Aktifitas Belajar Mengajar di Jayapura Kembali Normal Usai Banjir Bandang

Liputan6.com, Jayapura – Aktifitas belajar-mengajar di SMP Satu Atap Tarfia Distrik Demta usai banjir bandang di Kabupaten Jayapura, Minggu (31/3/2019) mulai kembali normal.

Kepala Sekolah SMP Satu Atap Tarfia Distrik Demta Jimmy Fitowin mengatakan, ketika banjir bandang melanda Kabupaten Jayapura pada 18-20 Maret 2019 warga sempat mengungsi ke daerah gunung karena adanya isu tsunami.

“Jadi waktu banjir bandang melanda wilayah lain, daerah kami yang notabenenya berada 50 meter dari bibir pantai justru sempat dibuat gempar dengan isu tsunami karena ombak yang tinggi,” katanya.

Menurut Jimmy, karena isu tersebut, kegiatan belajar dan mengajar selama tiga hari tidak berjalan, aktifitas sekolah kembali dimulai pada 21 Maret 2019, namun selama seminggu siswa dipulangkan lebih cepat dibanding biasanya.

“Kala itu, intensitas hujan tinggi sehingga ketika siswa masuk pukul 07.00 WIT, kami sudah pulangkan pada pukul 09.00 WIT untuk mengantisipasi jika ada hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya dilansir Antara.

Dia menjelaskan sedangkan aktifitas belajar dan mengajar mulai kembali normal sejak Senin (25/3) hingga kini, di mana sekolah dengan 53 siswa serta delapan guru juga satu kepala sekolah ini masih terus berjaga dari segala kemungkinan.

“Saya juga sudah mengecek masing-masing guru, untuk mengetahui kondisi keluarganya apakah ada yang terkena banjir bandang dan mengalami kerusakan parah, beruntung semua baik-baik saja meskipun ada satu atau dua yang rumahnya dimasuki air ketika bencana terjadi,” katanya lagi.

Sekadar diketahui, berdasarkan data BPBD Provinsi Papua, korban jiwa meninggal dunia (MD) sebanyak 105 jiwa di mana 85 teridentifikasi, 20 belum teridentifikasi dan sudah dimakamkan, dilaporkan hilang dan belum dapat ditemukan 17 jiwa, luka-luka ringan 768 orang yang terakumulasi sejak 16 Maret 2019 dengan luka berat 153 orang.

Sementara jumlah total pengungsi yang terdampak dari banjir bandang dan meluapnya air Danau Sentani sebanyak 7.795 orang dengan 1.779 KK, di mana jumlah keluarga terdampak pada lima Distrik (Sentani, Sentani Timur, Ebungfauw, Waibu dan Sentani Barat) 25.561 KK serta korban terdampak di 12 Distrik (Sentani, Sentani Barat, Sentani Timur, Waibu, Ebungfauw, Depapre, Ravenirara, Nimboran, Nimbokrang, Kemtuk Gresi dan Namblong, Distrik Demta) sebanyak 33.161 KK.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Banjir bandang yang terjadi di Sentani memakan banyak korban jiwa. Penanganan korban masih terus dilakukan pemerintah setempat meski status masa tanggap darurat bencana dicabut, berubah menjadi masa transisi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *