Ancaman Amputasi dan Tumor Bikin Hidup Inung Rio Nelangsa

Suharyono menyebutkan, ada tiga luka laserasi atau robek mengitari kaki di atas tapak satwa bernama latin Panthera tigris sumatrae itu. Luka itu sudah memasuki stadium tiga dan telah membentuk nekrotik atau jaringan membusuk.

Luka harimau ini berdiameter sekitar empat sentimeter dengan kedalaman tiga sentimeter. Luka itu sebelumnya juga terdapat belatung dan dikerubungi lalat tapi sudah dibersihkan ketika Inung Rio dievakuasi pada Minggu, 25 Maret 2019 lalu.

“Harapannya bisa disembuhkan dan tak diamputasi karena tidak mengenai tulang. Harapannya tidak menimbulkan cacat karena akan berpengaruh kemampuan nantinya jika dilepasliarkan,” imbuh Suharyono.

Selama masa karantina, harimau berbobot 90 kilogram lebih itu cukup lahap makan daging babi. Setiap hari ada beberapa kilogram daging diberikan dan selalu habis. Selain itu, dia juga minum air di kolam.

Hanya saja, Inung Rio pemilih dalam hal konsumsi air. Kebiasaan hidup di rawa gambut Pelalawan membuatnya tak begitu suka meminum air pegunungan dari Sumatera Barat.

“Sukanya air gambut, tak hanya minum tapi juga berendam dengan air itu. Makanya tim BBKSDA rutin mengambil air gambut dari Pelalawan” kata Suharyono.

Menurut Suharyono, harimau dari Riau biasanya hidup di daerah gambut. Sebut saja Bonita dan Atan Bintang yang terlebih dahulu dievakuasi ke Dharmasraya karena konflik dengan manusia.

“Selain suka air gambut, bentuk belang dan ukurannya harimau dari Riau juga lebih besar dibanding harimau yang hidup di pegunungan,” Suharyono menandaskan.

Simak video pilihan berikut ini:

Puluhan hewan ternak peliharan warga hilang dimangsa Harimau Sumatera di Ulo Talo Bengkulu. Warga pun memutar otak agar peristiwa ini tidak terulang. Sejumlah cara dilakukan untuk mencegah “Si Raja Hutan” kembali memakan korban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *