Antara Hantu Kojek, Hoaks, dan Konflik Aceh

“Tapi, dalam wujud kasat mata, sampai dengan hari ini, teror hantu kojek di Kabupaten Bireuen tidak pernah terungkap,” demikian testimoni Rizki, yang kini adalah mahasiswa semester akhir jurusan Ilmu Politik, di salah satu kampus di Bireuen.

Rizki mengatakan, kendati teror hantu Kojek menyebar cepat, bak T-Virus yang menyerang satu kota dalam film ‘Resident Evil’, namun kebenarannya hingga saat ini masih diragukan.

Rizki menceritakan, ketika itu kabarnya, ada sekelompok pemuda di salah satu desa di Kecamatan Jangka yang mengaku melihat hantu Kojek. Kedatangan hantu itu sampai membuat bubung rumah terbuka dengan sendirinya. Namun, usut punya usut, semua pemuda itu, ternyata mabuk dan positif menggunakan narkotika.

Teror hantu kojek sudah beredar pada masa Aceh masih didera konflik. Di awal tahun 90an, teror hantu itu hadir beriringan dengan teror pemotong kepala. Saat itu, rumornya banyak yang hilang diculik, dan kepalanya diambil untuk dijadikan bahan penguat kontruksi jembatan.

Batok kepala manusia diyakini sangat berguna agar jembatan yang baru di bangun awet dan tahan beban. Selain itu, kalangan yang percaya akan hal-hal mistis mengatakan, menamam batok kepala manusia untuk fondasi jembatan berguna agar jembatan itu punya penunggu. Jembatan yang punya penunggu dipercaya kuat dan tahan lama.

Namun, ada juga yang yakin, baik hantu Kojek atau pemotong kepala hanyalah hoaks yang mujarabah, untuk menutupi pembunuhan-pembunuhan keji dan penghilangan orang secara paksa oleh oknum, isu hantu kojek dan pemotong kepala disebar luas.

“Hantu Kojek dan teror pemotong kepala, dua hal yang kiranya menjadi jualan agar warga diam dan percaya,” ujar seorang lelaki, X, yang bercerita panjang lebar kepada Liputan6.com, mengenai hantu Kojek, teror pemotong kepala dan korelasinya dengan berbagai kejadian saat konflik di Aceh dulu.

Dia sendiri mengaku pernah mendengar cerita ada orang yang sedepah lagi hampir menjadi tumbal dari tindakan kalapnya sendiri, lantaran orang itu suka mengatakan ke orang-orang bahwa hantu kojek dan teror pemotong kepala hanya pengalih perhatian untuk menutupi sesuatu, layaknya pesulap menipu audiens-nya.

“Cerita pada masa konflik. 90an lah. Ada pemuda waktu itu berkeras. ‘Itu bukan Kojek!’. Orang hilang, dibilang korban kojek atau pemotong kepala. Padahal diambil sama yang lain. Nah, ketika kekeuh, nyawa kawan itu pada malam itu, ketika sedang jaga malam, sendirian di pos kamling tempat dia jaga dibakar, beruntung nyawa dia selamat, karena ada feeling. Dia sembunyi, dan lihat siapa pelaku,” ungkap X.

Mengetahui ada sesuatu yang lebih besar dari hantu kojek dan pemotong kepala yang sedang mengincarnya, pemuda yang diceritakan oleh X, malam itu lari sekencang-kencangnya, meninggalkan ibu, ayah dan kampung halamannya. Pemuda itu menjauh, menyelamatkan diri ke Malaysia, hingga bertahun-tahun kemudian baru kembali.

Simak juga video pilihan berikut ini:

Hari Minggu 12 tahun silam itu, Saiful Yusri (62) bersama istri dan anaknya sedang berada di rumah saat gempa tiba-tiba menguncang bumi. Saat itu warga berhamburan keluar rumah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *