Keraton Kartasura, Riwayatmu Kini

Solo – Rabu Pahing 17 Muharam 1670 (1745 M) menjadi hari yang bersejarah bagi Kerajaan Mataram Islam. Itulah hari berpindahnya kerajaan tersebut dari Kartasura ke Keraton Surakarta.

Saat itu, rombongan besar mengular, dua ratus prajurit berkuda dan prajurit lima batalion menjadi saksi atas perpindahan itu. Dipimpin raja mereka, Sri Susuhunan Paku Buwana II, beserta keluarga raja dan pejabat Kerajaan Mataram Kartasura.

Seluruh harta kerajaan diboyong. Sepasang pohon beringin yang masih muda, singgasana, bangsal pengrawit, gajah dan burung kesayangan Sri Baginda, arca-arca emas untuk upacara, pusaka Kyai Ppangarab-arab dan pusaka Kyai Butamancak, kitab-kitab pusaka, dan tak ketinggalan pula pusaka Nyai Setomi.

Bedol negara. Tidak hanya keluarga raja dan petinggi kerajaan, tetapi juga tukang patri emas, tukang besi, penjahit, tukang kayu, tukang batu, abdi dalam keraton, peniup terompet, abdi dalem dapur dengan segala perkakasnya, semuanya ikut boyong.

“Ini jalan yang dilalui mereka dua ratus lima puluh tahun yang lalu,” kata Sarosa Suyowiyoto, menunjuk Jalan Slamet Riyadi, Kartasura.

Jalan kabupaten itu membujur Barat ke Timur di sisi utara situs Keraton Kartasura, tidak jauh dari jalan Deandles (Jalan Raya Solo-Semarang). Jika ditarik lurus ke timur, jalan beraspal itu akan tembus sampai di Keraton Surakarta.

Enam puluh enam tahun sebelum peristiwa perpindahan tersebut, Keraton Kartasura secara resmi pertama kali didiami oleh Sunan Amangkurat II (1677-1702) meski pembangunannya belum selesai benar. Pada 11 September 1680, Raja Mataram yang semula bernama Pangeran Adipati Anom menempati Kartasura. Kartasura adalah keraton sekaligus ibu kota baru Kerajaan Mataram pengganti keraton yang lama di Plered, Yogyakarta.

Pemilihan lokasi keraton dan ibukota Kerajaan Mataram yang baru diserahkan kepada tokoh-tokoh kerajaan. Setelah melakukan survei, mereka berembuk dan akhirnya menetapkan tiga lokasi yang dianggap tepat untuk membangun keraton.

Lokasi yang diusulkan adalah Wanakerta, Logender, dan Tingkir. Ketiga lokasi ini semuanya layak dijadikan lokasi baru kerajaan. Logender, misalnya, daerahnya terbuka dan cukup air. Sedangkan Tingkir, selain cukup air wilayahnya juga sejuk. Kondisi yang sama juga ada di Wanakerta. Daerah itu bahkan dekat dengan bekas wilayah Pajang dan Mataram.

Tujuh bulan lamanya keraton dibangun dan mendekati selesai. Bentengnya yang luas dan tebal baru dibuat dari gundukan tanah berkeliling dan disangga dengan papan di luar dan di dalamnya, agar tidak runtuh. Semak berduri mengelilingi bagian depan benteng, dan parit berair mengelilingi seluruh kedhaton. Di luar tembok benteng baluwarti bagian selatan terdapat alun-alun.

Loji Kumpeni terletak agak jauh di bagian utara dari alun-alun utara. Semua bangunan hampir belum ada yang berdinding bata, masih berbilik bambu dan beratapkan rumbia. Keraton Kartasura baru kelihatan megah dan sempurna pada tahun 1682.

Saat Sunan Amangkurat II untuk pertama kali memasuki istananya yang baru, nama Wanekerta diganti menjadi Kartasura Hadiningrat. Dua puluh tiga tahun pemerintahannya penuh dengan pemberontakan demi pemberontakan.

“Semua barang peninggalan keraton Kartasura sekarang berada di Keraton Surakarta. Sebagian disimpan di Museum Radyapustaka (Solo),” ujar Sarosa.

Tebeng atau hiasan pintu Keraton Kartasura, misalnya, sekarang dipasang di bagian atas pintu depan Museum Radyapustaka. Di museum itu juga tersimpan lonceng perunggu besar, kursi meja, perlengkapan kuda, dan wayang kulit. Rongsokan mesin jam yang besar teronggok di salah satu ruang museum. Benda itu pernah diletakkan di alun-alun Keraton Kartasura.

Baca berita menarik lainnya di titiktemu.id.

2 dari 3 halaman

Riwayatmu Kini

Kini, menyaksikan bekas Keraton Kartasura (1680-1745) sungguh menyedihkan. Tembok batu-bata di luar keraton atau baluwarti telah hancur dan rata dengan tanah, hanya menyisakan beberapa bagian di beberapa tempat. Padahal, dulu ukuran tembok luar mencapai lebih 1 km x 1 km. Tinggi benteng itu lebih dari lima meter dengan ketebalan 2,5 meter.  Di atas tembok itulah pada zamannya prajurit keraton melakukan patroli dengan kuda.

Di dalam tembok baluwarti kini dipenuhi dengan perumahan permanen, ladang, dan makam. Selain alun-alun, tempat tinggal puteri keraton (keputren) dan petamanan keraton berubah menjadi permukiman padat. Sitihinggil, tempat yang ditinggikan di depan alun-alun, sebagian telah pula menjadi permukiman. Puing-puing bangunan kuno yang tersisa adalah gedung obat (mesiu), bangunan pos jaga tentara Belanda.

Tak ada kolam penuh air di Balekambang di sisi tenggara keraton. Sebagai gantinya adalah rumah-rumah dan lapangan sepakbola, dan gundukan tanah setinggi lebih dari 20 meter.

Masyarakat sekitar menyebutnya Gunungkunci. Di puncak “gunung” itu terdapat makam keramat. Pada masa kejayaan Keraton Kartasura, Gunung Kunci adalah Segoroyoso atau tempat rekreasi keluarga keraton yang dibangun pada masa Paku Buwana I (1704-1709).

Buku Babad Tanah Jawi menggambarkan kompleks ini sangat kokoh. Bentengnya saja dibuat dua lapis, yakni Baluwarti di bagian terluar dan Sri Manganti pada bagian dalam. Di sekeliling Benteng Baluwarti terdapat parit lebar berair dan tanaman semak berduri sebagai alat pertahanan.

Namun, kini benteng Baluwarti sudah hancur, hanya sekitar 100 meter yang masih berdiri, selebihnya telah menjelma jadi permukiman warga. Di dalam benteng Sri Manganti terdapat bangunan utama keraton, masjid agung, gedong obat tempat menyimpan mesiu, dan sejumlah bangunan pendukung lain.

Keraton Kartasura memang tinggal puing. Tidak ada lagi yang tersisa kecuali nama-nama toponim. Di dalam tembok Baluwarti misalnya, terdapat tempat-tempat dengan nama Keputren, Sitinggil, alun-alun, Kandangmacan, Sayuran, Bale Kambang, Sanggrahan, Gedung Obat, Pasar, Pelembatok, Sri Penganti, Manggisan, Krapyak, dan Bakalan.

Sementara, bangunan utama keraton atau tempat kediaman raja seluruhnya menjadi area makam kerabat Keraton Surakarta dan penduduk setempat. Salah satunya adalah Kanjeng Raden Ayu Adipati Sedahmirah, pujangga cantik kesayangan Paku Buwana X.

3 dari 3 halaman

Sumbangan Sukarela

Menurut juru kunci, makam-makam penduduk setempat juga banyak yang berasal dari kalangan keraton. Dulu mereka ditugaskan oleh pihak keraton untuk mengurusi keraton Kartasura yang telah ditinggalkan.

Menurut kepercayaan Jawa, bila keraton pusat kejayaan dan kebesaran sebuah kerajaan telah dirusak oleh tangan- tangan kotor, tempat itu sudah tidak boleh didirikan pusat pemerintahan lagi. Dan bekas keraton Kartasura pun kini dijadikan makam.

“Sejak Paku Buwono X wafat, tidak ada lagi yang memperhatikan tempat ini,” kata Haris, abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta yang dipercaya menjadi juru kunci benteng. Haris mengaku telah berupaya sekuat mungkin untuk merawatnya. Namun, karena keterbatasan dana, ia tidak bisa berbuat banyak.

“Selama ini biaya perawatan hanya mengandalkan sumbangan dari pengunjung dan peziarah. Ada juga bantuan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah, Rp 200 ribu setiap bulan,” kata Haris.

Pemasukan tersebut, menurut Haris, hanya cukup untuk membiayai perawatan ringan. Terlebih sejak 2005 pihak Keraton Surakarta tidak lagi mengizinkan ada aktivitas ziarah malam Jumat ke tempat ini. Praktis, pemasukan yang didapatkan menurun tajam.

“Pendopo yang dibangun Paku Buwono X itu, kondisinya sudah sangat parah. Namun, apa boleh buat, tidak ada dana untuk memperbaikinya,” kata Haris sembari menunjuk sebuah bangunan pendopo kecil di tengah benteng.

Kondisi bangunan yang berjarak sekitar 15 meter dari rumah tinggal Haris itu memang sudah parah. Lantainya yang terbuat dari semen dan batu bata sudah pecah di sana-sini. Kerangka kayu penyangga atapnya sudah mulai miring, sebagian Sudah dimakan rayap.

Untuk membiayai semua pekerjaan perawatan mereka hanya mengandalkan dari sumbangan sukarela para pengunjung. Kalau pun tidak cukup, terpaksa Haris harus merogoh kocek sendiri. Untuk jerih payah yang dilakukannya itu, pihak Keraton Solo memang memberikan gaji kepada Haris, meski sangat minim.

“Gaji saya dari keraton hanya Rp 100 ribu per bulan, kemudian bantuan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah Rp 200 ribu setiapbulan,” ujar Haris.

Kondisi di bekas keraton itu kini sepi, kalau pun ada pengunjung biasanya tidak lama. Ada juga beberapa wisatawan asing yang datang, sementara untuk domestik biasanya berasal dari pelajar.

“Para pelajar biasanya datang bulan April dan Mei, untuk mengetahui sejarah petilasan ini,” ujarnya.


Simak video pilihan berikut ini:

Polda Maluku Antisipasi Rencana Pembebasan Abu Bakar Baasyir

Liputan6.com, Maluku – Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko mengatakan, terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir masih memiliki pengaruh di kalangan yang seideologi dengan pria 81 tahun itu. Namun, pemerintah sudah memperhitungkan risiko-risikonya. Salah satunya dengan memetakan risiko dan pencegahannya.

Oleh karena itu, Polda Maluku mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan saat pembebasan Abu Bakar Baasyir terealisasikan. Meski Kepala Bagian Humas Polda Maluku, AKBP Sabtu Ohoirat mengatakan, masyarakat Maluku tidak akan terpengaruh dengan informasi pembebasan Baasyir.

Menurut dia, keeratan kerukunan antarumat beragama di Maluku menjadi bentengnya.

“Orang Maluku sudah dewasa, dan tidak akan lagi terprovokasi,” kata Ohoirat kepada Liputan6.com, Selasa (22/1/2019).

Dia menyontohkan saat Pemilihan Kepala Daerah di Maluku 2018 kemarin. “Pilkada sudah membuktikan, Maluku adalah daerah paling aman, jadi tak usah terpengaruh dengan hal-hal di luar Maluku,” ujar dia.

Walaupun demikian, demi memastikan kondisivitas di lapangan, Ohoirat memastikan Polda Maluku tetap memantau situasi.

“Ya, menyangkut teroris (Abu Bakar Baasyir) ini kan sering orang berpandangan macam-macam, tapi selama ini kan Maluku aman dan tidak perlu terpengaruh, jika ada hal-hal yang mencurigakan segera sampaikan kepada pihak kepolisian,” kata Ohoirat.

2 dari 3 halaman

Kata Moeldoko

Kepala Staf Kepresidenan RI Moeldoko mengatakan, terpidana kasus terorisme Abu Bakar Baasyir masih memiliki pengaruh di kalangan jamaah yang seideologi dengan pria 81 tahun tersebut. Namun, pemerintah sudah memetakan risiko dan pencegahannya.

“Ya, apapun, beliau (Baasyir) masih punya pengaruh, buktinya waktu di Nusakambangan juga masih banyak yang datang kan? Akan tetapi, aparat sudah memitigasi itu,” kata Moeldoko usai menjadi pembicara diskusi di acara Indonesia Millennial Summit 2019 di Hotel Kempinski Grand Indonesia Jakarta, Sabtu (19/1/2019).

Sementara terkait dengan kekhawatiran sejumlah pihak akan meningkatnya penyebaran paham radikal ketika Abu Bakar Baasyir dibebaskan, Moeldoko berjanji pemerintah tidak akan longgar dalam melakukan pengawasan, pencegahan, dan penanggulangan terorisme.

Presiden Joko Widodo, lanjut dia, tetap menjalankan komitmennya dalam memperketat pengawasan dan penanggulangan tindak pidana terorisme di Tanah Air.

“Bukan berarti pembebasan Baasyir itu, terus kita kendor dalam konteks penanggulangan dan pengawasan, tidak, tidak. Komitmen Presiden untuk tidak memberi ruang kepada kelompok radikal dan terorisme itu tidak pernah berubah,” ucap mantan Panglima TNI itu seperti dilansir Antara.

Moeldoko menjelaskan, keputusan Jokowi untuk membebaskan Abu Bakar Baasyir merupakan salah satu bentuk penanggulangan terorisme lewat pendekatan yang lembut.

“Seperti disampaikan Pak Jokowi kemarin (dalam debat capres cawapres) bahwa dalam konteks penanggulangan terorisme itu bukan hanya pendekatan hard, melainkan juga ada pendekatan soft, yaitu bagaimana preventif dilakukan,” ujar Moeldoko.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Dihukum Bayar Ganti Rugi Penumpang, Begini Reaksi Pihak Garuda Indonesia

Liputan6.com, Jakarta – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat mengabulkan gugatan B.R.A. Koosmariam Djatikusumo, penumpang yang dadanya tersiram air panas di pesawat Garuda Indonesia, terhadap Garuda Indonesia, Selasa, 22 Januari 2019.

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang dipimpin oleh Marulak Purba, selaku ketua majelis dengan anggota majelis Agustitus Setya Wahyu Triwiranto dan Titik Tejaningsih menyatakan, Garuda Indonesia melakukan perbuatan melawan hukum. Selain itu Garuda juga dihukum untuk membayarkan ganti rugi imateriel kepada Penggugat sebesar Rp 200 juta.

Kuasa hukum penggugat David Tobing mengapresiasi putusan majelis hakim yang dalam pertimbangannya menyatakan bahwa tindakan pramugari Garuda Indonesia menumpahkan air panas yang mengenai tubuh Penggugat merupakan bentuk perbuatan melawan hukum.

“Dikabulkannya ganti rugi imateriel ini sangat beralasan mengingat peristiwa tersebut menimbulkan bekas luka di bagian dada yang tidak bisa hilang (cacat tetap)” ungkap David dalam keterangan yang diterima Liputan6.com, Selasa, 22 Januari 2019.

Seharusnya, lanjut David, Garuda Indonesia berbuat aktif meringankan beban penderitaan dengan memberikan pengobatan yang maksimal mengingat luka yang diakibatkan tumpahnya air panas tersebut mengenai bagian dada penumpangnya.

“Meskipun gugatan kami dikabulkan, kami tetap membuka kemungkinan untuk mengajukan banding karena majelis hakim hanya mengabulkan sebagian dari gugatan yang kami ajukan yaitu ganti rugi imateriel sedangkan tuntutan kami mengenai ganti rugi materiil tidak dikabulkan,” lanjut David.

Dihubungi secara terpisah, Humas Garuda Indonesia Iksan Rosan mengatakan telah mendengar informasi tersebut. Namun, pihaknya akan berbicara terlebih dahulu dengan pihak kuasa hukum dan internal.

“Kami akan berbicara dengan kuasa hukum dan internal Garuda Indonesia tentang langkah hukum ke depan. Kami akan informasikan secepatnya,” kata Iksan kepada Liputan6.com, Selasa, 22 Januari 2019.

Gugatan B.R.A. Koosmariam Djatikusumo terhadap PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk yang terdaftar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor 215/PDT.G/2018/PN.JKT.PST diajukan pada 29 Desember 2017.

Penggugat selaku penumpang maskapai Garuda Indonesia nomor penerbangan GA-264 dengan rute dari Bandara Soekarno Hatta-Jakarta menuju Bandara Blimbingsari Banyuwangi merasa dirugikan akibat tindakan pramugari Garuda Indonesia yang pada saat Meal and Beverage serving menumpahkan 2 (dua) gelas air panas hingga mengguyur tubuh Penggugat yang mengakibatkan Penggugat mengalami cacat tetap.

Saksikan video pilihan di bawah ini: 

Jembatan Penghubung Desa di Gowa Ambruk

Liputan6.com, Gowa – Salah satu jembatan penghubung antar desa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan ambruk terempas derasnya air sungai Je’ne Lata, Selasa (22/1/2019). Jembatan itu berada di Dusun Manyempa, Desa Moncongloe, Kecamatan Manuju, Kabupaten Gowa.

“Jembatannya ambruk akibat derasnya air sungai di bawahnya,” kata Kapolres Gowa, AKBP Shinto Silitonga kepada Liputan6.com.

Kapolsek Manuju, Iptu Kasmawati mengatakan, ambruknya jembatan yang berpondasi beton tersebut diketahui terjadi pada pukul 11.00 Wita.

“Arus air sungai Je’ne Lata sangat deras sehingga membuat jembatan ambruk,” kata Kasmawati.

Meski demikian, pihaknya telah mengantisipasi agar masyarakat tak melintas di jembatan yang panjangnya diperkirakan 55 meter tersebut. Sehingga tak ada korban jiwa dalam peristiwa itu.

Menurut laporan dari warga setempat, arus deras yang terjadi di sungai Je’ne Lata merupakan kiriman dari wilayah Kecamatan Bongayya dan Biring Bulu, Kabupaten Gowa dan hal tersebut telah dipantau warga sejak Senin, 21 Januari 2019.

“Selain mungkin karena curah hujan yang tinggi, itu arus kiriman dari Bongaya dan Biringbulu,” ujar Kasmawati.

Warga setempat bersama personel Polsek Manuju saat ini berupaya berkoordinasi dengan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Gowa (Pemda Gowa) agar bisa mendatangkan bantuan secepatnya.

“Personel Polsek Manuju Kabupaten Gowa dan warga setempat masih memantau lokasi jembatan hingga saat ini,” Kasmawati menandaskan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

4 Insiden Misi Angkasa Luar Paling Tragis di Dunia

Liputan6.com, New York – Menjadi seorang astronot itu berat. Nyawa taruhannya. Sebelum melakukan misi angkasa luar, seorang astronot harus menjalankan latihan berat hingga karantina.

Hidup di angkasa luar selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun, tentu bukan hal yang mudah. Harus rela berpisah dengan keluarga hingga teman terdekat.

Dikatakan berbahaya karena insiden menyeramkan kapan saja bisa terjadi. Apalagi misi yang mereka lakukan bukan di Bumi lagi.

Dalam catatan sejarah, ada sejumlah insiden tragis yang terjadi saat misi di luar Bumi. Seperti dikutip dari laman Toptenz, Selasa (22/1/2019), berikut empat insiden tragis saat misi angkasa luar itu:


Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 5 halaman

1. Intelsat-708

Kejadian nahas menimpa Intelsat-708 pada 14 Februari 1996 di China. Pasalnya, saat melakukan peluncuran Intelsat-708 mengalami kebocoran bahan bakar.

Akibatnya, mesin Intelsat-708 tidak berfungsi dengan baik. Satelit itu melenceng dan keluar dari jalur sehingga jatuh di pemukiman warga.

Satelit ini diluncurkan pada 14 Februari 1996 di dekat kota Xichang, perbatasan dengan Vietnam. Kecelakaan terjadi setelah satelit lepas landas selama 20 detik.

Dalam catatan misi angkasa luar, insiden ini jadi yang paling buruk.

3 dari 5 halaman

2. Columbia STS-107

Tragedi antariksa itu terjadi 1 Februari 2003. Pesawat ulang alik Columbia STS-107 meledak, hancur berkeping-keping. Tujuh awaknya: Rick D Husband, William C McCool, Michael P Anderson, Ilan Ramon, David Brown, Laurel Salton Clark, dan Kalpana Chalwa — astronot wanita pertama asal India, tewas.

Tragisnya, musibah terjadi 16 menit sebelum mereka mendarat pulang ke Bumi, dari waktu pendaratan yang dijadwalkan di Cape Canaveral.

Kala itu, sesaat sebelum pesawat meledak, pusat kontrol misi NASA di bumi mengetahui bahwa Columbia akan menemui bencana, dan para awaknya kemungkinan besar tak bakal selamat.

Wayne Hale, yang kemudian menjadi manajer program ulang alik pesawat luar angkasa, menulis di blognya soal hari nahas itu.

Hale menulis, kala itu Direktur Jon Harpold berpendapat, “Tak ada yang bisa kita lakukan soal kerusakan TPS (Thermal Protection System). Kupikir para awak tak perlu tahu. Bukankah akan lebih baik bagi mereka terbang pulang dengan perasaan bahagia dan kemudian tewas tanpa diduga ketika memasuki Bumi, ketimbang tetap tinggal di orbit, mengetahui tak ada sesuatu yang bisa dilakukan, hingga persediaan oksigen habis?”

Sementara tidak ada yang tahu pasti apa yang menyebabkan Columbia celaka, para insinyur di Johnson Space Center cukup yakin, mereka menemukan jawabannya. Sebelumnya, mereka telah mencoba mengingatkan para petinggi, namun diabaikan.

4 dari 5 halaman

3. Misi Soyuz-11

Pada tahun 1971, dunia mencatat terjadinya kematian pertama tiga manusia di angkasa luar. Adalah kosmonot Uni Soviet, Georgy Dobrovolsky, Vladislav Volkov, dan Viktor Patsayev yang meregang nyawa dalam peristiwa tragis itu.

Semua berawal dari keberangkatan ketiganya pada 7 Juni 1971 dari Baikonur Cosmodrome. Mereka menaiki pesawat Soyuz 11 ke luar Bumi, menuju stasiun pertama yang dibangun manusia: Salyut 1.

Ketiganya lalu tinggal di Salyut selama 24 hari. Hingga akhirnya pada 30 Juni 1971, mereka dijadwalkan kembali ke Bumi. Setelah mendarat, saat pintu kapsul dikuak, para petugas pemulihan terkejut bukan kepalang. Mendapati tiga manusia di dalamnya dalam kondisi tak sadarkan diri.

“Mereka menemukan 3 kosmonot di kursi masing-masing, sama sekali tak bergerak, dan ada bercak-bercak biru kehitaman di wajahnya,” kata Kerimov. “Darah mengalir dari hidung dan telinga.”

Petugas kebingungan bagaimana ketiga kosmonot itu bisa meninggal dunia. Padahal proses pendaratan berjalan normal, sesuai petunjuk, tak jauh dari lokasi peluncuran di Kazakhstan.

Berdasarkan laporan, penyebab kematian ketiganya adalah sesak napas. Penyelidikan mengungkap, katup ventilasi pernafasan mereka pecah, para kosmonot mengalami sesak nafas. Penurunan tekanan secara ekstrem juga makin memperberat kondisi mereka.

Mereka tewas dalam hitungan detik, yang terjadi pada ketinggian 168 kilometer di angkasa luar, saat pesawat masuk kembali ke atmosfer sebelum sampai di Bumi.

Karena kapsul yang membawa ketiganya kembali secara otomatis, satelit itu bisa mendarat tanpa dikemudikan pilot.

5 dari 5 halaman

4. The Apollo 1 Fire

Gus Grissom, Ed White, dan Roger Chafee tak pernah mencapai Bulan. Ketiga astronot Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) itu tewas saat roket Apollo 1 meledak dalam simulasi peluncuran pada 27 Januari 1967.

Hubungan pendek arus listrik menimbulkan loncatan bunga api dan menyambar oksigen murni yang menjadi salah satu pendorong roket.

“Kebakaran, aku mencium kebakaran,” kata salah satu astronot pada pukul 18.31 di hari nahas itu. Dua detik kemudian, astronot lain, mungkin Ed White berkata, “Kebakaran di kokpit.”

Kebakaran menyebar dengan cepat ke kabin. Komunikasi terakhir dengan para kru terdengar hanya 17 detik kemudian.

Ketiganya tahu, ada risiko yang mengancam mereka ketika bergabung dalam misi angkasa luar. Apalagi untuk Letkol Grissom. Ia adalah orang AS kedua yang ke angkasa luar, menggunakan Liberty Bell 7.

Saat kembali ke Bumi, kapsul antariksanya dipenuhi air. Ia nyaris tenggelam. Pascatragedi, program angkasa luar ditunda tapi tidak dihentikan. Pada 25 Mei 1961 Presiden John F Kennedy berkomitmen bahwa Amerika Serikat akan mendaratkan seorang manusia di Bulan pada akhir dekade.

Setelah itu, Apollo 7 berhasil diluncurkan pada tanggal 11 Oktober 1968, pertama yang membawa astronot.

Kurang dari setahun kemudian pada bulan Juli 1969, Apollo 11 mendaratkan Neil Armstrong di Bulan.

Sejumlah orang berpendapat, “Seandainya kecelakaan Apollo 1 tak terjadi, manusia mungkin tak akan pernah menjejakkan kaki di Bulan.”

Mengenali Ciri-Ciri Mobil Bekas Tabrakan

Liputan6.com, Jakarta – Pasar otomotif khususnya roda empat di Tanah Air masih tergolong seksi hingga saat ini. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya model baru yang turut berlomba untuk dipilih menjadi kendaraan idaman. 

Tak cuma edisi baru saja yang diburu, mobil dengan status bekas juga terus banjir peminat, baik itu mobil merek Eropa atau pun Jepang. Meski demikian, calon pembeli sebaiknya waspada saat hendak membeli mobil bekas.

Meski sang pemilik atau dealer mengaku kendaraan bukanlah bekas tabrakan, calon pembeli sebaiknya memeriksa dengan teliti.

“Penting bagi calon pembeli memeriksa dengan baik kondisi mobil yang hendak dibeli. Jangan sampai nantinya meyesal karena ada kerusakan yang tidak diketahui saat melakukan transaksi,” kata Jeffrey Andika, CEO OtoSpector di kawasan Blok M, Jakarta Selatan, Selasa (22/1/2019).

Jeffrey juga menjelaskan ada beberapa ciri mobil tersebut merupakan bekas tabrakan, salah satunya rangka san sasis telah mengalami perbaikan.

“Adanya perbaikan pada pilar mobil, kaca depan atau belakang tidak orisinil, terasa tidak stabil saat dikendarai,” katanya.

2 dari 2 halaman

Selanjutnya

Memeriksa kondisi mobil adalah hal wajib yang harus dilakukan sebelum ‘meminangnya’.

Karena itu, Jeffrey menghimbau calon konsumen mobil bekas untuk menggunakan jasa pemeriksaan dan mekanik mobil terpercaya.

“Kalau di kami, setelah inspeksi dilakukan, pengguna akan mendapatkan laporan yang berisi informasi detil mengenai mobil, serta skor atau nilai untuk kondisi interior, eksterior, mesin dan kaki-kaki, juga nilai secara keseluruhan untuk sebuah mobil. Terlebih lagi, laporan tersebut meliputi informasi bebas banjir dan tabrakan,” pungkasnya.

Mobil Bekas Banjir Mudah Dikenali, Begini Caranya

Liputan6.com, Jakarta – Mobil bekas saat ini masih menjadi pilihan bagi masyarakat Tanah Air yang membutuhkan kendaraan dengan harga lebih terjangkau atau penghobi mobil klasik.

Saat hendak membeli mobil banyak kondisi kendaraan yang sebaiknya dihindari. Salah satunya, mobil bekas banjir yang akan mendatangkan kerugian cukup besar meskipun sudah dilakukan servis oleh pemilik sebelumnya.

Nah, saat membeli mobil bekas, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tidak memilih mobil bekas banjir.

“Saat inpeksi kami menjamin kendaraan akan ketahuan apakah bekas banji atau tidak. Karena memang ada poin-poin penting untuk mengetahui apakah mobil tersebut bekas banjir,” kata Jeffrey Andika, CEO OtoSpector.

Jeffrey menambahkan, terdapat empat ciri mobil bekas banjir, salah satunya bau tidak sedap pada interior mobil.

“Terdapat endapan kotoran atau lumpur yang tidak wajar pada sudut dan sela interior. Karat dan korosi menyeluruh dan terdapat kerusakan mesin,” ujar Jeffry.

Karena itu sebaiknya calon konsumen lebih teliti saat memeriksa kondisi mobil bekas yang hendak dibeli. Gunakan waktu disiang hari agar terlihat jelas kondisi mobil secara keseluruhan.

2 dari 2 halaman

Tips Merawat Mobil Usai Kehujanan

Beberapa hari belakangan, intensitas hujan di wilayah Jakarta dan sekitarnya masih cukup tinggi. Bahkan, terkadang hujan turun di jam-jam sibuk, seperti pagi hari saat orang berangkat kerja, atau sore hingga malam hari saat orang-orang pulang kerja.

Nah, bagi pemilik mobil, sebaiknya jangan malas untuk mengelap mobil yang terkena hujan saat tiba di tempat tujuan. Pasalnya, jika air hujan tidak segera dilap dan dibiarkan mengering sendiri akan berefek terhadap cat mobil.

Seperti dilansir Suzuki Indonesia, air hujan menyimpan kandungan tidak kasat mata yang berisiko menimbulkan masalah pada mobil.

Jika air hujan di daerah yang berada di dekat laut, biasanya memiliki kandungan garam lebih banyak . Kandungan garam pada air hujan mengandung PH antara 3 sampai 5 yang cenderung basa, dan berisiko menimbulkan karat pada bodi mobil.

Jika Anda tinggal atau bekerja di derah perkotaan dan pabrik juga punya polusi yang tinggi, hal ini juga patut diwaspadai. Ketika polusi ini menyatu dengan udara dan bertemu dengan uap air di langit, hujan yang turun juga akan membawa polutan kembali ke bawah.

Karena itulah, sangat disarankan jika mobil terkena air hujan di daerah manapun, setelah sampai di tujuan, segeralah dibasuh memakai air biasa, lalu dilap sampai kering. Hal ini harus segera dilakukan karena kalau tidak risiko timbul jamur dan karat baik itu di kaca maupun bodi semakin besar.

Terlebih jika setelah kena air hujan, tiba-tiba kemudian cuaca panas lagi dan air tersebut kering dengan sendirinya karena sinar matahari, proses timbulnya jamur dan karat bisa menjadi lebih cepat.

Penggunaan lap sangat disarankan untuk dibedakan. Lap yang sudah digunakan untuk bodi mobil, jangan lagi dipakai untuk mengelap bagian mobil lain yang terkena hujan, seperti bagian kaca.

Kenapa harus dibedakan? Karena jika memakai lap yang sama, risiko bodi mobil atau kaca mobil tergores dengan partikel-partikel kecil yang terbawa saat mengelap bagian yang lain menjadi lebih besar.

Rentetan Bencana Melanda Aceh Akibat Cuaca Buruk

Liputan6.com, Aceh – Cuaca buruk terjadi di wilayah Aceh beberapa hari ini. Kondisi ini menyebabkan terjadinya sejumlah bencana seperti banjir, longsor, angin puting beliung, hingga kapal tenggelam.

Informasi diterima Liputan6.com, sebuah perahu bermotor yang mengangkut rombongan zikir tujuan Pulau Banyak, karam di muara Kuala Baru, Kecamatan Kuala Baru, Senin, 21 Januari 2019. Beruntung semua penumpang selamat dan telah dievakuasi ke Pendopo Camat Kula Baro.

Kapal tersebut karam karena cuaca buruk melanda wilayah Kabupaten Aceh Singkil. Daratan kabupaten ini dilanda hujan deras disertai angin kencang, sementara ombak berkecamuk di tengah lautan.

Pada hari yang sama, angin kencang menyebabkan pohon bertumbangan di Kabupaten Aceh Jaya. Satu rumah warga di Desa Gampong Baroh, Kecamatan Setia Bakti rusak akibat tertimpa pohon.

“Satu unit rumah tertimpa pohon tumbang di bagian atap atas nama Ilyas Is. Korban terdampak 1 Kepala Keluarga (KK), 3 jiwa,” sebut Kepala pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Ahmad Dadek, kepada Liputan6.com, Senin (21/1/2019).

Kemarin, hujan deras menyebabkan tanah longsor di Kabupaten Bener Meriah. Longsor menyebabkan jalan yang menjadi penghubung antarkabupaten putus total sehingga lalu lintas dialihkan ke jalur alternatif.

Jalur utama tidak memungkinkan dilewati kendaraan karena terdapat bagian jalan ambles sepanjang 11 meter dengan kedalaman mencapai 10 meter, ditambah pinggir jalan tergerus sepanjang 50 meter. Selain itu, aspal yang ambles terlihat membentuk ceruk hingga 8 meter.

Menjelang tengah malam, petugas masih melakukan penjagaan di lokasi jalan ambles di Desa Jamur Ujung, Kecamatan Wih Pisam, Minggu malam. Saat itu, masih terdapat pengendara yang tidak tahu ada jalan ambles.

Sebelumnya, Minggu pagi, angin puting beliung menerbangkan atap rumah seorang warga di Desa Kampung Baru, Kecamatan Singkil Utara. Rumah tersebut milik perempuan bernama Samsiah (60).

2 dari 2 halaman

Prediksi BMKG

Pengamat Cuaca dan Pemerhati Iklim BMKG Aceh Besar, Dea Rimasilana mengungkap, cuaca buruk masih akan berlanjut hingga Februari mendatang. Stasiun Klimatologi Aceh Besar memperkirakan curah hujan tinggi akan terus terjadi di sejumlah tempat.

“Pada Februari mendatang, khususnya di wilayah Aceh Barat, Aceh Barat Daya, Aceh Tenggara, Aceh Selatan, hingga Aceh Singkil dengan rentang curah hujan 200 mm hingga 400 mm per bulan,” ungkap Dea, kepada Liputan6.com

Dea mengimbau agar selalu waspada. Tindakan mitigasi, menurutnya, perlu dilakukan guna mengantisipasi kemungkinan terjadi banjir dengan dampak yang lebih besar.

“Ketika hujan lebat hindari daerah dengan pepohonan tinggi dan daerah rawan longsor,” ujarnya.

Sebelumnya, sebut Dea, banjir terjadi di Kabupaten Aceh Tenggara pada 15 Januari lalu. Curah hujan sebelum terjadi banjir antara tanggal 10 hingga 14 Januari mencapai 100 mm, sedangkan pada 15 Januari curah hujan mencapai 150 mm dalam sehari.

“Akumulasi curah hujan 150 mm per hari, jika dibagi per jam, artinya setiap jamnya curah hujan turun sebesar 6,2 mm, dan kondisi tanah tidak mampu lagi menampung curah hujan sebanyak itu sehingga terjadi banjir,” dia memungkasi.


Simak video pilihan berikut ini:

Anies Minta Kebijakan Swastanisasi Air Tak Timbulkan Konsekuensi Negatif

Liputan6.com, Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menyatakan pihaknya ingin menghindari adanya potensi hukum dikemudian hari bila swastanisasi air dihentikan.

Anies menginginkan, saat pelaksanannya, kebijakan tersebut telah melalui kesepakatan dan beberapa aturan. 

“Jangan sampai langkah hukum yang kita lakukan nanti ujungnya malah merugikan rakyat. Misalnya ternyata kemudian nanti ada tuntutan-tuntutan hukum yang justru kita bisa dikalahkan,” ujar Anies Baswedan di GOR Ciracas, Jakarta Timur, Selasa (22/1/2019).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan pihaknya tengah melakukan kajian secara keseluruhan dengan mempertimbangkan segala aspek.

“Sekarang sedang di-review lengkap sehingga kita bisa nanti melaksanakan keputusan ini tanpa ada konsekuensi negatif,” ucap dia.

 

2 dari 2 halaman

Jalankan Putusan MA

Sebelumnya, Koalisi Masyarakat Menolak Swastanisasi Air Jakarta (KMMSAJ) mendesak Anies untuk melaksanakan putusan Mahkamah Agung (MA) Nomor 31K/Pdt/2017.

Putusan MA tersebut adalah memerintah pengembalian pengelolaan air dari pihak swasta kepada pemerintah.

Pengacara LBH Jakarta Nelson Nikodemus Simamora mengatakan sudah hampir dua tahun dari dikeluarkannya putusan tersebut, pengelolaan air di Jakarta sampai saat ini masih dipegang oleh Palyja dan PT Aetra.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: 

 

Tumpukan Sampah Membentang Lebih Dari 1 Kilometer di Kali Cibalok Bekasi

Fokus, Bekasi – Lagi-lagi sampah terlihat menutupi permukaan sungai di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Setelah Kali Pisang Batu, kini Kali Cibalok yang terletak di Desa Karangraharja, Cikarang Utara. Tumpukan sampah membentang lebih dari 1 kilometer.

Seperti ditayangkan Fokus Indosiar, Selasa (22/1/2019), selain sampah rumah tangga, sepanjang aliran sungai juga dipenuhi tumpukan eceng gondok hingga menyebabkan air sungai tidak mengalir.

Menurut warga, sampah yang memenuhi Kali Cibalok merupakan buangan warga sekitar. Dan selama 6 tahun terakhir  kali tersebut belum pernah dikeruk atau dibersihkan sama sekali. Padahal, selain menebar bau busuk, juga mengancam kesehatan warga dan berpotensi banjir saat musim hujan.

Warga berharap Pemerintah Daerah Kabupaten Bekasi bisa segera membersihkan sampah di sepanjang aliran Kali Cibalok.

Tapi di sisi lain, warga juga harusnya lebih peduli dengan tidak membuang sampah ke sungai. Sudah saatnya diberlakukan sanksi tegas untuk yang membuang sampah sembarangan. (Rio Audhitama Sihombing)