Aku Gendut, So What?

Melihat linimasa di sosial media, kolom komentar memang merupakan bagian paling seru untuk dilihat. Di situ segala ucapan warganet tertuang seolah tanpa filter. Kolom komentar sekaligus menjadi bukti betapa kejamnya netizen Indonesia, terutama dalam hal mengomentari bagian tubuh seseorang. Tidak peduli tinggi, kurus, gemuk, putih, hitam, rambut kriwil atau lurus semua tak luput dari komentar. ‘Lu sadar nggak sih, lu kayak Nutrijell hidup’. ‘Itu jidat apa lapangan golf bet‘. Beraneka komentar netizen semacam ini dengan mudah dapat ditemui di sosial media.

Bagi sebagian orang mungkin hal ini dianggap sepele, padahal kritik atau komentar nyinyir terkait bentuk, ukuran hingga penampilan tubuh ini masuk dalam kategori body shaming. Ketika korban body shaming marah atau tidak terima, pelakunya biasanya malah membalas dengan kata-kata ‘Gitu aja kok baper‘.

Ada juga anggota Paskibra tingkat kabupaten yang secara fisik ideal tapi masih aja jadi korban body shaming

Setiap hari Naya Defisa menerima keluhan dari para korban body shaming yang tidak berdaya dan tidak terima dirinya dibilang baper. Melalui Instagram, ada puluhan bahkan ratusan orang mengirimkan pesan langsung mengeluhkan hal yang kurang lebih sama. Mereka berkeluh kesah soal pengalaman betapa sakitnya jadi korban body shaming.

“Banyak orang yang kirim pesan kok kelihatannya butuh banget dimotivasi. Pas dilihat akun Instagram mereka, kelihatan baik-baik saja. Tapi ternyata mereka menyimpan derita yang semenyakitkan itu. Ada yang penari modis berprestasi. Ada juga anggota Paskibra tingkat kabupaten yang secara fisik ideal tapi masih aja jadi korban body shaming,” kata Naya Defisa, salah satu perintis kampanye Kamu Cantik yang aktif menyuarakan isu anti-body shaming. Naya menyadari banyak korban body shaming yang memerlukan wadah untuk bertukar cerita dan saling menguatkan.

Awalnya kampanye Kamu Cantik ini ia buat untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Kesejahteraan Sosial, Universitas Padjajaran. “Kami nggak berharap bakal sebaik ini responnya. Kami bergerak lewat Instagram @Kamucantikproject. Dan kami nggak menargetkan punya berapa ratus followers. Kami ingin mengubah perilaku dan cara pandang orang terhadap body shaming melalui kampanye,” kata Naya. Selain Naya ada empat orang perempuan lain yang tergabung dalam kampanye Kamu Cantik, yakni Monica Kristiani, Mutia Rahmi, Nadhira Nur Amalina dan Vidi Asmara.

Ide ini bermula ketika para perempuan ini sadar, ketika berkumpul mereka juga sering jadi pelaku body shaming. “Kita berlima dan perempuan tanpa disadari kalau lagi ngumpul kita pun jadi korban sekaligus pelaku jadi body shaming. Misalnya udah lama nggak ketemu pasti ngomong ‘Eh kok lu gendutan’. karena kita nggak teredukasi bahwa body shaming bukan hal yang harus kita lakukan, kita jadi nggak merasa bersalah,” ungkap salah satu pendiri, Monica Kristiani.

Dalam kehidupan sehari-hari, tak jarang Risti, begitu ia disapa, menerima komentar nyinyir soal bagian pinggang yang dianggap kelewat lebar. Begitu pula dengan bintik-bintik atau freckles di wajah. Tapi ketika tren make up freckles mulai digemari, orang-orang yang dulunya mencaci Risti malah berbalik arah dan melontarkan pujian.

Meski terlihat sepele, body shaming rupanya juga sangat berdampak bagi kesehatan. Sebuah studi berjudul The Relationship between Body Shame, Self-Esteem, and Depression pada 2017 mengungkap, body shaming dapat menyebabkan depresi pada korbannya. Tak heran jika banyak korban body shaming yang memiliki pandangan buruk terhadap diri sendiri.

“Dengan adanya kampanye sosial ini kami ingin mengedukasi, paling nggak kita nggak jadi pelaku untuk diri sendiri. Misalkan pas lagi ngaca, kita sering membuat stigma buruk terhadap diri sendiri,” kata Naya. Melalui Kamu Cantik, mereka kerap membuat konten mengenai permasalahan yang dihadapi korban body shaming serta bagaimana cara positif untuk menanggapinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *