyebut pemotretan dilakukan Minggu (24/2) pagi. Untuk mendapatkan hasil maksimal, dia melibatkan kalangan anak muda yang ‘siap untuk malu’.

“Pemotretan itu sudah dipersiapkan dari jauh hari. Jadi ada empat anak muda di sini yang terlibat dengan berbagai peran serta berpose seperti beraktifitas sehari-hari. Mereka semuanya udah siap malu,” kata Robby.

Aksinya tersebut dilakukan karena kesal melihat kondisi jalan yang rusak dan tak kunjung diperbaiki. Sebagai aksi protes, Robby merencanakan aksinya itu secara matang.

“Sekitar seminggu saya persiapkan ide seperti itu. Ternyata banyak juga yang merespon, kemudian saya seleksi lagi untuk persiapan agar aksi protes sama seni bisa dipadukan dan sampai pada pemangku kebijakan,” katanya.

Kocak! ABG Cewek di Sumsel Protes Jalan Rusak dengan Berfoto Ala Model

ABG di Sumsel protes Jalan Rusak (dok Istimewa-Robby)

Aksinya ini, kata Robby, cukup berhasil karena hasil jepretannya mendapatkan banyak respons dari masyarakat. Tidak jarang warganet ikut membagikan dan menanggapi fotonya yang diposting di media sosial.

“Responsnya banyak, luar biasa. Kadang cara-cara kreatif seperti ini justru cukup menarik perhatian masyarakat. Jadi ini bukan hanya dari pemerintah setempat, tetapi juga nasional dan saya berharap segera ada perbaikan jalan,” tutupnya.
(ras/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Calegnya di Sumbar Hilang, PSI Enggan Berspekulasi

Padang – Calon Legislatif (Caleg) Partai Solidaritas Indonesia (PSI) di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Terima Oktaviana (Tata) hilang secara misterius dalam perjalanan menuju tempat kos di Padang. PSI pun enggan berspekulasi terkait hilangnya Tata.

“Kami tidak ingin berspekulasi apakah ini ada motif politik atau tidak. Karena kami menunggu informasi,” ujar Ketua DPW PSI Sumatera Barat, Ari Prima, saat dihubungi detikcom, Minggu (24/2/2019).

Ari mengatakan hingga saat ini pihak keluarga terus mencari keberadaan caleg dapil II Padang Pariaman itu. Pihaknya pun juga ikut berupaya membantu.

“Sampai tadi sore saya sudah berkomunikasi dengan pihak keluarga belum ada info terbaru,” katanya.
Ari mengungkapkan, sebelumnya para kader PSI tidak bermasalah menghubungi Tata. Namun saat tanggal 2, Tata sudah tidak dapat dikontak.

“Jadi kebetulan, tanggal 3 kami ada acara seluruh Sumbar. Teman-teman (sebelum tanggal 2 juga) sudah berkomunikasi dengan Tata, tapi ternyata tanggal 2 itu sudah nggak aktif lagi,” tuturnya.

Ari berharap calegnya itu dapat segera ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat. PSI juga siap untuk membantu mencari keberadaan Tata maupun melaporkan ke polisi. Mengingat laporan keluarga sebelumnya telah ditolak.

“Informasinya keluarga sudah berkomunikasi dengan Polres Kota Padang tapi informasinya tidak diterima dengan alasan beliau sudah dewasa. Kami berharap kalau ada wewenang dari kami untuk melaporkan, kami siap,” ujarnya.

Sebelumnya, Tata dikabarkan hilang secara misterius dalam perjalanan menuju tempat kos di Padang. Tata hilang sejak Sabtu, 2 Februari, lalu.

“Ia pamit sama saya untuk ke kos barunya di UNP. Itu sekitaran jam 14.30 WIB,” kata Teri, adik Tata, kepada detikcom, Jumat (22/2/2019).
(mae/zap)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Lika-liku Isu Jalan Desa 191 Ribu Km

Jakarta – Isu jalan desa 191 ribu km belum berhenti bergulir sejak debat kedua Pilpres 2019. Mulai dari ucapan Jokowi di debat, dipertanyakan Dahnil, dibalas Jokowi lagi, hingga kembali dijawab Dahnil.

Begini lika-likunya:

1. Jokowi klaim sudah bangun 119 ribu km jalan desa

Capres petahana Joko Widodo (Jokowi) bicara soal penggelontoran dana desa di awal debat yang berlangsung pada Minggu (17/2/2019). Saat itu, Jokowi sedang memaparkan visi dan misinya sesuai tema debat yaitu infrastruktur, energi, pangan, lingkungan hidup, dan sumber daya alam.

“Kita tahu dalam tiga tahun ini telah kita gelontorkan 187 triliun dana desa ke desa desa. Apa yang kita dapatkan dari dana ini? Telah dibangun 191 ribu kilometer jalan di desa. Ini jalan produksi yang sangat bermanfaat bagi para petani dan juga 58 ribu unit irigasi yang telah kita bangun dari dana desa,” kata Jokowi saat debat.

Jokowi saat debat / Jokowi saat debat / Foto: ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

2. Dahnil pertanyakan klaim Jokowi

Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, mempertanyakan klaim yang disampaikan Joko Widodo (Jokowi) saat debat soal 119 ribu km jalan desa sudah dibangun. Dia mengaitkannya dengan diameter bumi.

“Jokowi klaim membangun jalan desa 191.000 km. Ini sama dengan 4,8 kali keliling bumi atau 15 kali diameter bumi. Itu membangunnya kapan? Pakai ilmu simsalabim apa? Ternyata produsen kebohongan sesungguhnya terungkap pada debat malam tadi,” cuit Dahnil di Twitter pada Selasa (19/2/2019) kemarin.

Dahnil Anzar Simanjuntak / Dahnil Anzar Simanjuntak / Foto: Ari Saputra

3. Jokowi balas pertanyaan Dahnil

Pertanyaan Dahnil itu bergulir dengan ragam komentar dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Hingga akhirnya, Jokowi sendiri angkat bicara.

Pada Rabu (20/2/2019), Jokowi memberikan arahan pada Rapat Koordinasi Nasional Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun 2019 di Ecovention Ocean Ecopark Ancol, Jakarta Utara. Dalam arahannya itu, dia bicara soal 191 ribu km jalan desa.

“Kalau, ini kan kita sudah 4 tahun lebih banyak konsen ke infrastruktur. Catatan saya sampai akhir 2018 kemarin telah dibangun 191 ribu km jalan desa. Ada yang tanya nggak mungkin 191 ribu, itu panjang banget. Panjang gimana? Kalau itu dikerjakan 4 tahun untuk 74.900 desa artinya per desa hanya 600 meter,” ujar Jokowi.

Lika-liku Isu Jalan Desa 191 Ribu KmFoto: Jokowi (Andhika/detikcom)

Jokowi menekankan, hasil dari dana desa tidak melulu dibangun jalan. Ada yang dibangun infrastruktur lain seperti PAUD atau irigasi.

“Setiap desa tidak hanya bangun jalan. Ada PAUD, pasar desa, dan lain-lain. Irigasi saja sudah diselesaikan 58 ribu unit irigasi, 8.900 pasar desa. 24.000 pasar desa. 1,1 juta meter jembatan. Artinya ini jadi barang. Kalau ada yang sangsikan 191 ribu km tidak mungkin, ya silakan ukur sendiri,” ucap Jokowi.

“Wong satu desa setahun 600 meter hanya 0.5 Km kira-kira. Pendek banget,” katanya.

4. Dahnil jawab Jokowi

“Itu tugas pemerintah untuk meyakinkan kita,” ujar Dahnil saat dimintai konfirmasi wartawan, Kamis (21/2/2019).

Bagi Dahnil, tugas pemerintah memang meyakinkan masyarakat akan data-data yang dipertanyakan. Jika tak mau, dia menyebut pemimpin terpilih lewat Pilpres 2019–yang mana dia yakin itu adalah Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno–bakal melakukannya.

“Kalau beliau tidak mau meyakinkan publik terkait kebenaran data itu, ya serahkan saja pemerintahan pada Pemilu 2019 nanti secara legal kepada Pak Prabowo, karena meyakinkan publik terkait dengan data dan fakta itu adalah tugas pemerintah, dan saya yakin Pak Prabowo tidak akan pernah jawab keraguan publik dengan cara begitu,” sebut Dahnil.
(imk/imk)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Hap! Jaksa Tangkap Koruptor Marzuki Saat Sedang Beli Makanan

Lampung – Tim gabungan intelejen Kejaksaan Agung (Kejagung) dan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung menangkap Ahmad Marzuki pada Rabu pagi di Tuban, Jawa Timur. Terpidana korupsi itu ditangkap saat sedang membeli makanan.

Ahmad Marzuki masuk dalam DPO sudah berjalan empat tahun lalu atau sejak tahun 2014. Dirinya dinyatakan bersalah telah melakukan tindak pidana korupsi (TPK) atas penjualan produk Uniliver di PT PPI cabang Bandarlampung yang merupakan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Marzuki merupakan tahanan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bandarlampung. Ia dijatuhi selama enam tahun dan denda sebesar Rp 200 juta subsider tiga bulan kurungan penjara.

Terdakwa yang saat menjabat sebagai direktur telah merugikan keuangan negara sebesar Rp 986 juta. Atas perbuatannya, pengadilan memutus agar terpidana membayar denda sesuai dengan kerugian negara sudsider tiga tahun kurungan penjara.
Dalam putusan pengadilan, terpidana dijatuhi dengan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 18 UU Tipikor. Namun saat akan dieksekusi, ia kabur sejak 2014. Jaksa terus melacak keberdaannya dan menangkap di Tuban.

“Terpidana menjual rumah di Jalan Pulau Singkep Karang Sari, Kelurahan Sukarame, Bandarlampung. Dia menjual rumah itu untuk modal kabur,” kata Kasipenkum Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung Ari Wibowo, sebagaimana dilansir Antara, Kamis (21/2/2019).

Ari menjelaskan, Marzuki menjadi buron sejak tahun 2014 dan kemudian bersembunyi di Tuban, Jawa Timur. Uang hasil penjualan rumah tersebut digunakannya untuk modal usaha di sana.

“Dengan modal itu, terpidana membuka usaha menjual mainan anak,” kata dia.
(asp/rvk)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Isu Panas Jalan Desa: Dikaitkan Lingkar Bumi, Disuruh Ukur Sendiri

Isu Panas Jalan Desa: Dikaitkan Lingkar Bumi, Disuruh Ukur Sendiri Joko Widodo (Foto: Andhika Prasetia)

Jakarta – Isu 119 ribu km jalan desa yang terangkat usai debat kedua Pilpres 2019 masih panas dibahas. Setelah dikaitkan dengan diameter bumi, kini pihak yang sangsi diminta untuk mengukur sendiri.

Awalnya, Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak, mempertanyakan klaim yang disampaikan Joko Widodo (Jokowi) saat debat soal 119 ribu km jalan desa sudah dibangun. Dia mengaitkannya dengan diameter bumi.

“Jokowi klaim membangun jalan desa 191.000 km. Ini sama dengan 4,8 kali keliling bumi atau 15 kali diameter bumi. Itu membangunnya kapan? Pakai ilmu simsalabim apa? Ternyata produsen kebohongan sesungguhnya terungkap pada debat malam tadi,” cuit Dahnil di Twitter pada Selasa (19/2/2019) kemarin.

Dahnil Anzar Simanjuntak / Dahnil Anzar Simanjuntak / Foto: Ari Saputra

Pertanyaan Dahnil itu bergulir dengan ragam komentar dari Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga. Hingga akhirnya, Jokowi sendiri angkat bicara.

Pada Rabu (20/2/2019), Jokowi memberikan arahan pada Rapat Koordinasi Nasional Penyelenggaraan Pemerintahan Desa Tahun 2019 di Ecovention Ocean Ecopark Ancol, Jakarta Utara. Dalam arahannya itu, dia bicara soal 191 ribu km jalan desa.

“Kalau, ini kan kita sudah 4 tahun lebih banyak konsen ke infrastruktur. Catatan saya sampai akhir 2018 kemarin telah dibangun 191 ribu km jalan desa. Ada yang tanya nggak mungkin 191 ribu, itu panjang banget. Panjang gimana? Kalau itu dikerjakan 4 tahun untuk 74.900 desa artinya per desa hanya 600 meter,” ujar Jokowi.

Isu Panas Jalan Desa: Dikaitkan Lingkar Bumi, Disuruh Ukur SendiriFoto: Jokowi (Andhika/detikcom)

Jokowi menekankan, hasil dari dana desa tidak melulu dibangun jalan. Ada yang dibangun infrastruktur lain seperti PAUD atau irigasi.

“Setiap desa tidak hanya bangun jalan. Ada PAUD, pasar desa, dan lain-lain. Irigasi saja sudah diselesaikan 58 ribu unit irigasi, 8.900 pasar desa. 24.000 pasar desa. 1,1 juta meter jembatan. Artinya ini jadi barang. Kalau ada yang sangsikan 191 ribu km tidak mungkin, ya silakan ukur sendiri,” ucap Jokowi.

“Wong satu desa setahun 600 meter hanya 0.5 Km kira-kira. Pendek banget,” katanya.
(imk/gbr)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

NU Bersyarat Ala Ahmad Dhani

Jakarta – Ahmad Dhani menulis surat tentang Nahdlatul Ulama (NU). Lewat surat itu, Dhani menegaskan dirinya merupakan bagian dari ‘NU Gusdurian’.

Surat itu dia tulis di Rutan Klas 1 Surabaya sebagai sebagai Pondok Pesantren Medaeng. Surat kemudian dibagikan menjelang sidang lanjutan kasus pencemaran nama baik atau kasus ‘idiot’ di Pengadilan Negeri Surabaya, Selasa (19/2/2019).

NU yang diikuti Dhani adalah NU yang bukan Islam Nusantara. Dhani juga menyebut dirinya bukan bagian dari NU yang mendukung Joko Widodo.
“Saya NU pengikut Hadratussyekh Hasyim Asy’ari,” demikian petikan tulisan Dhani.

NU Bersyarat Ala Ahmad DhaniFoto: Deny Prastyo Utomo

Bagi Dhani, NU juga bukanlah orang yang menganggap kelompoknya paling benar. Dia menegaskan sejak dulu merupakan pengikut ‘NU Gusdurian’.

Berikut tulisan lengkap Dhani tentang NU:

Jika NU adalah…
1. ISLAM NUSANTARA
Saya bukan bagian dari ini
2. Harus Jadi PENDUKUNG JOKOWI
Apalagi ini, saya pasti bukan bagian dari ini
3. MEREKA YANG MENGANGGAP KELOMPOKNYA YANG PALING BENAR
Obviously Not My Kinda Gruoup
4. MEREKA YANG TIDAK BELAJAR DARI MASA LALU
Apalagi ini, jelas bukan golongan saya

MAKA SAYA BUKAN “NU” JENIS INI
Saya NU pengikut Hadratussyekh Hasyim Asy’ari

Saya NU GUSDURIAN
100 % Islamnya Gus Dur
Dari dulu hingga sekarang.
Ahmad Dhani, Pondok Pesantren Medaeng, 19-02-19

Sebelum tulisan tersebut dibuat, putra Pengasuh Ponpes KH Wahab Hasbulloh Tambak Beras, Jombang, Kiai Wahib Wahab atau Gus Aam menemui Dhani selepas sidang lanjutan kasus ‘idiot’ di Pengadilan Negeri Surabaya, Kamis (14/2). Gus Aam memberikan serban putih kepada pentolan grup musik Dewa 19 itu.

Gus Aam juga memberikan kesaksiaAnnya tentang sosok Dhani. Menurut dia, Dhani merupakan warga NU.

“Beliau ini orang Surabaya. Beliau juga Nahdlatul Ulama, warga Nahdlatul Ulama,” kata Gus Aam.

Namun pernyataan itu seolah dibantah oleh Ketum PBNU Said Aqil Siradj. Said mengatakan Dhani bukan anggota NU sebab sudah menghina organisasi yang didirikan oleh Hasyim Asy’ari itu.

“Sudah menghina NU, bukan warga NU dong,” kata Said kepada wartawan di sela Rakornas ke-IV NU Care-Lazisnu di Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jumat (15/2).

Dhani dianggap menghina warga NU karena sudah mengaitkan NU dengan Nasakom. Padahal, menurut Said, Dhani pernah dibela Gus Dur dan PBNU pada 2005 silam.

“Nyatakan soal nasakom, NU dan PDIP itu,” jelasnya.

Said pun menegaskan pihaknya enggan kembali merangkul Dhani. Bagi Said, warga NU sudah sangat kecewa terhadap Dhani karena secara terang-terangan menghina NU.

“Biarin aja, nggak usah dimasukin (beri masukan dan nasihat). Nanti kualat, kualat sendiri,” kata Said.

(knv/idh)



<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>