Pengacara Top Malaysia: Siti Aisyah Bebas, Mengapa Doan Thi Huong Tidak?

Liputan6.com, Kuala Lumpur – Dewan perhimpunan pengacara Malaysia meminta Jaksa Agung Negeri Jiran menjelaskan mengapa WN Vietnam terdakwa kasus pembunuhan Kim Jong-nam –kakak tiri Pemimpin Korea Utara Kim Jong-un– tidak dibebaskan, ketika seorang terdakwa lain dari Indonesia telah menghirup udara bebas.

“Jaksa Agung Tommy Thomas harus menjelaskan ketidakkonsistenan tersebut, terutama karena kasus ini telah menarik perhatian dunia,” kata Ketua Badan Peguam Malaysia (The Malaysian Bar) yang baru terpilih, Abdul Fareed Abdul Gafoor, dalam sebuah pernyataan dikutip dari The Strait Times, Minggu (17/3/2019).

Setelah Kim Jong-nam terbunuh di bandara Kuala Lumpur pada tahun 2017, Siti Aisyah, WN Indonesia, dan Doan Thi Huong, WN Vietnam, didakwa dengan pembunuhan dan dituduh mengusap racun saraf VX ke wajah korban, kata pihak berwenang Malaysia kala itu.

Dakwaan terhadap Siti telah ditarik dua pekan lalu dan pengadilan membebaskannya dalam persidangan 11 Maret 2019 di mahkamah tinggi Malaysia di Kuala Lumpur.

“Dengan mempertimbangkan hubungan baik antara negara kita masing-masing … jaksa penuntut meminta Pengadilan untuk memerintahkan ‘discharge not amounting to an acquittal‘ (DNAA),” kata Jaksa Tommy dalam sebuah surat kepada Menteri Hukum dan HAM RI Yasonna Laoly.

DNAA berarti dibebaskan dari dakwaan dan dilepaskan dari penahanan, namun tak sepenuhnya tidak bersalah. Seperti dikutip dari The Edge Markets Malaysia, DNAA terjadi ketika sebuah dakwaan berawal dari tuntutan yang tak mendasar, tak cukup bukti kuat, penyelidikan yang tak komplet, dan alasan-alasan lain.

Namun, seperti dikutip dari situs resmi Audit Hukum Malaysia, pakar hukum menilai bahwa DNAA memungkinkan mantan terdakwa untuk bisa didakwa lagi jika unsur-unsur untuk dakwaan lain terpenuhi pada kemudian hari.

Di sisi lain, Doan Thi Huong tidak menerima keputusan serupa seperti Siti Aisyah dalam persidangan 11 Maret 2019. Ia justru masih harus menjalani serangkaian proses hukum.

“Ada banyak pertanyaan tentang mengapa satu orang dibebaskan dan dakwaan terhadapnya ditarik, sementara yang lain tidak dan tetap didakwa,” kata Abdul Fareed setelah pertemuan umum tahunan dewan pada hari Sabtu.

Menuai Kritik dari Publik Malaysia

Pembebasan Siti Aisyah yang tiba-tiba, namun meninggalkan sesama terdakwa dari Vietnam Doan Thi Huong tetap berada di balik penahanan, menuai kritik dari publik Malaysia.

Doan dilaporkan menangis terisak sambil memeluk Siti Aisyah ketika tahu bahwa hanya perempuan WNI itu yang dibebaskan oleh hakim dalam persidangan di pengadilan tinggi Malaysia di Kuala Lumpur pada 11 Maret 2019, kantor berita AFP melaporkan.

Warga Negeri Jiran juga mengkritik bahwa Kuala Lumpur diduga tunduk terhadap tekanan diplomatik dari Indonesia.

“Setiap pemerintah sekarang bisa menekan Malaysia untuk membebaskan seorang tersangka dalam kasus kriminal?” tulis satu pengguna Facebook.

Yang lain, John Lim, berkomentar bahwa pembebasan Aisyah “jelas tidak sesuai dengan aturan hukum”.

Siti Aisyah dan Doan Thi Huong selalu membantah pembunuhan, bersikeras mereka ditipu oleh mata-mata Korea Utara untuk melakukan serangan menggunakan agen saraf beracun kepada korban dan berpikir itu hanya lelucon.

Pengacara Huong sekarang telah meminta jaksa agung untuk mencabut dakwaan pembunuhannya.

Para pengacara selalu menyusun kasus dengan mempresentasikan kliennya sebagai kambing hitam. Mereka mengatakan para pembunuh sebenarnya adalah empat warga Korea Utara, yang secara resmi dituduh melakukan kejahatan bersama para perempuan itu, namun melarikan diri dari Malaysia tak lama setelah pembunuhan.

Simak video pilihan berikut:

Ayah Doan Thi Huong kecewa atas putusan Malaysia yang menolak membebaskan Doan Thi Huong. Doan Thi Huong terdakwa pelaku pembunuhan Kim Jong-Nam.

Siti Aisyah Bebas, WN Vietnam Terdakwa Pembunuh Kim Jong-nam Jalani Tes Kejiwaan

Liputan6.com, Kuala Lumpur – Setelah dibebaskannya Siti Aisyah pada Senin 11 Maret 2019 lalu, proses peradilan kasus pembunuhan Kim Jong-nam terus dilanjutkan oleh otoritas hukum Malaysia, dengan Doan Thi Huong asal Vietnam sebagai satu-satunya terdakwa yang tersisa.

Kini, sehari setelah pengajuan bebasnya ditolak oleh pengadilan Malaysia, Doan diwajibkan untuk menjalani tes kejiwaan, kata pengacaranya, sebagaimana dikutip dari The Straits Times pada Jumat (15/3/2019).

Wanita berusia 30 tahun itu dibawa dari penjara ke sebuah rumah sakit di Kuala Lumpur, dengan sebuah van yang dikawal oleh beberapa mobil polisi dan petugas bersenjata lengkap.

Doan dikabarkan menjalani tes kejiwaan selama kurang lebih satu jam.

“Klien kami, Doan, dalam kondisi sangat stres. Dia telah dibawa ke rumah sakit umum untuk menjalani konseling dan penilaian psikiatris,” kata pengacaranya, Hisyam Poh Teh Peik, kepada kantor berita AFP.

“Mari kita semua berdoa untuk kesehatannya dan kebebasan segera,” lanjutnya.

Pada hari Kamis, Doan terisak-isak di pengadilan setelah gagal mengikuti jejak Siti Aisyah untuk bebas dari tuntutan.

Kondisinya yang sangat terguncang membuat Doan sampai harus dibantu berjalan ke luar pengadilan oleh dua petugas polisi.

Menurut laporan beberapa media lokal, keputusan jaksa tersebut adalah perkembangan yang mengejutkan setelah rekan terdakwa asal Indonesia, Siti Aisyah, dibebaskan dan pulang ke negaranya pada hari Senin.

Adapun pihak berwenang Malaysia tidak memberikan alasan khusus untuk menarik dakwaan terhadap Siti Aisyah, yang mengikuti lobi intens oleh Indonesia.

Simak video pilihan berikut: 

Ayah Doan Thi Huong kecewa atas putusan Malaysia yang menolak membebaskan Doan Thi Huong. Doan Thi Huong terdakwa pelaku pembunuhan Kim Jong-Nam.

Imbas Pembebasan Siti Aisyah: Polemik di Indonesia, Kontroversi di Malaysia

Jakarta – Bebasnya Siti Aisyah dari dakwaan kasus pembunuhan Kim Jong-Nam di Malaysia menuai polemik di Indonesia, setelah politikus Tanah Air merespons pernyataan PM Mahathir Mohamad yang mengaku tidak tahu soal lobi Indonesia dalam pembebasan Siti Aisyah. Kasus ini juga menjadi kontroversi di Malaysia setelah seorang politikus Ramkarpal Singh heran dengan Jaksa Agung Tommy Thomas yang tidak mencabut dakwaan Doan Thi Huong, terdakwa Vietnam.

Pemerintah Indonesia menyatakan bebasnya Siti Aisyah tidak lepas dari lobi-lobi yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi) hingga menteri/kepala lembaga terkait sejak era Perdana Menteri Malaysia Najib Razak hingga kini dijabat Mahathir Mohamad. Pertemuan membahas pengajuan pembebasan Siti Aisyah disebut dilakukan Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad pada 29 Juni 2018 di Bogor dan pertemuan Menkum HAM dengan Perdana Menteri Malaysia pada 29 Agustus 2018 di Putrajaya, Malaysia.

“Atas perintah Bapak Presiden, kami, Menlu, Kapolri, Jaksa Agung, berkoordinasi dengan Malaysia untuk mencari cara pembebasan beliau. Bapak Presiden berkomunikasi dengan baik dengan Pak Najib maupun Tun Mahathir. Ini proses panjang upaya dilakukan membantu Saudari Aisyah dan kehadiran negara sesuai Nawa Cita,” kata Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly saat jumpa pers di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (11/3).

Namun pernyataan pemerintah Indonesia itu dibantah Mahathir. Dia mengaku tidak mengetahui ada lobi dari Indonesia untuk pembebasan Siti Aisyah dan menyebut pembebasan itu murni urusan hukum.

“Saya tidak memiliki informasi (tentang hal itu),” kata Mahathir saat ditanya wartawan di Malaysia, seperti dilansir The Star, Selasa (12/3).

Imbas Pembebasan Siti Aisyah: Polemik di Indonesia, Kontroversi di MalaysiaFoto: Siti Aisyah bertemu Jokowi (Rengga Sancaya-detikcom).

Menurut Mahathir, pembebasan Siti Aisyah berdasarkan keputusan pengadilan. Prosesnya sesuai hukum yang berlaku.

“Ini adalah keputusan yang dibuat oleh pengadilan. Dia diadili dan kemudian dia dipulangkan. Jadi, itu adalah proses yang sesuai hukum,” ucapnya.

“Saya tidak tahu detailnya tapi jaksa penuntut dapat mencabut tuntutan hingga membebaskan,” sambung Mahathir.

Pernyataan Mahathir langsung ditanggapi Waketum Gerindra Fadli Zon. Di Twitter, Fadli Zon me-retweet beberapa pemberitaan soal pernyataan Mahathir. Dia mengaku malu karena pembebasan Siti Aisyah diklaim berkat lobi-lobi pemerintah Indonesia.

“Kalau baca komentar Mahathir jadi malu. Begitu ada keberhasilan langsung klaim. Tapi masih banyak masalah tak diselesaikan soal WNI di luar negeri,” cuit Fadli.

Fadli lalu kembali mencuit, masih soal pernyataan Mahathir tentang Siti Aisyah. Sambil menyindir, Wakil Ketua DPR ini mengatakan seharusnya Mahathir dilobi agar tidak merusak ‘skenario’ pemerintah Indonesia.

“Harusnya ada yang melobi PM Mahathir agar jangan bicara terlalu jujur apa adanya. Merusak skenario ‘kepahlawanan’ membebaskan Siti Aisyah,” katanya.

Imbas Pembebasan Siti Aisyah: Polemik di Indonesia, Kontroversi di MalaysiaFoto: Ari Saputra

Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak juga ikut merespons pernyataan Mahathir tersebut. Melalui akun Twitter miliknya, Dahnil minta maaf ke Mahathir dengan me-mention akun Twitter Mahathir, @chedetofficial. Dia minta maaf karena pemerintah Indonesia mengklaim melakukan lobi untuk membebaskan Siti Aisyah.

“Tun Dr @chedetofficial maaf kan pemerintah kami yang klaim melakukan lobi terhadap pemerintah Malaysia terkait Siti Aisyah. Kami menghormati keputusan pengadilan yang menyatakan tidak ada bukti SA terlibat pembunuhan,” ungkapnya.

Dahnil menuding pemerintahan Jokowi melakukan perilaku politik yang memalukan. Dia membandingkan pernyataan-pernyataan pemerintah dan pernyataan Wapres Jusuf Kalla.

“Perilaku politik memalukan ditunjukkan secara demonstratif oleh pemerintahan Jokowi, terkait dengan klaim lobi-lobi pembebasan Siti Aisyah. Mengapa tidak bersikap sewajarnya seperti yang ditunjukkan Pak JK. Sehingga, tidak perlu ada bantahan dari Tun Dr Mahathir, yang berujung memalukan Indonesia,” kata mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah ini.

“Produsen hoax dan kebohongan itu nyata. Bahkan, kini hoax klaim lobi-lobi langsung dibantah oleh Perdana Menteri Malaysia, yang berujung pada nama baik Indonesia di dunia internasional,” sambung Dahnil.

Permintaan maaf Dahnil kepada Mahathir itu dianggap lucu oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin. “Kalo Dahnil Anzar bicara atau nge-tweet seperti itu, maka di TKN atau relawan sudah jadi bahan tertawaan. Itu karena dia nggak bisa jual paslonnya berbasis rekam jejak,” kata Wakil Ketua TKN Arsul Sani kepada wartawan, Rabu (13/3).

Imbas Pembebasan Siti Aisyah: Polemik di Indonesia, Kontroversi di MalaysiaFoto: Ari Saputra

Arsul menegaskan pemerintah tidak pernah menyatakan melobi Mahathir secara langsung terkait kasus dakwaan pembunuhan Siti Aisyah. Dia menyebut pemerintah melakukan silent diplomacy.

“Tidak ada statement Jokowi atau Menlu yang bilang bahwa pemerintah melobi langsung Mahathir. Yang saya tahu pemerintah menjalankan silent diplomacy, yakni melakukan pendekatan terhadap pihak yang berwenang di Malaysia sebagaimana biasanya kalau ada kasus-kasus hukum WNI di luar negeri. Ini memang bagian dari kewajiban pemerintah untuk melindungi warganya,” jelas Arsul.

Selain menjadi polemik di Tanah Air, bebasnya Siti Aisyah juga menuai kontroversi di Malaysia, setelah seorang anggota parlemen wilayah Bukit Gelugor dari Partai Tindakan Demokratik (DAP), Ramkarpal Singh mengomentari penolakan Jaksa Agung Tommy Thomas mencabut dakwaan Doan Thi Huong, terdakwa Vietnam. Ramkarpal menyatakan Doan pantas mendapat perlakuan yang sama seperti Siti Aisyah. Ramkarpal merupakan anggota parlemen dari partai yang tergabung dalam koalisi pemerintahan Pakatan Harapan, yang dipimpin Mahathir.

“Saya dalam pandangan bahwa dakwaan terhadap Doan seharusnya dicabut dengan cara yang sama saat dakwaan terhadap Siti Aisyah dicabut, jika Jaksa Agung (AG) memiliki pandangan bahwa Korea Utara terlibat dalam pembunuhan Jong-Nam,” sebut Ramkarpal yang juga seorang pengacara ini.

“Memaksa Doan melanjutkan persidangan sendirian dan bukan dengan sesama terdakwa, khususnya ketika prima facie (dasar argumen dakwaan) dalam kasus ini telah ditetapkan terhadap keduanya, adalah, dengan hormat, belum pernah terjadi sebelumnya dan ini disesalkan,” imbuhnya.

Ramkarpal mempertanyakan keputusan Jaksa Agung mengabulkan permintaan Menkum HAM Yasonna Laoly untuk mencabut dakwaan terhadap Aisyah atas dasar Korea Utara (Korut) bertanggung jawab atas pembunuhan Kim Jong-Nam.

“Jika ini persoalannya, mengapa AG mendakwa Siti Aisyah sejak awal? Tidak diragukan, AG memiliki wewenang untuk tidak melanjutkan penuntutan terhadap Siti Aisyah seperti yang telah dilakukannya, tapi mengapa dia tidak melakukan hal yang sama dalam kasus Doan?” tanya Ramkarpal dalam pernyataannya.

“Baik Doan maupun Siti Aisyah didakwa bersama. Doan memiliki hak konstitusional untuk diperlakukan sama seperti Siti Aisyah, karena dia berhak atas perlindungan yang setara di hadapan hukum,” tegasnya.

Ramkarpal menambahkan, karena Jaksa Agung tidak mengungkapkan alasan dari keputusannya mencabut dakwaan Aisyah, Doan tidak akan pernah tahu mengapa dirinya diperlakukan berbeda dari Aisyah.

“Jika dia (Doan-red) dinyatakan bersalah, dia akan selalu bertanya apakah Siti Aisyah juga bersalah. Dalam kasus seperti ini, kebijaksanaan AG seharusnya dipertanyakan, khususnya ketika nyawa seseorang dipertaruhkan,” tandasnya.
(nvl/eva)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Cerita Pilu TKI Siti Aisyah Jadi ‘Artis’ Reality Show di Negeri Jiran

Liputan6.com, Banten – Siti Aisyah telah bebas dari dakwaan hukuman mati di Pengadilan Tinggi Malaysia, atas tuduhan meracun Kim Jong-nam, saudara tiri dari Kim Jong-un, pimpinan tertinggi Korea Utara (Korut).

Aisyah bercerita di tahun 2017, tak hanya di Indonesia, tapi juga di Malaysia, marak acara reality show yang ‘ngerjain’ orang, kalau kini kerap disebut ‘prank’.

“Lagi (tahun) 2016 itu kan lagi musim yang jail itu, di Malaysia lagi musim juga,” kata Siti Aisyah, di kediamannya beberapa waktu lalu.

Aisyah tak pernah terpikirkan ia dijebak oleh orang yang baru dikenalnya dan menawarkan tampil di acara reality show, yang berakhir ke meja hijau.

Orang yang menawarkan dia sebagai ‘artis’ pun baru dikenalnya di Malaysia.

“Saya (baru) kenal sama orang yang ngajak. (Pelaku asal Vietnam) saya kenal dia di kantor polisi, ketemu sama dia disana. Saya kenalnya setelah ditangkep, dia duluan yang ditangkep,” ujarnya.

Aisyah bersukur Jaksa Penuntut Umum (JPU) di pengadilan tinggi Malaysia mencabut tuntutannya. Meski begitu, wanita desa yang tak mengerti hukum ini, berharap tidak lagi berhadapan masalah hukum di negeri Jiran maupun Indonesia.

“Selama dua tahun di Malaysia, pemerintah selalu mendampingi saya. Dari Indonesia yang dari kedutaan Indonesia,” terangnya.

Selama menjalani proses hukum di Malaysia, Siti Aisyah merasa sedih. Lantaran baru pertama kali menghadapi kasus hukum.

Meski orang tuanya ingin bertemu Siti di penjara, namun dia melarangnya karena tak ingin membuat semakin sedih kedua orangtuanya.

“Saya banyakin berdoa, dapat dukungan dari pihak kedutaan, pihak pengacara,” jelasnya.

Siti berpesan untuk siapapun warga Indonesia, terutama yang bekerja diluar negeri, untuk tidak mudah percaya dengan orang yang baru dikenalnya.

Kini, Siti hanya ingin menghabiskan waktu nya bersama keluarga besar dan teman karibnya dikampung halaman.

“Mungkin bisa lanjut sekolah. Saya ingin istirahat aja dulu, karena hobinya saya jalan-jalan,” ucap Siti.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Presiden Jokowi menerima Siti Aisyah di Istana usai dinyatakan bebas oleh majelis hakim di Malaysia.

Ketika Siti Aisyah Rakus Makan Saat Tiba di Rumah dan Menolak Tawaran Jadi TKI

Liputan6.com, Serang – Siti Aisyah, TKI asal Banten yang sempat ditahan di Malaysia atas kasus pembunuhan berencana Kim Jong Nam kini telah bebas.

Kepulangan Siti ke rumah orang tuanya di Kampung Rancasari, Desa Sindangsari, Kabupaten Serang, Banten, Rabu (13/3/2019) disambut hangat dan suka cita. Lantunan selawat mengawal Siti masuk ke rumah.

Di hadapan awak media, Siti mengaku ingin melepas rindu dengan orang tua dan beristirahat. Dia masih belum mau memikirkan apa yang akan dilakukannya di kemudian hari.

“Untuk masa depannya, mudah-mudahan bisa lebih baik dari kemarin, buat keluarga besar saya,” kata TKI Siti Aisyah, saat ditemui di kediamannya, Rabu 13 Maret 2019.

Siti menegaskan belum ingin kembali ke Malaysia, apalagi kembali menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW), “Belum kepikiran lagi. Untuk sekarang ini nggak,” katanya.

Pertama kali masuk ke rumah, Siti langsung menuju dapur. Dia pun melahap berbagai makanan yang telah disiapkan orang tuanya. Kesukaan Siti yakni bekakak ayam atau ayam bakar.

“(Bekakak ayam) udah abis. Udah makan semuanya,” katanya.

Siti yang keluar mengenakan kerudung dan berkemeja putih hitam garis-garis, masih tidak bisa menyembunyikan lelah meski ada senyum di wajahnya. Berdasarkan pantauan di rumah dijaga petugas kepolisian dengan laras panjang.

Lebih jauh Siti bercerita bahwa di penjara Malaysia dirinya mendapat perlakuan yang cukup baik. Dia pun mengaku bertemu dengan Doan Thi Huong, terdakwa asal Vietnam yang dituduh berkomplot untuk membunuh Kim Jong-nam, saudara tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un.

Meski tidak satu sel, TKI Siti kerap menyapa Doan jika bertemu di penjara. “Nggak ada ancaman, semua berjalan baik-baik aja. Nggak sekamar sama Doang,” ujarnya.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Presiden Jokowi menerima Siti Aisyah di Istana usai dinyatakan bebas oleh majelis hakim di Malaysia.

Siti Aisyah Pulang Kampung, Bawa Pesan dari Jokowi untuk Keluarga

Siti terlihat lebih segar. Dia mengungkapkan, banyak pesan yang disampaikan Presiden Jokowi, untuk dirinya dan keluarga, saat bertemu di Istana Negara.

“Beliau (Jokowi) menitipkan pesan dan nasehat saja. Supaya lebih baik lagi, enggak mudah cepat percaya sama orang,” jelasnya.

Siti Aisyah, WNI terdakwa kasus pembunuhan Kim Jong-nam –kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong-un– pada Senin 11 Maret 2019 dinyatakan bebas oleh pengadilan Malaysia.

Atas permintaan jaksa, tuntutan terhadap perempuan berusia 27 tahun itu resmi dihentikan oleh pengadilan Negeri Jiran.

Wanita kelahiran Serang, Banten itu tiba di Tanah Air pada Senin sore dengan pendampingan dari Menteri Kementerian Hukum dan HAM, Yasonna Laoly, dan sejumlah perwakilan dari Kuala Lumpur.

Dia mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma sekitar pukul 17.00 WIB. Aisyah lalu dibawa ke Kementerian Luar Negeri RI untuk diserahkan langsung ke keluarga. Acara serah terima ini dilakukan oleh Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi.

“Menkumham, beberapa perwakilan dari KL (Kuala Lumpur) dan juga saya sendiri, telah menyerahkan secara resmi saudara Siti Aisyah kepada keluarga,” kata Retno dalam prosesi pemulangan dan serah terima Siti Aisyah kepada keluarga di Kemlu RI, Senin 11 Maret 2019.

Saksikan video pilihan berikut ini:

Presiden Jokowi menerima Siti Aisyah di Istana usai dinyatakan bebas oleh majelis hakim di Malaysia.

Tameng Silent Diplomacy TKN Tangkis Serangan BPN Soal Siti Aisyah

Jakarta – Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi melempar serangan, kali ini soal pembebasan Siti Aisyah usai PM Malaysia, Mahathir Mohamad, mengaku tidak tahu tentang lobi-lobi Indonesia. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf kemudian memasang ‘tameng’.

Hal ini berawal dari pernyataan Mahathir soal lobi Indonesia di balik pembebasan Siti Aisyah. “Saya tidak memiliki informasi (tentang hal itu),” kata Mahathir saat ditanya wartawan di Malaysia, seperti dilansir The Star, Selasa (12/3/2019).

Menurut Mahathir, pembebasan Siti Aisyah berdasarkan keputusan pengadilan. Prosesnya sesuai hukum yang berlaku.

“Ini adalah keputusan yang dibuat oleh pengadilan. Dia diadili dan kemudian dia dipulangkan. Jadi, itu adalah proses yang sesuai hukum,” ucapnya.

Pernyataan Mahathir ini kemudian direspons oleh Waketum Gerindra, Fadli Zon, dan Koordinator Jubir BPN Prabowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak. Fadli mengatakan harusnya Mahathir dilobi agar tidak merusak ‘skenario’ pemerintah Indonesia.

“Harusnya ada yang melobi PM Mahathir agar jangan bicara terlalu jujur apa adanya. Merusak skenario ‘kepahlwanan’ membebaskan Siti Aisyah,” kata Fadli di Twitter sambil meretweet pemberitaan tentang pernyataan Mahathir.

Sementara itu, Dahnil me-mention akun Mahathir Mohamad, @chedetofficial. Dia minta maaf karena pemerintah Indonesia mengklaim melakukan lobi untuk membebaskan Siti Aisyah.

“Tun Dr @chedetofficial maaf kan pemerintah kami yang klaim melakukan lobi terhadap pemerintah Malaysia terkait Siti Aisyah. Kami menghormati keputusan pengadilan yang menyatakan tidak ada bukti SA terlibat pembunuhan,” ungkapnya.

Dahnil menuding pemerintahan Jokowi melakukan perilaku politik yang memalukan. Dia membandingkan pernyataan-pernyataan pemerintah dan pernyataan Wapres Jusuf Kalla.

“Perilaku politik memalukan ditunjukkan secara demonstratif oleh pemerintahan Jokowi, terkait dengan klaim lobi-lobi pembebasan Siti Aisyah. Mengapa tidak bersikap sewajarnya seperti yang ditunjukkan Pak JK. Sehingga, tidak perlu ada bantahan dari Tun Dr Mahathir, yang berujung memalukan Indonesia,” kata mantan Ketum Pemuda Muhammadiyah ini.

Serangan dari Fadli dan Dahnil ini dijawab oleh Wakil Ketua TKN, Arsul Sani. Dia menganggap cuitan Dahnil hanya jadi bahan tertawaan di kalangan TKN.

Arsul menegaskan pemerintah tidak pernah menyatakan melobi Mahathir secara langsung terkait kasus dakwaan pembunuhan Siti Aisyah. Dia menyebut pemerintah melakukan silent diplomacy.

“Tidak ada statement Jokowi atau Menlu yang bilang bahwa pemerintah melobi langsung Mahathir. Yang saya tahu pemerintah menjalankan silent diplomacy, yakni melakukan pendekatan terhadap pihak yang berwenang di Malaysia sebagaimana biasanya kalau ada kasus-kasus hukum WNI di luar negeri. Ini memang bagian dari kewajiban pemerintah untuk melindungi warganya,” jelas Arsul.

Selain itu, dia memaklumi pernyataan Mahathir yang mengaku tidak tahu soal lobi-lobi dari pemerintah Indonesia. Mengapa?

“Di sisi lain, Mahathir juga harus menyatakan seperti di atas. Karena kalau dia mengakui bahwa dilobi pemerintah Indonesia maka kesan yang akan timbul adalah bahwa dia tunduk pada kemauan pemerintah Indonesia. Bagi negara berdaulat, kesan seperti ini tentu tidak bagus bagi rakyatnya,” kata Arsul.
(imk/mae)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

PDIP: 165 WNI Terancam Hukuman Mati Juga Berhak Diplomasi Total Seperti Siti Aisyah

Liputan6.com, Jakarta – Anggota Komisi I DPR RI Charles Honoris, mengapresiasi keberhasilan Pemerintah dalam memulangkan Siti Aisyah ke Tanah Air. Aisyah bebas dari kasus pembunuhan tokoh politik Korea Utara di Malaysia.

“Bagi saya, pemerintah sudah menjalankan tugas konstitusionalnya untuk melindungi segenap warga negaranya baik di dalam maupun di luar negeri. Tercatat dalam 4 tahun terakhir pemerintah sudah berhasil memulangkan 279 WNI yang terancam hukuman mati di luar negeri,” kata Charles dalam keterangan tertulis di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Meski demikian, politisi PDIP itu menyebut data Kemenlu akhir 2018 masih ada 165 WNI yang terancam hukuman mati di sejumlah negara. Menurutnya, para pekerja lain juga berhak untuk mendapatkan upaya maksimal dan diplomasi total dari negara untuk bisa pulang ke Tanah Air, sama seperti Siti Aisyah.

“Mereka juga berhak mendapatkan perhatian publik yang tidak kalah dari kasus Siti Aisyah. Jangan sampai kejadian yang menimpa Tuti Tursilawati, TKI yang dihukum mati di Arab Saudi tanpa pemberitahuan otoritas setempat, terulang lagi. Saat ini masih ada setidaknya 13 WNI yang menunggu hukuman mati di Saudi,” jelasnya.

Charles mengatakan, ancaman hukuman mati WNI di luar negeri terjadi karena kasus pembunuhan majikan. Padahal, menurutnya, pada TKI terpaksa membunuh karena membela diri.

“Bukan karena tiba-tiba menjadi psikopat, tetapi karena dilecehkan, dianiaya bahkan diperkosa oleh sang majikan. Artinya, kekerasan itu terjadi karena tidak ada perlindungan yang memadai bagi buruh migran Indonesia di tempat mereka bekerja,” terangnya.

Tempat Istirahat Siti Aisyah Dijaga Polisi

Liputan6.com, Jakarta – Kepolisian dari Polres Serang Kota, Banten, akan menjaga rumah yang di tempati oleh Siti Aisyah, dikampung Rancasari, Desa Sindangsari, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Serang, Banten.

Penjagaan dilakukan secara bergantian selama 24 jam. Namun, pihak kepolisian belum memastikan berapa lama rumah Muta’i Indra Jaya, kerabat Siti, akan dijaga.

“Nanti ada anggota dari polres untuk menjaga kediaman, akan di back up terus. Penjagaan sampai aman dari pada Siti Aisyah,” kata AKBP Firman Affandi, Kapolres Serang Kota, saat ditemui dikediaman Muta’i, Selasa (12/03/2019).

Penjagaan diberikan untuk memberikan rasa nyaman dan aman bagi Siti dan keluarganya. Hingga, Siti di anggap kembali pulih dari segi kesehatan fisiknya yang mengalami kelelahan.

“Saya memastikan Siti Aisyah aman sampai ditempat, karena tanggung jawab saya sebagai Kapolres, memastikan yang bersangkutan aman dan sehat Walafiat,” terangnya.

Penjagaan dilakukan bukan karena adanya ancaman, atau tindakan kriminal yang di tunjukkan ke Siti. Namun, semata-mata agar Siti bisa beristirahat.

“Tidak ada ancaman. Tidak ada kriminal, hanya berjaga jaga Siti Aisyah memastikan sehat,” ujarnya.

Siti Aisyah Masih Bisa Diekstradisi di Kemudian Hari

JakartaSiti Aisyah bebas dari dakwaan pembunuhan terhadap Kim Jong-Nam setelah Jaksa Agung Malaysia Tommy Thomas mencabut dakwaan. Meski demikian, Siti Aisyah bisa diekstradisi di kemudian hari.

“Ya memang dibebaskan, tidak bebas murni. Tapi disampaikan sekarang penuntutan sudah dicabut karena tidak cukup bukti untuk meneruskan,” kata Menkum HAM Yasonna Laoly setelah mendampingi Presiden Joko Widodo (Jokowi) menemui Aisyah di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (12/3/2019).

Tak murninya status bebas Aisyah, disebut Laoly, bisa membuat wanita itu kembali berhadapan dengan hukum di Malaysia bila suatu saat nanti ada bukti baru. Aisyah sewaktu-waktu bisa diekstradisi.
“Nanti kalau terjadi begitu kan harus melalui dari kita ekstradisi lagi. Jadi ada proses panjang,” ucap Laoly.

Untuk diketahui, Aisyah sempat terancam hukuman mati atas dakwaan pembunuhan terhadap Kim Jong-Nam, yang merupakan kakak tiri pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong Un. Aisyah didakwa bersama seorang asal Vietnam, Doan Thi Huong.

Mereka didakwa mengusapkan racun gas saraf VX yang mematikan ke wajah Kim Jong-Nam di Bandara Kuala Lumpur, Malaysia, pada Februari 2017. Kedua terdakwa telah menyangkal dakwaan pembunuhan yang dijeratkan terhadap mereka. Keduanya sama-sama meyakini terlibat dalam acara prank (lelucon) dan ditipu sejumlah agen intelijen Korut, dalang utama kasus ini, yang telah kabur ke negaranya.

Persidangan kasus ini dimulai sejak Oktober 2017 dan berjalan lambat dengan sejumlah penundaan dalam beberapa bulan terakhir.

Kembali ke Laoly, dia yakin kasus tersebut tidak berlanjut. Sebab, Laoly menyebut indikasinya dari dakwaan yang dicabut.

“Kita percaya dengan yang kita sampaikan tiga poin itu. Itu sudah melihat Jaksa Agung melihat tidak bisa diteruskan, makanya dia cabut. Kalau prosesnya seperti itu ya kita kan menghargai kedaulatan hukum negara lain, kita tidak boleh intervensi kan,” kata Laoly.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi menegaskan kasus terhadap Aisyah sudah dihentikan. “Tapi dalam tahap ini kan jaksa sudah menghentikan tuntutannya,” kata Retno.

Aisyah sendiri telah pulang ke Indonesia pada Senin (11/3) setelah dakwaannya dicabut. Sepulangnya di Tanah Air, pemerintah menyerahkan Aisyah kepada keluarganya.
(gbr/fdu)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>