Antara Bedol Desa, Tanah Longsor, dan Semburan Api di Kalitengah Banjarnegara

Retakan tanah yang terjadi di tebing atau lereng, mengancam langsung rumah warga. Nyawa dan harta dipertaruhkan. Sewaktu-waktu, bisa saja ribuan kubik material longsoran menimbun kampung mereka.

“Api itu muncul di Kalitengah, di situ memang rawan longsor,” ucap Kepala Desa Majatengah, Sarno.

Sejak saat itu, dusun di mana muncul retakan tanah yang menyemburkan api itu ditinggalkan. Warga memulai hidup baru di permukiman yang relatif lebih aman.

Dusun Kalitengah yang pada masanya adalah perkampungan, kini telah berubah menjadi perkebunan salak. Tetapi, jejak keberedaan permukiman masih ada.

Di tempat ini, masih berdiri sebuah rumah penduduk berbahan kayu. Rumah itu dihuni oleh satu Kepala Keluarga, Ahmad Khoirulloh, satu-satunya keluarga yang menghuni wilayah ini.

Sarno pun tak pahaam alasan apa yang membuat Khoirulloh memilih bertempat tinggal terpisah dari penduduk lain yang sudah lama meninggalkan dusun mereka ini. Padahal, tanah di sekitar tempat tinggal itu terus bergerak dan mengancam.

Dari retakan tanah longsor yang menyemburkan api, rumah ini hanya berjarak sekitar 20 meter. Namun, keluarga ini tetap bertahan di lokasi perkebunan yang sepi ini.

“Tinggal rumah satu itu yang masih bertahan,” Sarno menambahkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *