Andi Depu, Bercerai dengan Suami Demi Perjuangan Lawan Penjajah

Jakarta – Agung Hajah Andi Depu telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Andi Depu adalah ibu bagi rakyat Mandar, berjuang melawan penjajah meski harus melawan suaminya sendiri.

Kiprah Sang Srikandi Mandar memang didukung oleh budaya setempat yang terbuka terhadap peran perempuan di ranah publik. Dalam buku “Pappatamma: Perlindungan Perempuan dan Anak Berbasis Kearifan Lokal di Indonesia”, Roswita M Aboe menjelaskan soal hal ini.

Keterbukaan masyarakat atas peran perempuan di Tanah Mandar dinilai sudah sangat meluas ke berbagai bidang, bahkan hingga bidang politik dan kepemimpinan dalam peran-peran masyarakat. Masyarakat Mandar tak masalah dipimpin lelaki atau perempuan.

“Fakta menunjukkan bahwa di Tanah Mandar ada seorang pemimpin kerajaan dari kaum perempuan, yaitu Ibu Agung Haji Andi Depu. Kegigihan dan keperkasaan Andi Depu merupakan cerminan perempuan Mandar sekarang ini,” demikian tulis Roswita dalam buku itu, diakses detikcom, Jumat (9/11/2018).

Dilansir dari situs Sejarah Indonesia Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Sang Srikandi Mandar itu bernama lengkap Andi Depu Marradia Balanipa. Putri ningrat ini lahir di Tinambung, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, pada 1 Agustus 1907. Dia mengenyam pendidikan Volkschool (Sekolah Rakyat) selama tiga tahun.

Pada tahun 1923, Andi Depu menikah dengan Andi Baso Pabiseang, namun kehidupan pernikahannya harus kandas karena keteguhan sikapnya untuk berjuang melawan penindasan. Sebabnya, ada perbedaan sikap antara keduanya soal Pemerintah Hindia Belanda.

Dalam buku “Hajjah Andi Depu Maraddia Balanipa: Biografi Pahlawan” terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1991, dijelaskan bahwa Andi Depu bisa leluasa pergi berjuang ke mana-mana tanpa dicurigai sebagai pejuang, soalnya dia adalah perempuan. Namun suaminya ternyata tidak menyetujui langkah perjuangan Andi Depu.

“Suami Ibu Depu yang saat itu memangku jabatan sebagai raja, berpikiran pendek dan menganggap bahwa kaum penjajah itu tidak mungkin dapat dilawan dan dikalahkan hanya dengan semangat yang berkobar-kobar dan senjata bambu runcing,” demikian tulis Aminah P Hamzah dalam buku itu.

Andi Depu dan suaminya memutuskan untuk berpisah. Selepas cerai dengan suaminya, Andi bersama putranya bergabung dengan pergerakan rakyat Mandar dalam memerangi penjajahan. Lulusan Volschool (Sekolah Rakyat dengan masa pendidikan 3 tahun) ini aktif di berbagai organisasi. Dia adalah penyokong utama Jong Islameiten Bond saat membuka cabang di Mandar pada 1940, hingga mempelopori Fujinkai (tentara perempuan Jepang) di Mandar tahun 1944.

Pada 21 Agustus 1945, dia dan para pengikutnya mendirikan laskar “Kebangkitan Rahasia Islam Muda Mandar”. Fungsinya adalah mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Andi Depu tampil sebagai pemimpin laskar.

Ada peristiwa heroik di Tinambung pada 15 Januari 1946, yakni Andi Depu mempertahankan Sang Saka Merah Putih saat tentara Belanda bermaksud menurunkan bendera itu dari tiang di Istana Balanipa. Setelah itu, dia menjadi buron Belanda. Hari-harinya adalah langkah gerilya. Dia sempat tertangkap dan disiksa pihak penjajah.

Karena perjuangannya, rakyat Mandar menyebutnya sebagai Ibu Agung. Dia menjadi Raja Balanipa dari 1950 hingga 1957. Menurut Muh Darwis Tahir dalam “Perjuangan Andi Depu Dalam Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia di Mandar 1945-1950”, saat itu Andi Depu menjadi Arayang (Maharaja) Balaipa ke-52, yakni dari kaum perempuan, ini pertama kali sepanjang sejarah hingga saat itu.

Andi Depu wafat tahun 18 Juni 1985 di Rumah Sakit Pelamonia Makassar. Sang Ibu Agung dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Pemakaman Panaikan Makassar.

Pada 8 November 2018 kemarin, Agung Hajjah Andi Depu dianugerahi gelar pahlawan nasional oleh Presiden Jokowi. Ada pertimbangan khusus soal pemberian gelar pahlawan nasional untuk Andi Depu.

“Hajah Andi Depu adalah pelaku sejarah Indonesia dan merupakan sosok perempuan yang telah memberikan dedikasi serta loyalitas yang tinggi dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, yaitu dengan mengerahkan dan mengoordinasikan semangat spontanitas para pemuda pemudi untuk melawan penjajahan di Indonesia,” demikian kata Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Sosial RI dalam keterangan pers resminya.
(dnu/fjp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *