Kampanye di GBK, Sandi: Pak Ali Bertahan Jual Ikan di Tengah Banjir Produk Impor

Liputan6.com, Jakarta Calon wakil presiden Sandiaga Uno mengajak para relawan dan simpatisan memilih Prabowo-Sandiga di Pilpers 2019 nanti. Sandi pun menganti singkatan TPS yang sejatinya Tempat Pemungutan Suara menjadi Tusuk Prabowo Sandiaga.

“Mau cari kerja mudah, jawabanya Tusuk Prabowo Sandi. Mau harga-harga terjangkau jawabnya tusuk Prabowo-Sandi,” ucap Sandiaga, Minggu (7/4/2019).

Sandiaga mengatakan, masyarakat sudah lama menginginkan perubahan. Ia mengetahui hal tersebut setelah menjelajahi 1.500 daerah di Indonesia. Sandi menyebut beberapa orang yang pernah mengadu ke hadapnnya.

“Ibu Ida di Bali sampaikan beban listik. Listrik sekarang turun atau naik?. Ibu Lis di Cibitung cemaskan masa depan  pekerjaaan. Cari kerja sekarang gampang atau susah? Kita hidup di industri namun penangguran masih dirasakan berat,” ucap Sandiaga.

“Terbayang wajah letih Abu yang merugi karena biaya sewa lahan tinggi. Pak Ali nelayan di Bayuwangi harus bertahan menjual ikan seiring banjir produk-produk impor,” lanjut Sandiaga.

Sandiga memberikan jawaban atas permasalahan masyarakat tersebut yakni dengan memilih pasangan Prabowo-Sandiaga. 

“Prabowo-Sandi akan menyelesaiakan memberikan solusi masalah ekonomi kita,” tandas Sandiaga.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Caewapres Sandiaga Uno berkampanye di Lamongan. Sandi berkampanye di hadapan ribuan nelayan Lamongan. Prabowo-Sandi Berjanji akan mensejahterakan kehidupan para nelayan

Jalan Bareng Wanita Cantik, Ali Syakieb Putus dari Citra Kirana?

Hingga kini belum diketahui hubungan Ali Syakieb dengan teman wanita di video tersebut. Banyak netizen yang penasaran dengan kemunculan sosok wanita itu dan hubungan Ali dengan Citra Kirana.

Ali syakieb sama siapa ya itu ??,” tulis akun @rena.nur94.

Putus gtu sm ciki ?? Bnyak komen putus sm ciki ceunah .. tlong pncerahannya netijen,” kata akun @ginnakatumbiri.

Cantik kak ciki kemana2 kali yesss,” tulis akun @raisa_andari.

Ali Ngabalin Jelaskan Foto Setengah Bugil yang Ramai di Medsos

Jakarta – Foto diduga Ali Mochtar Ngabalin yang tampak setengah bugil beredar di media sosial. Ali Mochtar Ngabalin angkat suara soal foto tersebut.

Dalam foto itu, tampak seorang pria berkacamata dengan tatapan mengarah ke kamera. Dada si pria itu tak ditutupi atasan, pun begitu dengan bagian pinggang ke bawah. Meski demikian, foto itu tak menampilkan keseluruhan tubuh si pria.

Pose setengah bugil itu ramai di media sosial dengan narasi mempertanyakan kemiripan pria di dalam gambar dengan Ngabalin. Begini penjelasan Ngabalin.

“Abang sedang mengumpulkan foto-foto, beberapa foto yang mencari foto aslinya kemudian untuk bisa mencocokkan,” kata Ngabalin saat dikonfirmasi, Senin (1/4/2019).
Ngabalin lantas bercerita soal kebiasaan habis menyelam dalam suatu ruang ganti khusus lelaki. Menurutnya, ada yang memang mandi menggunakan celana, ada pula yang tanpa sehelai benang pun.

“Karena kalau kita habis nyelam itu memang di ruangan laki-laki semua itu ada yang kadang mandi telanjang ada yang dengan celana kolor saja,” ucap Ngabalin.

Dia sendiri tidak ingat kapan persisnya pose seperti dalam foto itu diambil. Lebih jauh, Ngabalin mengungkapkan upaya-upaya pemviralan dirinya dengan narasi-narasi yang menyudutkan.

Terlepas dari itu, dia mengakui bahwa pria di foto tersebut memang dirinya. Menyadari posisinya saat ini, Ngabalin memandang dia memang harus melakukan klarifikasi.

“Tapi ini, ini perlu dikasih tahu karena memang ini kan 5-6 hari ini kan video viral abang dengan para pendeta itu kan sangat viral banget ya, tersebar di mana-mana ditambah lagi dengan kemarin itu berita bohong tentang pengusiran Abang dari UIN Medan. Karena itu memang ini kita lagi mengumpul bahan, data yang tepat,” sebut Ngabalin.

“Pertimbangannya yang pertama sebagai orang di pemerintah kita mau jalannya pemilu ini harus tenang karena waktunya sangat singkat. Tidak bisa kita menggunakan langkah-langkah yang ekstrem dalam meraih suara dan lain-lain, itu tidak terjadi pada abang karena kalau ini kan terkait dengan pribadi Bang Ali, pribadi Bang Ali,” imbuh Staf Ahli Kedeputian IV KSP itu.

“Makanya kalau dia orang bikin di Twitter tentang ‘Mirip nggak Ngabalin?’. Bukan mirip, itu Ngabalin. Cuma memang posisi foto itu yang saya pikir nanti hanya bisa forensik yang bisa nanti teliti dan itu tidak apa-apa. Saya harus siap untuk bisa melakukan klarifikasi terhadap temuan informasi ini karena ini kan terkait informasi publik yang harus juga didapat,” tambah dia lagi.

Saat ditanya kapan foto tersebut diambil dan dalam momen apa, Ngabalin mengaku sedang mengumpulka data-data. Yang pasti, dia mengatakan foto itu tak diambil dalam waktu 1-2 hari ke belakang.

Lebih jauh Ngabalin menegaskan dirinya berprasangka baik atas penyebaran foto tersebut. Dia hanya tidak mau publik berasumsi macam-macam terkait pribadinya.

“Bagi Bang Ali sendiri saya berprasangka baik kepada siapa saja baik kepada teman-teman yang menyebarkan atau kepada kawan-kawan di mana saja saya mesti berprasangka baik tetapi saya berhak melakukan klarifikasi itu. Itu sebabnya saya juga harus kasih tahu supaya publik tidak merasa bahwa, jangan mereka memberi penilaian macam-macam terkait diri Bang Ali,” sebut Ngabalin.

“Saya mengerti tentang apa yang harus saya lakukan dan dalam usia seperti ini, dalam usia 52 tahun ini insyaallah, dengan izin Allah, kekurangan keterbatasan ada, tapi untuk dijebak saya kira insyaAllah usiaku sudah tidak masuk dalam orang yang bisa dijebak,” ucap dia.
(gbr/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

3 Anggota Ali Kalora Tewas Ditembak Satgas Tinombala di Parimo

Jakarta – Satgas Tinombala menembak mati tiga anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Tiga anggota yang tertembak adalah yang terpisah dari Ali Kalora.

Kontak tembak antara Satgas Tinombala dan anak buah Ali Kalora terjadi di wilayah Dusun Air Teh, Desa Marete, Kecamatan Sausu, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) pada sore tadi, pukul 16.50 Wita.

Kelompok yang terpisah dengan Ali Kalora ini terdiri dari 6 orang dan dipimpin oleh DPO bernama Qatar. Belum ada informasi mengenai tiga DPO lainnya yang tak tertembak.

Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Lukman Wahyu Hariyanto membenarkan peristiwa ini. “Iya,” kata Lukman saat diminta konfirmasi wartawan, Kamis (21/3/2109).

Tiga anggota Ali Kalora yang tewas teridentifikasi bernama Andi Muhammad alias Abdullah asal Makassar Sulawesi Selatan, Jaka Ramadan alias Ikrima asal Banten dan Alhaji Kaliki alias Ibrohim asal Ambon.
(aud/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

1 Anak Buah Ali Kalora Tewas dalam Kontak Tembak dengan Satgas Tinombala

Liputan6.com, Jakarta – Polri membenarkan kontak senjata antara Satgas Tinombala dengan kelompok anggota Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso Pesisir, Sulawesi Tengah, pada Minggu petang 3 Maret 2019. Satu dari kelompok anggota MIT anak buah Ali Kalora, bernama Romsi alias Basyir dinyatakan tewas dalam insiden tersebut.

“Satu DPO (daftar pencarian orang/buron) asalnya dari Bima alias Romzi, dia termasuk DPO lama di bawahnya Ali Kalora dari tahun 2012. Dia meninggal dunia,” kata Asops Kapolri Irjen Rudy Sufahriadi dalam jumpa pers di Mabes Polri, Jakarta, Senin (4/3/2019).

Dari tangan anak buah Ali Kalora, polisi mengamankan satu barang bukti sepucuk senapan laras panjang berjenis M16. Selain itu, polisi juga mengamankan satu orang dari kelompok yang sama dari insiden tersebut.

“Anggota MIT atas nama Aditya alias Idad alias Kuasa kami juga amankan, dia ditangkap hidup, asalnya dari Ambon Maluku,” lanjut Rudy.

Rudy menegaskan, pengejaran terhadap kelompok MIT, saat ini terus dilakukan. Karena diketahui semenjak 2012 pentolan mereka, Ali Kalora masih menjadi fokus pengejaran.

“DPO-DPO lama, seperti Ali Kalora terus dilakukan, semenjak saya jadi Kapolda masih belum tertangkap. Tapi kita apresiasi hasil kerja tim Satgas Tinombala kemarin,” pungkas Rudy.

2 dari 3 halaman

Kronologi Kejadian

Peristiwa terjadi di wilayah perkebunan Padopi, Kecamatan Poso Pesisir Selatan, Kabupaten Poso, sekitar pukul 17.15 Wita, Minggu 3 Maret 2019.

Sekitar pukul 09.30 Wita, Tim Satgas Tinombala yang dipimpin Mayor Inf Aryudha menerima informasi dari masyarakat bahwa ada sekitar lima orang DPO MIT Poso beristirahat di pondok milik salah satu warga.

Tim Satgas pimpinan Aryudha kemudian berangkat menuju Desa Padopi untuk menangkap kelima orang DPO tersebut. Sekitar pukul 17.15 Wita terjadi kontak tembak antara Satgas Tinombala dengan kelompok teroris tersebut.

Setelah kontak tembak itu, petugas menemukan satu orang DPO MIT tewas dan satu lainnya masih hidup. Selain itu, petugas menyita satu pucuk senjata M-16. Evakuasi jenazah direncanakan akan dilakukan Senin, 4 Maret 2019.

Dengan tertembak dan tertangkap dua DPO kasus terorisme itu, maka jumlah DPO yang diburu anggota Satgas Operasi Tinombala Poso saat ini masih 13 orang lagi.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

SBY Sebut Kontestasi Pilpres 2019 Lebih Keras dari Sebelumnya

Liputan6.com, Jakarta – Ketua Umum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menilai kontestasi Pemilu Presiden (Pilpres) 2019 lebih keras dibandingkan Pilpres sebelumnya di era reformasi.

Pernyataan SBY itu disampaikannya kepada Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Hinca Pandjaitan untuk disampaikan kepada kader Demokrat dan masyarakat.

“Beliau mengamati bahwa kontestasi Pilpres 2019 lebih keras dibandingkan Pilpres sebelumnya di era reformasi, seperti terjadinya polarisasi tajam dan dukungan indentitas yang menguat,” kata Hinca saat membacakan surat kedua SBY yang diberikan kepadanya, di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Hinca menjelaskan, SBY menyampaikan apabila kondisi itu terlampau jauh maka kerukunan bangsa Indonesia akan retak dan dirinya mengajak kader Demokrat serta masyarakat mencegah agar tidak terjadi.

Menurut dia, SBY menilai semua kader Demokrat harus berperan aktif dalam rangkaian Pemilu yang berlangsung aman dan damai, serta memastikan berlangsung demokratis, jujur, dan adil.

“Persaingan pemilu memang keras namun tidak patut terjadinya disintegrasi sehingga perlu kesadaran bersama,” ujarnya.

Hinca mengatakan, dalam surat kedua tersebut, SBY menjelaskan bahwa Presiden Keenam RI itu tidak dapat hadir secara fisik bersama kader Demokrat dalam memenangkan partai karena harus mendampingi Ani Yudhoyono berobat di Singapura.

Menurut dia, SBY berharap semangat para kader tidak berkurang meskipun dirinya tidak hadir secara fisik padahal dua bulan ini merupakan saat menentukan bagi caleg Demokrat.

“Beliau menyampaikan sangat ingin secara fisik berada di lapangan dan berjuang namun harus mendampingi pengobatan Ibu Ani Yudhoyono di Singapura,” katanya.

2 dari 2 halaman

AHY Yakin Mampu

Hinca mengatakan, SBY meyakini Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan dua anggota Majelis Tinggi Partai Demokrat Nachrowi Ramli serta Sukarwo merupakan pemimpin yang tangguh.

Dia menjelaskan, SBY sangat yakin ketiga orang tersebut mampu memimpin kampanye terpadu menggantikan dirinya yang sedang berada di Singapura.

“Beliau juga berpesan agar para senior Demokrat membantu Kogasma, mereka antara lain EE Mangindaan, Amir Syamsuddin, Vence Rumangkang, Syarief Hasan, Djoko Udjianto, Jafar Hafsah, Nurhayati Ali Assegaf, Pramono Edhie, Jhonny Alen Marbun, Max Sopacua, dan Ahmad Yahya,” ujarnya.

Sebelumnya, SBY memberikan secara langsung dua surat kepada Hinca sebagai Sekjen Partai Demokrat di Singapura.

Surat pertama, berisi 10 poin salah satunya memberikan mandat kepada AHY memimpin kampanye Pemilu 2019, dibantu Sukarwo dan Nachrowi Ramli.


Saksikan video pilihan berikut ini:

Bupati Malang Nonaktif Rendra Terancam 20 Tahun Penjara

Liputan6.com, Sidoarjo – Bupati Malang nonaktif, Rendra Kresna menjalani sidang perdana di Ruang Cakra Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya, Juanda Sidoarjo, Kamis 28 Februari 2019.

Dalam surat dakwaan yang dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Joko Hermawan, Bupati Malang nonaktif, Rendra terbukti menerima suap dan gratifikasi total senilai Rp 7,5 miliar dari sejumlah proyek di Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.

“Terdakwa diduga menerima hadiah sejak tahun 2010 hingga tahun 2014 untuk proyek di dinas pendidikan,” kata Joko Hemawan.

Rendra juga diduga menerima fee dari setiap proyek pendidikan Kabupaten Malang sebesar 17,5 persen hingga 20 persen. “Dalam kurun waktu 2010 hingga 2014, terdakwa menerima fee dari semua proyek yang ada di dinas pendidikan,” ucapnya.

Dengan kasus ini, terdakwa dijerat dengan Pasal 12 B UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang tindak pidana korupsi.

Selain itu, terdakwa dijerat dengan Pasal 11 UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU RI Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas UU RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan Tindak pidana korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP Jo pasal 65 ayat 1 KUHP.

“Ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara,” ujar Joko.

Kasus ini terjadi saat KPK menangkap Rendra Kresna yang saat itu menjabat Bupati Malang bersama Ali Murtopo selaku pihak swasta. Rendra diduga menerima suap Rp 3,45 miliar terkait penyediaan sarana penunjang peningkatan mutu pendidikan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Malang.

Selanjutnya, Bupati Malang nonaktif, Rendra dan Eryk Armando Talla selaku pihak swasta ditetapkan sebagai tersangka gratifikasi. Rendra diduga menerima gratifikasi Rp 3,55 miliar terkait sejumlah proyek di sejumlah dinas di Kabupaten Malang.

Dengan perbuatannya, diduga Rendra Kresna mendapatkan hadiah sebesar Rp 7,5 miliar dari kedua terdakwa lainnya.

2 dari 2 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Momen Haru Ayah Gantikan Wisuda Putrinya yang Meninggal

Liputan6.com, Jakarta – Wisuda menjadi salah satu momen yang tentunya sangat ditunggu-tunggu semua mahasiswa. Tak hanya diri sendiri, berhasil melewati masa kuliah dan menyandang gelar sarjana tentu membuat orangtua turut bangga. Segala pengorbanan orangtua tentunya akan terbayar lunas dengan kelulusan anak mereka.

Ketika wisuda biasanya keluarga, khususnya orangtua akan turut hadir menyaksikan momen membanggakan tersebut. Namun berbeda dengan seorang ayah di Aceh ini. Alih-alih menyaksikan momen penyematan gelar sarjana anaknya, dia justru menggantikan sang anak yang telah meninggal untuk menerima gelar tersebut.

Dia adalah Rina Muharrami, mahasiswi Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry yang meninggal dunia beberapa minggu sebelum momen wisudanya. Rina menyelesaikan sidang skripsinya pada tanggal 24 Januari lalu.

Beberapa hari kemudian Rina jatuh sakit dan pada 5 Februari 2019, Rina menghembuskan napas terakhirnya. Sang ayah lantas menggantikan Rina untuk menghadiri wisuda yang digelar di Auditorium Prof Ali Hasjmy pada Rabu (27/2/2019).




Lihat postingan ini di Instagram

Ayah, anakmu wisuda.. • Momen paling mengharukan di acara wisuda hari kedua. Rina muharrami, mahasiswi Fakultas Tarbiyah UIN Ar-Raniry yang memyelesaikan sidang skripsi tanggal 24 januari 2019, beberap hari kemudian tanggal 5 februari rina sang sarjana muda berpulang kerahmatullah karena sakit. Wisuda adalah prosesi penyematan gelar sarjana, puncak pencapaian seseorang dalam menempuh pendidikan tinggi. Wisuda dan sarjana adalah anugerah kebanggaan bagi orang tua dari anak mereka. Orang tua berjuang dan berkorban demi kelanjutan pendidikan anaknya, sementara sang anak berjuang sepenuh hati segenap tenaga merengkuh cita-cita sarjana selayaknya harapan orang tua. Dan wisuda, sekali lagi adalah puncak pencapaiannya. Dimana anak dengan bangga mempersembahkan kesuksesan untuk orang tuanya, bersama menikmati kebahagiaan. Tapi tidak bagi ayah rina, beliau datang mewakili anaknya menjadi sarjana. • ————– • Anakku, hari ini Ayah datang ke acara wisudamu bersama ayah-ayah temanmu yang lain. ayah yang lain datang untuk melihat anaknya jadi sarjana, sementara ayah datang untuk menggantikanmu mengambil tanda sarjana dari kampusmu, nak. Sebenarnya Kaki ayah tak lagi kuat, tapi ayah tegapkan langkah menaiki anak tangga untuk maju mengambil ijazahmu. Hari ini ayah berdiri di depan teman-temanmu. Ayah sedih nak, karena seharusnya kita ada disini bersama. Tetapi Ayah bangga padamu, kamu itu hebat dan mampu meraih impian yang besar. Dan kelak ayah akan menceritakan kepada warga di desa kita bahwa anak ayah seorang sarjana. Seketika terbayang di pelupuk mata engkau datang tersenyum sangat manis dengan baju wisuda yang sangat kau idam-idamkan itu. Kamu seakan membisikkan ditelinga ayah: Ayah, anakmu wisuda… • ——— • Alfatihah untuk rina #uin #wisuda #sarjanamuda #uinar #uinarraniry @kabaraceh @acehinfo @infobandaaceh @kampusuinid

Sebuah kiriman dibagikan oleh UIN AR-RANIRY BANDA ACEH (@uin_arraniry_official) pada 27 Peb 2019 jam 4:59 PST

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 2 halaman

Bikin Haru Warganet

Akun Instagram resmi universitas tersebut lantas mengunggah momen mengharukan ini. Ayah Rani terlihat turut berbaris di panggung bersama dengan mahasiswa lainnya yang hendak menerima gelar sarjana pada momen wisuda tersebut. Ayah Rani lantas menerima ijazah sang anak yang diserahkan langsung oleh rektor Uin Ar-Raniry Banda Aceh.

Sejak diunggah, video tersebut menjadi perhatian publik khususnya warganet. Tak sedikit pula yang memberikan komentar dan mengaku turut sedih melihat momen haru ini.

“Ya allah sang bapak sangat tegar, smoga amal ibada almarhum di trima di sisi allah Amiin,” komentar akun @bilqisazra.

“Sedih,” kata @yandi_diki07.

“Merinding + ikut sedih,” ujar @dodhyazhar_.

Ngabalin Bantah Prabowo soal Rp 11.000 T Uang WNI di LN, Tapi..

Jakarta – Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP, Ali Mochtar Ngabalin membantah Capres Prabowo Subianto soal Rp 11.000 triliun uang WNI di luar negeri. Ngabalin menganggap itu tidak mungkin.

“Wah itu luar biasa deh tidak mungkin suatu yang disampaikan,” kata Ngabalin di posko relawan Kotak Hijau, Jalan Brawijaya IX, Jakarta Selatan, Rabu (27/2/2019).

Ngabalin mangatakan pemerintah selalu berusaha mengembalikan dana yang ada di luar negeri. Salah satu caranya dengan menjalin kerja sama internasional.
“Pemerintah sedang konsentrasi untuk membuat kerja sama dengan negara-negara yang ditemukan adanya uang-uang dalam jumlah yang sangat banyak dan bertahun-tahun itu untuk segera diupayakan untuk kembali ke tanah air,” ucapnya.

Meski begitu, Ngabalin tidak merinci berapa sebenarnya jumlah uang Indonesia yang ada di luar negeri. Dia juga menyebut ini urusan pemerintahan.

“Secara teknis saya tidak bisa ungkapkan tapi ini negara ini kerja negara ini bukan kerja P to P tapi ini adalah kerja dan langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah untuk dan atas nama rakyat Indonesia,” ujar Ngabalin

Prabowo sebelumnya dalam pidatonya mengatakan inti masalah bangsa Indonesia ialah kekayaan yang mengalir ke luar negeri. Menurut Prabowo, uang WNI yang tersimpan di luar negeri jumlahnya sangat besar.

“Ini diakui oleh menteri-menteri dalam kabinet pemerintah ini. Pemerintah yang sekarang berkuasa mengakui bahwa lebih banyak uang… Uang milik warga Negara Indonesia lebih banyak berada di luar daripada di Indonesia,” kata Prabowo.

“Uang warga negara Indonesia di luar negeri jumlahnya lebih dari Rp 11.000 triliun. Jumlah uang di bank-bank di seluruh bank di dalam negeri Rp 5.400 triliun. Berarti dua kali kekayaan Indonesia berada di luar Indonesia, tidak berada di negeri Indonesia,” tuturnya.
(abw/idh)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Ngabalin: Jangan Ente Main-main Bawa Islam di Politik

Jakarta – Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP, Ali Mochtar Ngabalin, mengingatkan semua pihak agar tak sembarangan membawa agama dalam politik.

“Jangan ente main-main ketika membawa label Islam dalam dunia politik. Politik itu mulia, politik itu sebuah panggilan jihad,” kata Ngabalin dalam diskusi di Posko Relawan Kotak Hijau, Jalan Brawijaya IX, Jakarta Selatan, Rabu (27/2/2019).

Ngabalin menyebut cara-cara praktis membuat politik jadi tidak bermoral. Cara tersebut hanya mengandalkan uang dalam penyelesaian masalah.

“Dia (politik) jadi tidak bermoral, tidak bermakna, tidak punya apa-apa ketika politik itu masuk dalam kerangka praktis, pragmatisme. Maka itulah disebut politik praktis, politik transaksional, menyelesaikan persoalan besar hanya dengan how much you pay? Satu kardus? Dua kardus?” imbuhnya.

Ngabalin juga mempertanyakan alasan seseorang dianggap murtad karena perbedaan pilihan dalam pilpres.

“Prabowo Islam, Sandiga Uno Islam, Joko Widodo Islam, Ma’ruf Amin Islam, terus di mana yang membuat Anda musyrik ketika memilih yang satu dan tidak memilih yang lain? Di mana variabel kita menjadi murtad ketika memilih si A dan tidak memilih si B. Atau di mana kita tertuduh jadi munafik?” ujar dia.
(abw/fdn)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>