Di Mojokerto, Prabowo Dapat Masukan dari Aliansi Ulama dan Cendekiawan

Mojokerto – Selama 2 jam lebih di Pondok Pesantren (PP) Riyadlul Jannah, Mojokerto, Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto ternyata berdiskusi dengan aliansi ulama dan cendekiawan. Para ulama dan kaum intelektual pun memberikan sejumlah amanah kepada Capres nomor urut 2 tersebut. Apa saja?

Pertemuan antara Prabowo dengan dengan para ulama dan cendekiawan di kantor pusat PP Riyadlul Jannah, Kecamatan Pacet berlangsung pukul 20.00-22.16 WIB. Selama dua jam lebih, Ketum Partai Gerindra itu berdiskusi dengan Aliansi Ulama Madura, Aliansi Ulama Tapal Kuda, Aliansi Profesor dan Rektorat, Dzuriah NU, serta habaib dari seluruh Indonesia.

Sayangnya, Prabowo enggan memberikan waktu kepada wartawan untuk mewawancarainya. Dari kediaman Pengasuh PP Riyadlul Jannah, Prabowo bergegas masuk ke dalam mobilnya.

Humas PP Riyadlul Jannah sekaligus Ketua Panitia Penyambutan Prabowo, Muhammad Yusuf Misbah mengatakan, dalam pertemuan kali ini, Prabowo banyak mendapat masukan dari para ulama dan cendekiawan. Salah satunya Prabowo diharapkan mampu mengharmoniskan perbedaan yang ada di Bangsa Indonesia jika terpilih sebagai Presiden pada Pilpres 2019.

“Karena saat ini sangat terasa adanya pengkotak-kotakan, khususnya dalam kita beragama. Kemudian kotak mengkotak antar suku bangsa. Ini yang tidak diinginkan. Persatuan dan kesatuan Republik Indonesia yang paling utama,” kata Yusuf kepada wartawan di lokasi, Sabtu (23/2/2019), malam.

Selain diamanahi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, lanjut Yusuf, Prabowo juga diminta untuk membuktikan kecintaannya terhadap para ulama. Hal itu untuk menampik tudingan yang selama ini mengarah ke Prabowo, yaitu tidak suka dengan ulama.

“Insyaallah Pak Prabowo juga sudah komitmen nanti jika diamanahi menjadi pemimpin, beliau tidak akan meninggalkan ulama. Bahkan beliau akan terus datang bersilaturahmi di tempatnya para ulama,” terangnya.

(rvk/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Pameran Lukisan Karya Anak Jalanan Hiasi Atrium Plaza Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Anak-anak jalanan pun mampu menghasilkan karya seni yang indah dan layak untuk dipamerkan. Hasil karya seni mereka berupa lukisan dipamerkan dalam pameran karya seni bertajuk Krayon Kami Karya Kami di Atrium Plaza Indonesia, Jakarta Pusat. Pameran tersebut diadakan pada 23 Februari 2019 hingga 3 Maret 2019.

Pameran tersebut digagas oleh Kelas Gambar yang berkolaborasi dengan Rumah Faye. Sepuluh anak yang tinggal di Kampung Melayu, Jakarta Timur memamerkan 43 karya mereka yang dilukis dengan krayon.

Anak-anak tersebut berasal dari kondisi yang kurang sejahtera. Usia mereka masih berkisar antara 6-12 tahun, namun mereka sudah mengecap kerasnya kehidupan. Mereka tinggal di kolong jembatan Casablanca sebab profesi orang tua mereka adalah pemulung di pemukiman tersebut. 

Galih Wismoyo Sakti, pendiri Kelas Gambar justru melihat bahwa anak-anak tersebut mampu berkarya di bidang seni. Bekerja sama dengan Faye Simanjuntak, pendiri Rumah Faye, ia menggandeng anak-anak di pemukiman Kampung Melayu untuk melukis dengan krayon untuk kemudian dipamerkan di pameran seni.

“Kelas Gambar ini merupakan komunitas yang memberikan kelas seni gratis kepada anak-anak kurang sejahtera di seluruh Indonesia,” jelas Galih dalam acara pembukaan pameran tersebut Sabtu (23/2/2019) ini. Galih ingin memperlihatkan bahwa menggambar bisa menjadi bentuk ekspresi anak-anak pemukiman tersebut.

Pembelajaran di Kelas Gambar selalu mementingkan proses dalam melukis. “Melalui Kelas Gambar ini, anak-anak terbuka pikirannya terhadap pentingnya eksplorasi ketika melukis,” ungkap Galih. Tak hanya itu, anak juga diajarkan untuk tidak mudah menyerah dan tidak takut salah.

Faye juga berpendapat bahwa anak-anak seperti mereka juga harus dijaga kesejahteraannya. “Kita sebagai anak-anak muda pun harus berani berkontribusi dan memberikan apa yang bisa kita berikan kepada mereka,” pungkas gadis berusia 16 tahun itu.

Pameran Krayon Kami Karya Kami ini tidak hanya menampilkan seni lukisan, tapi juga menghadirkan workshop di bidang seni. “Nanti kita akan mengadakan workshop mengenai art therapy dari Vindy Ariella, pendiri Bipolar Care Indonesia,” terang Galih. Tak cukup sampai di situ, pameran ini juga mengadakan workshop menggambar dari Citra Marina, salah satu ilustrator berbakat di Indonesia.

Pameran ini pun menjadi ajang untuk menggalang dana melalui penjualan lukisan dan kegiatan workshop. Seluruh keuntungan dari semua kegiatan tersebut akan didonasikan kepada keluarga anak-anak di Kampung Melayu.

Rumah Faye dan Kelas Gambar pun menyimpan harapan atas terselenggaranya pameran ini. Mereka berharap bisa memberdayakan anak-anak di Kampung Melayu melalui kegiatan berkarya di bidang seni. Virus seni pun akan semakin tertular dan lebih dikenal oleh keluarga Indonesia yang belum sejahtera. (Esther Novita Inochi)

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Bertemu Ulama di Riau, Panglima TNI Minta Dukungan Perangi Hoaks

Liputan6.com, Jakarta – Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto menyambangi Pondok Pesantren Nurul Huda Al Islami di Marpoyan Damai Kota Pekanbaru, Riau. Dalam kunjungannya itu, Panglima bertemu dengan puluhan ulama di Riau.

Dihadapan para ulama, Hadi meminta dukungan agar bersama memerangi hoaks, atau berita bohong yang pengaruhnya cukup besar di masyarakat.

“Karena hoaks bisa mengakibatkan hal buruk bagi generasi saat ini dan yang akan datang,” ucap Hadi dalam pertemuan yang berlangsung Sabtu (23/2/2019).

Selain itu, dia juga mengajak para ulama untuk menyukseskan pemilu legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) pada April 2019 mendatang. Pilpres yang damai, menurutnya dapat menjadikan masyarakat memilih sesuai hati nuraninya dan pemilu bisa terlaksana dengan aman dan damai.

“Kalau ada masalah yang timbul akibat pemilu dan kita menjadi tidak bersatu itu yang akan ditunggu oleh mereka yang mengincar kekayaan alam indonesia,” ucap Hadi.

Dalam kunjungannya itu, Panglima TNI disambut oleh KH Maksudi Jamsari yang juga merupakan Ketua Forum Ulama Riau dan KH. Ahmad Syuhada Ketua Majelis Dzikir Hubbul Wathon Provinsi Riau.

Pada Kunjungan kali ini Panglima TNI didampingi oleh Aster Panglima TNI Mayjen TNI George Elnadus Supit, Pangkoopsau I Marsekal Muda TNI Fadjar Prasetyo, Pangdam Bukit Barisan Mayjen TNI Sabrar Fadhilah, Danrem 031/Wirabima Brigjen Muhammad Fadjar.

Turut hadir dalam acara tersebut Gubernur Riau Syamsuar dan Wakil Gubernur Edi Natar Nasution.

 

2 dari 2 halaman

Apresiasi dari Ulama

Sementara itu KH. Ahmad syuhada’ yang merupakan perwakilan ulama yang hadir mengapreasiasi panglima TNI yang bersilaturahmi ke pondok pesantren dan kiai-kiai. Selain itu dia juga berpesan bahwa persatuan itu sebuah nikmat, maka sudah menjadi kewajiban kita untuk menjaga kebhinekaan.

“Mari kita rawat amanah nikmat persaudaraan, nikmat perbedaan, dan nikmat kebhinekaan ini,” tambahnya.

Hery Haryanto Azumi Sekjen MDHW yang ikut mendampingi Panglima TNI mengapresiasi silaturahmi ini. Apa yang dilakukan Panglima bertemu dengan para ulama menjadi sejarah dan patut diapresiasi. 

Menurutnya silaturahmi antara ulama dan umaro bisa menjadi solusi atas berbagai permasalahan. Baik permasalahan di daerah atau di nasional.

“Ini menjadi sejarah baru seorang panglima TNI senang bersilaturahmi dengan dunia pesantren dan ulama,” katanya.

Acara yang diinisiasi oleh Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) ini selain silaturahmi juga dalam rangka membangun komunikasi dan interaksi yang positif antara TNI dengan berbagai elemen masyarakat. 

Terutama relasi TNI dengan kalangan Ulama dan Pondok Pesantren. Untuk semakin menguatkan komitmen terhadap NKRI dan Islam Kebangsaan. 

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

  

Samawi Soal Puisi Neno Warisman: Pilpres Bukan Perang Badar!

Jakarta – Sekjen Solidaritas Ulama Muda Jokowi (Samawi) Aminuddin Maruf menilai puisi yang dibacakan Neno Warisman di acara Munajat 212 di Monas secara tidak langsung menganggap bahwa para alim ulama, habaib dan pendukung Jokowi adalah orang musyrik. Sebab ia menilai Neno Warisman keliru mengibaratkan dengan perang badar.

“Ya puisi yang dibacakan Neno Warisman itu kan doa yang nabi Muhammad panjatkan saat perang badar antara islam dengan orang musyrik,” ujar Aminuddin dalam keterangan pada Sabtu (23/2/2019).

Amin menilai situasi politik pilpres 2019 tidak bisa disamakan dengan perang badar pada masa nabi muhammad SAW. Karena Pilpres semua kontestannya semuanya beragama islam.


“Ya konteksnya doa nabi tersebut dalam perang badar yaitu perang antara pasukan muslim melawan pasukan musyrik yang jumlahnya 3 kali lebih banyak. Jadi konteksnya sangat berbeda jauh dengan Pilpres,”ungkapnya.

Amin yang juga sekretaris direktorat penggalangan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf ini menilai kelompok pendukung pasangan Prabowo-Sandi selalu menyamakan konteks politik Pilpres sama dengan perang badar pada zaman nabi.

“Pendukung pasangan Prabowo-Sandi sudah mulai kehabisan akal untuk menemukan strategi. Sehingga segala cara dipakai, dan salah satunya dengan doa Neno Warisman tersebut menuduh para kiai, ulama dan pendukung pasangan 01 bukanlah orang muslim,” ujar Amin.

Sebelumnya, Wakil Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Neno Warisman, membacakan ‘Puisi Munajat 212’. Potongan video saat Neno membacakan puisi itu ramai dibagikan di media sosial.

Berikut ini isi potongan puisi dari video yang beredar:

jangan, jangan Engkau tinggalkan kami
dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah sebelumnya mengatakan video yang tersebar di media sosial itu sebagai potongan doa. Fahri menilai doa itu tidak menyebutkan siapa pihak yang didoakan untuk menang. Ia menyebut doa sebagai senjata dan rintihan hati. Sementara itu, peserta Munajat 212 mengamini apa yang didoakan Neno Warisman

“Setahu saya, dia nggak sebut nama Prabowo. Kan nggak bisa diperjelas. Namanya doa, itu private pada dasarnya,” kata Fahri saat dihubungi, Jumat (22/2).
(yld/rvk)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bawaslu Jateng Rekomendasikan Sanksi untuk 35 Kepala Daerah

Liputan6.com, Semarang – Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Provinsi Jawa Tengah merekomendasikan pemberian sanksi kepada 35 kepala daerah yang mengikuti deklarasi dukungan pasangan calon presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Bawaslu menilai, hal itu melanggar Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Kami merekomendasikan Kementerian Dalam Negeri agar memberikan sanksi kepada 35 kepala daerah di Provinsi Jateng, termasuk Gubernur Ganjar Pranowo,” kata Koordinator Divisi Penindakan Pelanggaran Bawaslu Jateng Sri Wahyu Ananingsih di Semarang, Sabtu (23/2/2019).

Ia menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi, klarifikasi, pengumpulan data dan bukti, serta keterangan para saksi, Bawaslu Jateng tidak menemukan pelanggaran administrasi sebagai kepala daerah, namun dukungan yang mengatasnamakan kepala daerah se-Jateng menjadi pelanggaran etika.

Jabatan kepala daerah, kata dia, adalah unsur penyelenggara pemerintahan daerah dan oleh karena itu sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah nama jabatan kepala daerah seharusnya hanya digunakan untuk kepentingan penyelenggaraan pemerintahan daerah semata, serta tidak untuk kepentingan politik salah satu golongan atau kelompok.

“Para kepala daerah yang menjadi terlapor itu memiliki sikap politik yang pada dasarnya merupakan hak pribadi, tapi karena jabatan kepala daerah itu melekat dalam dirinya, maka tidak sepatutnya jika sikap politik tersebut disampaikan ke publik dan dilakukan secara bersama-sama,” ujar Sri Wahyu.

Selain itu, pernyataan dukungan kepada salah satu pasangan calon presiden, menurut Bawaslu merupakan tindakan yang mengandung unsur keberpihakan kepada salah satu kandidat sehingga melanggar sebagai kepala daerah untuk memenuhi kewajiban yang sebaik-baiknya dan seadil adilnya sebagaimana sumpah/janji sebagai kepala daerah.

“Pertemuan kepala daerah se-Jateng itu juga terbukti sebagai bentuk kampanye, dibuktikan surat adanya surat tanda terima pemberitahuan (STTP) yang dikeluarkan oleh Polda Jateng untuk kegiatan tersebut,” tutur Sri Wahyu Ananingsih seperti dikutip Antara.

2 dari 3 halaman

35 Kepala Daerah

Berikut nama-nama kepala daerah se-Jateng yang direkomendasikan Bawaslu Jateng mendapat sanksi dari Kemendagri, yaitu Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah), Muhammad Tamzil (Bupati Kudus), Yuli Hastuti (Wakil Bupati Purworejo), Suyono (Wakil Bupati Batang), Wihaji (Bupati Batang), Martono (Wakil Bupati Pemalang), Junaedi (Bupati Pemalang).

Kemudian Dyah Hayuning Pratiwi (Plt.Bupati Purbalingga), Zaenal Arifin (Bupati Kabupaten Magelang), Sumarni (Bupati Grobogan), Narjo (Wakil Bupati Brebes), Sadewo Tri Listiono (Wakil Bupati Banyumas), Ahmad Husein (Bupati Banyumas), FX.Hadi Rudyatmo (Wali Kota Surakarta), Sabilillah Ardie (Wakil Bupati Kabupaten Tegal).

Berikutnya, Umi Azizah (Bupati Kabupaten Tegal), Munjirin (Bupati Kabupaten Semarang), Ngesti Nugraha (Wakil Bupati Kabupaten Semarang), Windarti Agustina (Wakil Wali Kota Magelang), Arini Harimurti (Wakil Bupati Kabupaten Pekalongan).

Selanjutnya, Mudasir (Bupati Kabupaten Pekalongan), Joko Sutopo (Bupati Wonogiri), Tatto Suwarto Pamuji (Bupati Cilacap), Saiful Arifin (Wakil Bupati Pati), Haryanto (Bupati Pati), Sri Mulyani (Bupati Klaten), Yuliatmono (Bupati Karanganyar), Rober Cristanto (Wakil Bupati Karanganyar), HM Natsir (Bupati Demak), Joko Sutanto (Wakil Bupati Demak), Purwadi (Wakil Bupati Sukoharjo), Hevearita Gunaryati Rahayu (Wakil Wali Kota Semarang), Yazid Mahfudz (Bupati Kebumen), Eko Purnomo (Bupati Wonosobo), serta Agus Subagiyo (Wakil Bupati Wonosobo).

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Muatan Sakral Tari Guel Aceh dan Arti Mimpi Menaklukkan Hati Sang Gajah Putih

Liputan6.com, Aceh – “Tem o item…m Engingku ine…e,” syair pembuka terdengar begitu syahdu. Seorang penari keluar dari arah kiri, menuju ke tengah dengan kaki berjinjit.

Tubuh penari tampak membungkuk, bahunya maju mundur, lengan timbul tenggelam dalam lipatan kain bersulam kerawang Gayo yang menutupi punggung. Gerakannya rampak seirama tabuhan rebana.

Pada satu titik penari mengempas dan mengibaskan kain ke udara seperti orang memutar adonan pizza. Terkadang penari berlari kecil sambil menukik bak seekor elang yang tengah bermanuver di udara.

Penari bergerak mendekat, mengitari, lalu memberi sembah. Kiranya dia hendak merayu seorang penari lain yang tengah duduk bersimpuh agar mengikuti gerakannya, lalu keduanya bergerak bersamaan, padu padan dalam hentak estetis berirama.

Gerakan-gerakan di atas adalah gerakan tari guel. Tarian ini merupakan tarian tradisional yang berasal dari Tanah Gayo, dan dapat kita temukan di Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues.

Tari guel dulu adalah tarian yang sakral. Pagelaran tari guel tidak boleh sembarang tempat, panggung atau pentas, karena kesakralannya.

Namun, penampilan tari guel saat ini sangat mudah ditemukan pada acara-acara formal seperti menyambut tamu agung, hingga pernikahan. Tari guel mengalami modifikasi atau penambahan-penambahan, baik gerak, syair, hingga jumlah penari, seiring perkembangannya.

Syair yang mengiringi tabuhan rebana serta gerak yang menyepadan, melahirkan nuansa magis yang begitu kental. Tari guel menggubah sebuah gerak filosofi yang berkait erat dengan alam kehidupan.

Adat dan budaya Gayo melekat di dalamnya. Agama adalah pendulum yang membuat guel tak bisa terpisah dari hal satu ini, sebagaimana guel bermula dari salam, begitu pun para penari sadar akan sifat manusia yang berpantang angkuh; berserah seluruh.

Penjiwaan penari guel tentang etik kehidupan tertinggi itu mengaktual dalam gerak simbolik yang mereka tampilkan. Maka, sebenarnya tidak sembarang orang boleh menarikan guel, karena, mereka yang berhati bersih dan berjiwa tulus saja yang layak.

2 dari 2 halaman

Cerita Rakyat di Balik Tari Guel

Tari guel berkait erat dengan foklor atau cerita rakyat ‘Sengeda dan Bener Merie’. Mimpi Sengeda membawanya pada sebuah pertemuan dengan seekor gajah putih, yang konon adalah jelmaan abangnya, Bener Merie.

Skema Sengeda menaklukkan hati Sang gajah putih yang akhirnya berbalas menjadi puncak tarian ini. Guel berakhir saat gajah putih bersedia mengikuti Sengeda ke Kesultanan Aceh Darussalam sebagai persembahan untuk putri sultan yang tengah mengidam-idamkanya.

Seluruh penduduk kampung yang terlalui rombongan menepungtawari gajah putih sebagai wujud rasa syukur dan gembira. Belakangan, prosesi tepung tawar tampil dalam gerak cincang nangka, yang pelakunya adalah penari guel perempuan.

Struktur Tari Guel

Tari guel terbagi dalam 4 babak. Munatap menjadi awal babak, menggambarkan bentuk persuasi Sengeda yang hendak menaklukkan hati gajah putih, lalu berlanjut ke babak redep yang menggambarkan kesediaan gajah putih menuruti keinginan Sengeda.

Ketibung dan cincang nangka menjadi dua babak pengakhiran. Dua babak yang menggambarkan semakin kuatnya keinginan gajah putih mengikuti Sengeda, hingga akhirnya Sengeda berhasil menggiring gajah putih ke Kesultanan Aceh Darussalam.

“Drama antara Sengeda dan gajah putih yang hadir dalam tari guel, sejatinya pesan, manusia bisa hidup saling berdampingan dan harmonis dengan alam, layaknya Sengeda menaklukkan hati gajah putih yang lalu berjalan beriringan. Asal, tak ada tendesi menghancurkan seperti kebiasaan manusia, saat ini,” kata seorang penikmat budaya Gayo asal Meulaboh, S. Yadi Machmad (30), kepada Liputan6.com, Sabtu pagi (23/2/2019).

Saksikan video pilihan berikut ini:

Polisi: Tak Ada Korban Tewas Dalam Insiden Kebakaran Kapal di Muara Baru

Liputan6.com, Jakarta – Kapolres Pelabuhan Tanjung Priok AKBP Reynold EP Hutagalung memastikan tidak ada korban jiwa pada kebakaran yang menghanguskan belasan kapal di Pelabuhan Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Sabtu, 23 Februari 2019. 

“Korban jiwa tidak ada, karena kami bersama stake holder terkait menjaga agar tetap aman baik untuk pekerja maupun pabrik,” ucap Reynold di lokasi kebakaran. 

Namun, Reynold menyampaikan terdapat dua orang menderita sesak napas karena menghirup asap yang terbawa angin dari lokasi kebakaran. Keduanya, hingga kini telah menjalani perawatan di Rumah Sakit.

“Itu kami imbau. Tadi ada yang mendekat, karena asap yang begitu pekat ada yang menderita sesak napas. Tapi bukan dari kebakaran atau berada di atas kapal,” Reynold menegaskan.

Dia juga meminta kepada warga untuk menjauh dari lokasi kebakaran.

“Kami juga mengimbau warga di sekitar lokasi untuk bergeser agar dapat dilakukan pemadaman segera. Insyaallah api dapat segera dipadamkan,” ucap Reynold seperti dilansir dari Antara. 

 

2 dari 2 halaman

Karena Korsleting Listrik

Reynold menyebutkan dugaan sementara penyebab kebakaran akibat korsleting yang dipicu oleh aktivitas pengelasan di Kapal Motor (KM) Arta Minajaya. Saat ini, polisi juga telah memeriksa enam orang saksi terkait peristiwa kebakaran tersebut.

Mengenai taksiran kerugian materil akibat kebakaran tersebut, Reynold mengatakan belum bisa memberikan angka pasti karena belum bertemu dengan pemilik kapal.

“Belum ditaksir. Karena pemiliknya belum ada,” ujarnya.

Hingga jelang dini hari,upaya pemadaman masih berlangsung. Sementara itu, jumlah kapal yang terbakar dilaporkan mencapai 18 unit. Sebanyak 23 unit kendaraan pemadam kebakaran telah dikerahkan di lokasi kebakaran. 

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

 

Novel Bamukmin Tepis Tuduhan Tak Mau Mundur dari Caleg PBB karena Rugi

Jakarta – Novel Bamukmin membantah Sekjen Partai Bulan Bintang (PBB) Afriansyah Ferry Noer yang mengatakan Bamukmin masih berstatus sebagai caleg dan rugi jika mundur dari pencalegan PBB. Menurut Novel hal itu sangat tidak berdasar.

“Sampai saat ini sudah jelas dari semenjak Rakornas PBB tanggal 27 Januari 2019 yang telah memutuskan bahwa DPP PBB mendukung 01 maka hari itu juga saya sudah resmi secara lisan berikrar bahwa saya bukan caleg dari PBB lagi,” ungkap Novel kepada detikcom, Sabtu (23/2/2019).

Novel mengaku belum mengundurkan diri secara administrasi, ia baru menyatakan secara lisan. Novel mengaku baru akan mengurus pengunduran diri sebagai caleg usai pemilu.
“Adapun secara adminitrasi memang saya belum mengundurkan diri dari pencalegan karena menghindarkan spekulasi antara kena sanksi atau tidak dari KPU dan secara adminitrasi saya akan urus pengunduran resmi secara tertulis dari caleg PBB setelah selesai pemilu,” ungkapnya.
Sebelumnya Sekjen Partai Bulan Bintang (PBB) Afriansyah Ferry Noer mengatakan hingga kini Novel Bamukmin masih berstatus sebagai caleg. Kepada Ferry, Novel mengaku rugi jika mundur dari pencalegan PBB.

“Yang jelas sampai sekarang Novel masih tetap caleg PBB. Belum mengundurkan diri atau membuat surat pemunduran diri belum ada. Dan dia sendiri kemarin saya minta mundur dia bilang, ‘Rugi, Bang, kalau saya mundur’,” kata Ferry di Rumah Aspirasi, Jl Proklamasi, Menteng, Jakpus, Sabtu (23/2/2019).

Dia pun meminta Novel serius membesarkan PBB. Menurut Ferry, saat ini Novel sudah bisa menerima keputusan PBB yang mendukung Joko Widodo-Ma’ruf Amin di Pilpres 2019.
(yld/yld)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

5 Cerita Kirana Larasati yang Pakai Topi Unicorn

JakartaKirana Larasati mengunggah foto di Instagram-nya sedang memakai topi unicorn. Ada beberapa cerita tentang Kirana. Apa saja?

Kirana lahir di Jakarta, pada 29 Agustus 1987. Dia merupakan aktris Indonesia.

Berikut cerita Kirana Larasati.

1. Bintang Sinetron

Keterlibatan Kirana dalam dunia sinetron berawal dari ketidaksengajaan saat memenangkan acara untuk promosi film Eiffel I’m in Love yang diselenggarakan sebuah stasiun radio. Hadiahnya adalah makan malam bersama Samuel Rizal dan Shandy Aulia.

Kemudian Kirana ditawari untuk mengikuti casting sebuah sinetron oleh Dewi Yulia Razif, casting director PT Soraya Intercine Film. Setelah casting itu, karier Kirana makin bersinar.

Sinetron yang melambungkan nama Kirana adalah Azizah yang ditayangkan stasiun televisi swasta pada tahun 2007. Sinetron lain yang pernah dibintanginya antara lain Aku Bukan Untukmu, Benci Bilang Cinta, Kakak Iparku 17 Tahun, Pasangan Heboh, Habibi dan Habibah.

2. Pemain Film

Selain sinetron, Kirana juga bermain film. Beberapa film yang dibintanginya antara lain D’Girlz Begins (2006), Claudia/Jasmine, Gotcha, dan Perempuan Punya Cerita (2008).

3. Kehidupan pribadi

Kirana Larasati menikah dengan Tama Gandjar pada 9 Mei 2015. Dari pernikahan itu keduanya dikaruniai seorang anak bernama Kyo Karura Gantama.

Namun pernikahan itu kandas dan Kirana serta Tama resmi bercerai pada 13 Juli 2017. Hak asuh anak jatuh ke tangan Kirana.

4. Caleg PDIP

Kirana saat ini terdaftar sebagai caleg PDIP. Dia caleg dari Dapil Jabar I (Kota Bandung dan Kota Cimahi).

5. Unggah Foto Pakai Topi Unicorn

Terbaru, Kirana Larasati mengunggah fotonya saat memakai topi unicorn. Istilah unicorn mencuat setelah Debat Capres Putaran Kedua pada Minggu (17/2/2019). Pada Debat itu, Capres nomor 1, Joko Widodo bertanya kepada Capres nomor 2 Prabowo Subianto soal kebijakan untuk pengembangan unicorn Indonesia. Nah di Instagram-nya Kirana memakai topi Unicorn sambil duduk di sebuah kursi. Dia mendapat 7.446 like untuk postingannya itu. Namun kolom komentarnya ditutup.
(nwy/ken)

Photo Gallery

1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14

Melestarikan Kentongan, Alarm Ampuh untuk Desa-Desa Rawan Bencana

Liputan6.com, Banjarnegara – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, Jawa Tengah, meminta masyarakat di wilayah setempat untuk memanfaatkan alat komunikasi tradisional kentongan sebagai alat peringatan dini bencana.

“Masyarakat agar memanfaatkan kentongan terutama mereka yang tinggal di lokasi rawan bencana tanah longsor,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Banjarnegara Arief Rahman di Banjarnegara, Sabtu (23/2/2019).

Dia menyatakan hal tersebut mengingat sebagian wilayah di Kabupaten Banjarnegara merupakan daerah rawan longsor terutama saat curah hujan sedang tinggi.

Dia menambahkan, kentongan merupakan kearifan lokal yang patut dijaga karena efektif digunakan di wilayah perdesaan. “Kentongan adalah kearifan lokal yang perlu terus dilestarikan karena cukup efektif menjadi peringatan dini bencana di desa-desa,” katanya dilansir Antara.

Dia mengatakan sebagian desa di Banjarnegara sudah lama menggunakan kentongan sebagai sarana komunikasi. “Bukan cuma untuk penanda terjadinya bencana bisa juga untuk pencurian, kebakaran, dan lain sebagainya, namun penggunaan kentongan perlu lebih diintensifkan lagi,” katanya.

Dosen Mitigasi Bencana Geologi, Jurusan Teknik Geologi Universitas Jenderal Soedirman Indra Permanajati mengingatkan pentingnya memanfaatkan kentongan sebagai sarana komunikasi peringatan dini bencana bagi masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah rawan bencana.

“Kentongan atau alat-alat tradisi lokal yang dapat dimanfaatkan sebagai salah satu strategi mitigasi bencana berbasis kearifan lokal,” katanya.

Indra menjelaskan salah satu strategi dalam mitigasi bencana alam adalah percepatan informasi bencana.

“Seringkali mitigasi bencana kurang optimal karena kurangnya komunikasi yang baik. Hal ini bisa terjadi jika disuatu daerah rawan bencana tidak ada alat yang mendeteksi bahaya atau sudah ada alatnya namun bencananya tidak terdeteksi karena merupakan bencana yang tidak terduga penyebabnya,” katanya.

Dia menambahkan, bunyi kentongan bisa dibedakan dari nada suaranya untuk memperjelas kondisi yang sedang dihadapi, seperti ancaman longsor. “Bahkan jika perlu nada suara kentongan masing-masing kondisi dapat diseragamkan secara nasional,” katanya.

Saksikan video pilihan berikut ini: