Survei Alvara: Jokowi-Ma’ruf Unggul di Semua Kepulauan kecuali Sumatera

Alvara juga membagi ke lima cluster wilayah. Sumatera I (Aceh, Sumut, Sumbar, Kepri), Prabowo unggul jauh atas Jokowi di angka 66,7 persen dan 29 persen. Sumatera II (Riau, Jambi, Sumsel, Bengkulu, Lampung, BaBel), Prabowo unggul tipis dengan angka 49,1 persen dibandingkan Jokowi 35,9 persen.

Wilayah Jawa I (Jabar, Jakarta, Banten), Jokowi unggul atas Prabowo dengan angka 51,7 persen berbanding 42,4 persen. Jawa II (Jateng, Yogyakarta, Jatim), Jokowi unggul di angka 66,5 persen atas Prabowo 52,3.

Bagian Indonesia Timur (Kalimatan, Sulawesi, Balinusra, dan Malpapua), Jokowi unggul 52,3 persen atas Prabowo 43,5 persen.

Survei Alvara dilaksanakan pada 2-8 April 2018 dengan melakukan wawancara terhadap 2.000 orang. Responden diambil secara acak dengan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei sebesar 2,23 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

Reporter: Ahda Bayhaqi

Survei Alvara: Elektabilitas Jokowi 52,2% Prabowo 38,8%

Jakarta – Alvara Research Center kembali merilis survei elektabilitas Pilpres 2019. Hasilnya, selisih antara Jokowi dan Prabowo terpaut Rp 13,8%.

“Hasilnya bisa kita lihat elektabilitas untuk kedua kandidat untuk pasangan 01 Jokowi-Kiai Maruf Amin itu di 52,2% sementara pasangan Prabowo-Sandi itu di angka 38,8%,” kata Founder dan CEO Alvara Research Center, Hasanuddin Ali saat rilis survei di Hotel Oria, Jl KH Wahid Hasyim, Jakarta Pusat, Jumat (12/4/2019).

Survei ini dilakukan tanggal 2-8 April 2019. Survei menggunakan multi-stage random sampling dengan melakukan wawancara terhadap 2.000 responden yang berusia 17 tahun ke atas dan memiliki hak pilih. Rentang margin of error sebesar 2,23% dengan tingkat kepercayaan 95%.

Sebelumnya, Alvara Research Center juga telah melakukan survei nasional di bulan Agustus 2018, Oktober 2018, Desember 2018 dan Februari 2019. Berdasarkan survei ini, jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan makin berkurang.

“Elektabilitas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami kenaikan pada survei bulan April 2019, tapi kenaikan ini sudah terlambat, pemilu tinggal beberapa hari, kecil kemungkinan elektabilitas Prabowo-Sandi mampu menyalip Jokowi-Ma’ruf Amin,” tambah Hasanuddin.

Alvara mencatat Prabowo-Sandi hanya unggul di Pulau Sumatera sementara Jokowi-Ma’ruf menang di Jawa dan Indonesia bagian timur. Jokowi unggul di generasi milenial dan kelompok usia yang lebih tua sementara suara di Gen Z diperebutkan dua calon.

Alvara lalu membuat 3 skenario hasil akhir Pilpres. Ketiganya mengunggulkan Jokowi dibanding Prabowo. Berikut paparan dari Alvara:

Skenario I : Joko Widodo-Ma’ruf Amin (57,3%) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (42,7%)
Asumsi skenario I : Hasil survey April 2019 ditambah dengan undicided voters terbagi sama rata ke masing-masing kandidat dan pemilih dari masing-masing pemilih 100% solid mendukung kandidat Capres-Cawapres yang didukungnya

Skenario II: Joko Widodo-Ma’ruf Amin (55,9%) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (44,1%)
Asumsi skenario II: Hasil survey April 2019 ditambah dengan pembagian undicided voters
berdasarkan kecenderungan pilihan kandidat dan perhitungan separuh pemilih yang masih mungkin pindah (swing voters), pindah ke kandidat lawan.

Skenario III: Joko Widodo-Ma’ruf Amin (59,9) dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno (40,1%)
Asumsi skenario III : Estimasi menggunakan regresi logistik dengan parameter demografi (usia, pendidikan, strata sosial, agama, etnis), area, dan dukungan pemilih partai
(imk/tor)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dapat 0,2% Versi Alvara, Garuda: Dulu Kami Juga Tak Diyakini Lolos Pemilu

JakartaPartai Garuda mengatakan memiliki langkah untuk mendongkrak elektabilitasnya yang menurut survei Alvara berada di angka 0,2%. Menurut Garuda, dulu mereka juga sempat diprediksi tak lolos jadi peserta pemilu.

“Kami instruksikan ke titik paling bawah di kader kami, simpatisan kami, termasuk relawan caleg dan caleg sendiri untuk melakukan upaya, strategi yang sudah DPP persiapkan. Soal hasil nanti kita lihat bersama. Sama seperti partai ini pertama tidak diprediksi lolos ya, kita lihat nanti,” kata Sekjen Garuda Abdullah Mansuri kepada detikcom, Jumat (11/1/2018).

Alvara melakukan survei nasional elektabilitas parpol pada pada periode 11-24 Desember 2018 dengan metode multistage random sampling, Garuda disebut mendapat elektabilitas 0,2%. Angka itu belum mencapai ambang batas minimal parlemen, yakni 4%..
Pengumpulan data dalam survei ini dilakukan dengan wawancara tatap muka (face-to-face interview) kepada 1.200 responden terpilih dari 34 provinsi di Indonesia dengan margin of error 2,88 persen. Hasilnya, 3 partai teratas dihuni ole PDIP dengan elektabilitas 28,3% diikuti Partai Gerindra 17,3% dan Partai Golkar 9,9%.
Abdullah mengatakan partainya akan tancap gas mulai Januari 2019 hingga jelang Pemilu pada April nanti. Menurutnya tiga bulan ke depan adalah waktu yang krusial bagi setiap partai.

“Bagi kami Januari ini kalau ibarat mobil ini sudah gigi 4 gigi 5 sampaik April, awal April. Semoga di akhir Maret kita sudah ketahui hasil dari upaya-upaya yang kita lakukan.
(haf/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kiat PKPI Agar Tak Lagi Nol Koma: Kejar Suara Para Gamers

JakartaPKPI memperoleh elektabilitas 0,3% dalam survei yang dirilis oleh Alvara Research Center. Salah satu kiat PKPI agar elektabilitasnya naik ialah mengembangkan departemen eSport untuk menjaring suara para gamers.

“Kami terus bekerja secara masif, untuk melakukan konsolidasi, sosialisasi, kanvasif, micro targeting dalam kampanye ini dengan lagsung turun kepada konstituen, itu satu. Kedua, dengan terus mengembangkan departemen kami yang baru, yaitu esport untuk menjaring anak-anak muda para gamers dan ketiga terus mengedepankan profil ketua umum kami,” kata Sekjen PKPI Verry Surya Hendrawan, Jumat (11/1/2019).

Dia menyatakan ada perbedaan ada perbedaan antara hasil survei internal PKPI dengan survei Alvara. Dalam survei internal, PKPI disebutnya sudah tembus angka 1%.
Hal tersebut disebutnya sudah sesuai harapan karena PKPI bahkan tak masuk dalam beberapa survei elektabilitas pada pertengahan 2018. Verry optimis PKPI bisa lolos ke parlemen dengan ambang batas 4%.

“Dari survei internal angka kami memang sudah di atas 1% dan ini sesuai dengan harapan di mana sejak Mei 2018 bahkan PKPI tidak masuk dalam survei yang diterbitkan lembaga survei,” ujarnya.

Dalam survei Alvara, yang dilakukan pada periode 11-24 Desember 2018 dengan metode multistage random sampling, PKPI disebut mendapat elektabilitas 0,3%. Angka itu membuat mereka masih jauh dari ambang batas parlemen sebesar 4%.

Pengumpulan data dalam survei ini dilakukan dengan wawancara tatap muka (face-to-face interview) kepada 1.200 responden terpilih dari 34 provinsi di Indonesia dengan margin of error 2,88 persen. Hasilnya, 3 partai teratas dihuni ole PDIP dengan elektabilitas 28,3% diikuti Partai Gerindra 17,3% dan Partai Golkar 9,9%.
(haf/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PPP Yakin Lolos ke DPR Meski Elektabilitasnya 2,8% di Survei Alvara

JakartaPPP yakin bisa lolos ke DPR alias memenuhi parliamentary threshold meski hanya mendapat 2,8 persen di survei Alvara Research Center. PPP menyatakan selalu lolos ke parlemen tiap Pemilu.

“Hasil survei kami anggap biasa saja sebagai bagian dari cara untuk menangkap persepsi publik. Bahkan setiap survei lima tahunan, bahkan PPP dipotret tak bisa lolos ke parlemen. Namun, nyatanya sejak survei mulai dikenal di dunia politik ternyata PPP selalu lolos ke parlemen,” kata Wasekjen PPP Achmad Baidowi kepada detikcom, Jumat (11/1/2019).

Pria yang akrab disapa Awiek ini mengatakan partainya menghormati apapun hasil survei sebagai pelecut semangat kader. Dia menyatakan PPP menargetkan menang di Pemilu bukan di survei.
“Kami dalam posisi menghormati apapun hasil survei dan itu menjadi cambuk bagi kami untuk terus bekerja agar target tiga besar bisa terealisasi. Yang jelas PPP tidak mau menang di survei tapi di Pemilu,” ucapnya.

Dia juga bicara soal hasil survei internal partainya. Menurutnya, PPP sudah melewati angka ambang batas parlemen 4 persen berdasarkan survei internal.

“Survei dari Litbang PPP posisi kami di atas 4% tapi sebenarnya bukan untuk dipublikasikan. Maka, kita tak sebut angkanya. Pemilih PPP itu banyak di pedesaan dan pedalaman yang tak terjangkau lembaga survei,” tutur Awiek.

Arwani Thomafi Arwani Thomafi Foto: dok. Pribadi

Selain Awiek, Waketum PPP Arwani Thomafi tetap optimis partainya lolos. Alasannya, PPP belum pernah tak lolos ke parlemen.

“Sejak adanya survei dalam pemilu, PPP selalu diprediksi tidak lolos dan faktanya selalu lolos. Konsolidasi kita saat ini tambah kencang,” ucap Arwani.

Alvara sebelumnya merilis hasil survei nasional terkait elektabilitas partai politik peserta Pemilu 2019. Survei itu dilakukan pada periode 11-24 Desember 2018 dengan metode multistage random sampling.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka (face-to-face interview) kepada 1.200 responden terpilih dari 34 provinsi di Indonesia dengan margin of error 2,88 persen. Hasilnya, PDIP berjaya dari partai lain dengan elektabilitas 28,3 persen diikuti Partai Gerindra 17,3% dan Partai Golkar 9,9%.
(haf/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

NasDem soal Survei Alvara: 4% Sudah Bagus, Dulu Kami Cuma 1,5%

Jakarta – Partai NasDem mengatakan elektabilitas 4% dalam survei Alvara Research Center sudah termasuk bagus. Alasannya, survei itu cuma menilai identitas partai atau party ID, bukan individu caleg.

“Kalau party ID-nya sudah 4% ya bagus. Dulu kami itu 1,5% di 2014, hasilnya 6,7%. Kalau misalnya 4% party ID sekarang, ditambah kegiatan figur ya bagus,” kata Wakil Ketua TKN Jokowi-Ma’ruf, Johnny G Plate, Jumat (11/1/2019) malam.

Dia mengatakan dalam survei yang menilai party ID, para responden cuma ditanyakan partai apa yang akan dipilih. Padahal, menurut Johnny, para pemilih yang melihat lambang partai dalam Pemilu kurang dari 30%.
“Jadi yang disurvei secara nasional ini adalah kurang dari 30 persen. Akumulasi figur yang 70% itu belum pernah disurvei sama sekali,” ucapnya.

Johnny menganggap hasil survey Alvara sebagai referensi bagi partainya. Tapi, survei politik bukanlah satu-satunya yang digunakan NasDem dalam mengukur kekuatan untuk Pemilu.

Sebelumnya, Alvara merilis hasil survei nasional terkait elektabilitas partai politik peserta Pemilu 2019. Survei itu dilakukan pada periode 11-24 Desember 2018 dengan metode multistage random sampling.

Data dikumpulkan dengan wawancara tatap muka kepada 1.200 responden terpilih dari 34 provinsi di Indonesia dengan margin of error 2,88 persen. Hasilnya, PDIP berada di peringkat pertama dengan elektabilitas 28,3 persen diikuti Partai Gerindra 17,3% dan Partai Golkar 9,9%.
(haf/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Dapat 9,9% dalam Survei, Golkar Bicara Punya Caleg Kuat di Daerah

Jakarta – Golkar masih yakin bisa menang Pemilu 2019 meski disebut berada pada posisi ketiga dalam survei terbaru yang dirilis Alvara Research Center. Alasannya, Golkar punya caleg kuat di berbagai daerah.

“Dalam survei Alvara belum mengonversi menjadi perolehan kursi. Kami sangat yakin kami masih unggul untuk mendapatkan kursi terbanyak dengan adanya para calon anggota legislatif yang kuat di daerah-daerah,” kata Ketua DPP Golkar Ace Hasan Syadzily kepada detikcom, Jumat (11/1/2019) malam.

Dia optimis Golkar bisa masuk dua besar partai dengan perolehan suara terbanyak di Pemilu 2019. Ace menyatakan hasil pemilu legislatif adalah jumlah kursi parlemen yang diperoleh.
“Kami masih optimis untuk dapat mendongkrak elektabilitas kami ke dalam dua besar pemenang pemilu legislatif 2019 nanti. Pemilu legislatif itu hasilnya adalah seberapa kursi parlemen yang didapatkan,” tuturnya.

“Kami akan terus bekerja menaikan elektabilitas partai semaksimal mungkin dengan memastikan keterpilihan Jokowi-Kiai Ma’ruf sebagai capres yang didukung Partai Golkar,” sambung Ace.

Sebelumnya, Alvara merilis hasil survei nasional terkait elektabilitas partai politik peserta Pemilu 2019. Survei itu dilakukan pada periode 11-24 Desember 2018 dengan metode multistage random sampling.

Data dikumpulkan dengan wawancara tatap muka kepada 1.200 responden terpilih dari 34 provinsi di Indonesia dengan margin of error 2,88 persen. Hasilnya, PDIP berada di peringkat pertama dengan elektabilitas 28,3 persen diikuti Partai Gerindra 17,3% dan Partai Golkar 9,9%
(haf/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Raih 28,3% di Survei Alvara, PDIP Targetkan 33% Suara Saat Pileg

JakartaPDIP menyatakan tak akan lupa diri walau hasil survei Alvara Research Center yang menempatkannya di posisi teratas dengan elektabilitas 28,3%. Saat ini, PDIP terus berupaya agar bisa meraih target 33% suara di Pileg.

“Tentu semua hasil itu tidak membuat kami lupa diri, jemawa, arogan, lengah. Dengan semangat gotong royong dan holopis kuntul baris, kami terus berusaha mendekati target capaian Pemilu 1999 yaitu 33%,” ujar Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno kepada detikcom, Jumat (11/1/2019) malam.

Dia mengatakan hasil survei Alvara itu menunjukkan elektabilitas PDIP yang stabil. Dia juga menyebut hasil itu menjadi vitamin penyemangat PDIP untuk bekerja melayani masyarakat.
“Beberapa lembaga survei terkemuka secara konsisten melakukan survei yang hasilnya menempatkan kami di posisi rata-rata di atas 25%, teratas, dan berjarak cukup jauh dari yang nomor berikut. Kami terima ini sebagai tambahan vitamin untuk bekerja lebih semangat menghadirkan wajah partai yang melayani masyarakat, yang menjadi jangkar stabilitas nasional, yang mendahulukan politik persaudaraan dan pencerahan,” ujarnya.
Alvara sebelumnya merilis hasil survei nasional terkait elektabilitas partai politik peserta Pemilu 2019. Survei itu dilakukan pada periode 11-24 Desember 2018 dengan metode multistage random sampling.

Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka kepada 1.200 responden terpilih dari 34 provinsi di Indonesia dengan margin of error 2,88%. Hasilnya, PDIP berjaya dari partai lain dengan elektabilitas 28,3 persen diikuti Partai Gerindra 17,3% dan Partai Golkar 9,9%.
(haf/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Survei Update: Adu Kuat Jokowi vs Prabowo di Awal Januari

Jakarta – Di awal Januari, dua lembaga merilis survei terkait elektabilitas pasangan capres-cawapres jelang Pilpres 2019. Hasilnya, Joko Widodo-Ma’ruf Amin masih unggul atas Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hasil survei adu kuat Jokowi versus Prabowo di awal Januari ini disampaikan Indikator Politik Indonesia. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf unggul 20 persen atas Prabowo-Sandiaga.

“Bila pemilihan presiden diadakan sekarang, Jokowi masih unggul atas Prabowo Subianto. Simulasi dua pasangan nama, Jokowi-Ma’ruf Amin 54,9 persen dan Prabowo-Sandiaga Uno 34,8 persen,” kata peneliti Indikator, Burhanuddin Muhtadi, di kantor Indikator, Jalan Cikini V, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2019).


Dari survei ini tercatat pemilih yang belum menentukan pilihan berkurang. Indikator mencatat adanya kenaikan suara Jokowi-Ma’ruf ataupun Prabowo-Sandiaga dibandingkan survei sebelumnya.

“Jokowi dan Prabowo sedikit meningkat dibanding bulan Oktober dan pemilih yang belum menentukan pilihan (undecided voters) cenderung menurun. Namun secara statistik, dinamika dalam tiga bulan terakhir tidak signifikan,” kata Burhanuddin.

Survei ini dilakukan pada 16-26 Desember 2018 dengan metode random sampling. Sebanyak 1.220 orang dijadikan responden dengan margin of error 2,9 persen. Sekitar 9,2 persen responden belum menentukan pilihan dan 1,1 persen mengaku tidak mau memilih atau golput.

Hasil survei kedua disampaikan Alvara Research Center. Hasilnya tak jauh berbeda, Jokowi-Ma’ruf lebih kuat dibanding Prabowo-Sandiaga.

“Elektabilitas pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin pada bulan Desember 2018 sebesar 54,3%, sementara elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 35,1%,” ujar Founder and CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali dalam keterangannya, Jumat (11/1/2019).

Alvara juga mencatat adanya kenaikan suara di kedua belah capres-cawapres karena undecided voters sudah mulai mengutarakan pilihan politiknya. Tercatat di survei terbaru ada 10,6% undecided voters. Sedangkan pada Oktober 2018, undecided voters mencapai 12,0%.

Alvara mencatat dukungan para undecided voters tersebut terbagi atas 54,7% memilih Jokowi-Ma’ruf dan 45,3% untuk Prabowo-Sandiaga.

“Undecided voters mulai menurun. Ceruk pemilih yang belum memutuskan pilihan untuk Pilpres 2019 cenderung turun menjadi 10%. Mereka cenderung memilih Jokowi-KH Ma’ruf dibandingkan Prabowo-Sandi,” kata Hasanuddin.

Survei Alvara dilakukan pada periode 11-24 Desember 2018 dengan metode multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka (face-to-face interview) kepada 1.200 responden terpilih dari 34 provinsi di Indonesia. Hasilnya, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dengan selisih sekitar 19%.
(jbr/haf)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Survei Alvara: Jokowi-Ma’ruf 54,3%, Prabowo-Sandi 35,1%

Jakarta – Lembaga survei Alvara Research Center mengeluarkan survei terbaru jelang Pilpres 2019. Dua kandidat, yakni Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno diadu elektabilitasnya. Siapa unggul?

Survei Alvara dilakukan periode 11-24 Desember 2018 dengan metode multistage random sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara tatap muka (face-to face interview) kepada 1.200 responden terpilih dari 34 provinsi Indonesia. Hasilnya, pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin unggul dengan selisih sekitar 19%.

“Elektabilitas pasangan Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin pada bulan Desember 2018 sebesar 54,3%, sementara elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno sebesar 35,1%,” ujar Founder and CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali dalam keterangannya, Jumat (11/1/2019).


Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dan Prabowo-Sandiaga di survei Alvara kali ini mengalami kenaikan. Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf pada periode Oktober 2018 berada di angka 54,1% yang artinya mengalami kenaikan 0,2% di periode Desember menjadi 54,3%. Sedangkan elektabilitas Prabowo-Sandiaga di Desember mengalami kenaikan 1,2% di mana keduanya pada Oktober 2018 hanya mendapat angka 33,9%.
“Dibanding survei bulan Oktober 2018, Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, keduanya mengalami kenaikan,” kata Hasanuddin.
(gbr/van) <!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>