Cerita KNKT Soal Pilot Ketiga yang Selamatkan Lion Air PK-LQP dari Bahaya

Liputan6.com, Jakarta – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengakui adanya pilot ketiga dalam penerbangan pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 043, rute Denpasar-Jakarta.

Penerbangan dengan rute Denpasar-Jakarta tersebut merupakan penerbangan terakhir Boeing 737 Max 8 dengan nomor PK-LQP sebelum mengalami kecelakaan sehari setelahnya saat menempuh rute Jakarta-Tanjung Pinang.

“Pada penerbangan JT 043 dari Denpasar ke Jakarta yang mengalami gangguan setelah digantinya Angle of Attack sensor, KNKT menyampaikan bahwa benar ada pilot lain yang berada di cockpit pada penerbangan itu. Pilot ini adalah pilot yang telah selesai menjalankan tugas terbang dan akan kembali ke Jakarta,” kata Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono, di Kantornya, Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Menurut dia, pilot yang memiliki kualifikasi menerbangkan Boeing 737-8 (MAX) ini sudah diwawancara oleh KNKT. Namun, dia mengaku tidak bisa membeberkan isi wawancara.

“Sesuai UU Nomor 1 tahun 2009 pasal 359, pernyataan dari seseorang yang diperoleh selama proses investigasi tidak boleh dipublikasikan. Untuk itu KNKT tidak akan menyampaikan hasil wawancara,” jelas dia.

Kepala Subkomite Kecelakaan Penerbangan KNKT, Nurcahyo Utomo, mengatakan bahwa keberadaan pilot ketiga tersebut sesungguhnya bukan merupakan tindakan yang melanggar aturan.

Dia menjelaskan dalam civil aviation safety regulation, disebutkan beberapa syarat yang membolehkan seseorang berada di kokpit, salah satunya orang yang memiliki lisensi sebagai penerbangan.

“Tidak melanggar. Aturan pemerintah civil aviation safety regulation dalam part 121, kalau enggak salah 547 mengatakan orang yang boleh ada di kokpit adalah satu awak pesawat atau orang berlisensi boleh dia sedang bertugas atau tidak bertugas, tapi orang yang berlisensi,” ujar dia.

“Kemudian pegawai pemerintah, Kementerian Perhubungan terutama, itu boleh. Ketiga (kalau) diizinkan oleh kaptennya, itu boleh. Jadi itu tidak melanggar,” tandasnya.

Reporter: Wilfridus Setu Embu

Sumber: Merdeka.com

KNKT Benarkan Ada Pilot Lain di Penerbangan Lion Air PK-LQP Sebelum Jatuh

Jakarta – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membenarkan ada pilot lain yang berada di kokpit Lion Air PK-LQP saat terbang dengan nomor penerbangan JT 043 rute Denpasar-Jakarta, sehari sebelum pesawat itu jatuh di penerbangan berikutnya. Pilot itu sudah diwawancara KNKT.

“Pada penerbangan JT 043 dari Denpasar ke Jakarta yang mengalami gangguan setelah digantinya Angle of Attack sensor, KNKT menyampaikan bahwa benar ada pilot lain yang berada di cockpit pada penerbangan itu,” kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam jumpa pers di Kantor KNKT, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2019).

Pilot tersebut telah diwawancara oleh KNKT. Namun sesuai aturan, isi wawancara itu tidak dapat dipublikasikan. Informasi yang bisa disampaikan KNKT adalah bahwa pilot itu memiliki kualifikasi untuk menerbangkan pesawat tipe Boeing 737 MAX 8.

“Pilot ini adalah pilot yang telah selesai menjalankan tugas terbang dan akan kembali ke Jakarta. Pilot ini memiliki kualifikasi sebagai pilot 8737-8 (MAX),” jelasnya.

Seperti diketahui dari pemberitaan-pemberitaan sebelumnya, pesawat Lion Air PK-LQP jatuh di perairan Karawang pada 29 Oktober 2018 saat terbang dengan rute JT 610 Jakarta-Pangkalpinang. Seperti diketahui, sehari sebelumnya yaitu pada 28 Oktober 2018, pesawat itu terbang dengan rute Denpasar-Jakarta dengan nomor penerbangan JT 043. Sempat ada masalah di penerbangan itu hingga pilot mendeklarasikan ‘pan-pan’ ke petugas pemandu lalu lintas penerbangan. Meski demikian, pilot tidak return to base (kembali ke Bandara Denpasar), melainkan melanjutkan penerbangan ke Jakarta.

Meski membenarkan soal keberadaan pilot lain di penerbangan JT 043, KNKT menepis informasi soal isi rekaman CVR tentang penerbangan tersebut. Soerjanto mengatakan rekaman percakapan di Lion Air PK-LQP Jt 043 sudah terhapus.

“Penerbangan JT 043 sudah terhapus (overwritten) sehingga sudah tidak ada di CVR,” tegasnya.

Berawal dari Laporan Eksklusif Reuters

Informasi soal isi rekaman CVR sebelumnya diungkap Reuters dalam laporan eksklusifnya pada Rabu (20/3). Informasi itu berdasarkan keterangan tiga orang sumber yang mengetahui isi CVR. Reuters sendiri tidak memiliki rekaman maupun transkrip dari isi CVR.

Dua dari tiga sumber itu menyebut ada pilot lain di penerbangan Lion Air PK-LQP Denpasar-Jakarta. Pilot lain itu disebut berasal dari Batik Air, yang masih satu grup dengan Lion Air.

Dia disebut berada di dalam kokpit dan membantu menyelesaikan masalah flight control yang muncul ketika penerbangan. Keberadaan pilot lain ini pertama kali diungkap oleh Bloomberg.
(imk/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

KNKT: Isi Rekaman CVR Lion Air PK-LQP Tidak Sama dengan yang Beredar

Jakarta – Isi rekaman cockpit voice recorder (CVR) Lion Air PK-LQP diungkap oleh sumber-sumber kepada media internasional. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyebut informasi sumber itu tidak sama dengan isi CVR yang kini ada di tangan KNKT.

“Di media telah beredar berita yang menyebut sebagai isi dari CVR penerbangan JT 610 dan penerbangan JT043. KNKT menyampaikan bahwa hasil download CVR merekam sejak persiapan penerbangan JT610 sampai dengan akhir penerbangan. Penerbangan JT043 sudah terhapus (overwritten) sehingga sudah tidak ada di CVR. KNKT juga menyampaikan bahwa isi rekaman CVR tidak sama dengan apa yang beredar di media, sehingga menurut KNKT isi berita itu adalah opini seseorang atau beberapa orang yang kemudian dibuat seolah-olah seperti isi CVR,” kata Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono dalam jumpa pers di Kantor KNKT, Jl Medan Merdeka Timur, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2019).

CVR berisi percakapan di dalam kokpit pesawat. CVR Lion Air PK-LQP sendiri ditemukan pada Januari 2019 yang kemudian diserakan ke KNKT.

KNKT: Isi Rekaman CVR Lion Air PK-LQP Tidak Sama dengan yang Beredar Foto: Jumpa pers KNKT soal CVR Lion Air PK-LQP (Lisye/detikcom)

Soerjanto mengatakan KNKT telah berdiskusi dengan Boeing dan FAA mengenai sistem Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS). Tetapi, hasil investigasi kecelakaan Lion Air PK-LQP belum akan diumumkan dalam waktu dekat.

“Terkait seluruh hasil investigasi ini akan disampaikan oleh KNKT pada final report yang dijadwalkan akan dipublikasikan pada bulan Agustus atau September 2019,” ungkapnya.

Berawal dari Laporan Eksklusif Reuters

Informasi soal isi rekaman CVR sebelumnya diungkap Reuters dalam laporan eksklusifnya pada Rabu (20/3). Informasi itu berdasarkan keterangan tiga orang sumber yang mengetahui isi CVR. Reuters sendiri tidak memiliki rekaman maupun transkrip dari isi CVR.

Sumber Reuters menceritakan kepanikan di kokpit ketika pesawat mulai mengalami masalah. Pilot meminta kopilot mengecek buku pegangan referensi cepat yang berisi ceklis untuk peristiwa abnormal.

Dalam 9 menit berikutnya, sistem pesawat memberi tahu pilot bahwa pesawat dalam kondisi stall dan mendorong hidung pesawat ke bawah sebagai responsnya. Pilot berusaha untuk menaikkan hidung pesawat tetapi komputer masih salah mendeteksi stall. Akibatnya, hidung pesawat terdorong ke bawah oleh sistem trim pesawat. Normalnya, trim berguna untuk menyesuaikan permukaan pesawat sehingga tetap terbang lurus.

Di penghujung penerbangan sebelum jatuh, pilot meminta kopilot untuk menerbangkan pesawat sementara dia mengecek buku panduan untuk mencari solusi. Sekitar satu menit sebelum pesawat hilang dari radar, pilot meminta ATC untuk mem-clear-kan lalu lintas sekitarnya di bawah 3.000 kaki dan meminta ketinggian 5.000 kaki yang kemudian disetujui. Sumber-sumber Reuters mengatakan ketika pilot masih berusaha menemukan prosedur yang tepat dalam buku pegangan, kopilot tidak dapat mengendalikan pesawat Lion Air PK-LQP itu.

Tonton juga video KNKT Klarifikasi Pernyataan Lion Air PK-LQP Tak Laik Terbang:

[Gambas:Video 20detik]

(imk/fjp)
<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Panik di Kokpit Lion Air saat Pesawat Menuju ke Air

Jakarta – Isi rekaman cockpit voice recorder (CVR) Lion Air PK-LQP mengungkap fakta baru soal apa yang terjadi sesaat sebelum pesawat itu jatuh pada Oktober 2018 lalu. Salah satunya tentang kepanikan di kokpit.

Tiga sumber yang mengetahui isi rekaman CVR tersebut berbicara kepada Reuters dan dipublikasikan pada Rabu (20/3/2019). Ini adalah pertama kalinya isi CVR terungkap ke publik. Reuters sendiri tidak memiliki rekaman maupun transkrip dari isi CVR.

Isi rekaman CVR ini merupakan fakta baru setelah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) merilis preliminary report pada November 2018 lalu. Dalam laporan itu, pilot memegang kontrol sementara kopilot bertanggungjawab atas radio. Setelah 2 menit terbang, kopilot melaporkan ada ‘flight control problem’ ke ATC dan pilot berniat menjaga ketinggian pada 5.000 kaki.

Panik di Kokpit Lion Air saat Pesawat Menuju ke AirLion Air PK-LQP (Foto: Paul Christian Gordon/Lion Air)

Masih dalam laporan KNKT, masalah yang dilaporkan kopilot itu tidak disebutkan spesifik. Tetapi, sumber pertama Reuters mengatakan ‘airspeed’ disebutkan di CVR sementara sumber kedua mengatakan ada masalah yang muncul di indicator display pilot, tapi tidak muncul di display kopilot.

Sumber pertama Reuters mengatakan pilot meminta kopilot mengecek buku pegangan referensi cepat yang berisi ceklis untuk peristiwa abnormal. Suasana di dalam kokpit disebut penuh kepanikan.

Dalam 9 menit berikutnya, sistem pesawat memberi tahu pilot bahwa pesawat dalam kondisi sttall dan mendorong hidung pesawat ke bawah sebagai responsnya. Pilot berusaha untuk menaikkan hidung pesawat tetapi komputer masih salah mendeteksi stall. Akibatnya, hidung pesawat terdorong ke bawah oleh sistem trim pesawat. Normalnya, trim berguna untuk menyesuaikan permukaan pesawat sehingga tetap terbang lurus.

Di penghujung penerbangan sebelum jatuh, pilot meminta kopilot untuk menerbangkan pesawat sementara dia mengecek buku panduan untuk mencari solusi. Sekitar satu menit sebelum pesawat hilang dari radar, pilot meminta ATC untuk mem-clear-kan lalu lintas sekitarnya di bawah 3.000 kaki dan meminta ketinggian 5.000 kaki yang kemudian disetujui. Sumber-sumber Reuters mengatakan ketika pilot masih berusaha menemukan prosedur yang tepat dalam buku pegangan, kopilot tidak dapat mengendalikan pesawat Lion Air PK-LQP itu.

Mesin Lion Air PK-LQP / Mesin Lion Air PK-LQP / Foto: Pradita Utama

Tiga sumber Reuters mengatakan pilot asal India, Bhavye Suneja, terdiam di detik-detik terakhir pesawat mengudara. Sementara itu, kopilot asal Indonesia, Harvino, megucapkan ‘Allahuakbar!’. Pesawat tersebut kemudian jatuh ke perairan Karawang dan menewaskan 189 orang di dalamnya. Bagi seorang muslim ucapan takbir memang bisa dilontarkan baik dalam kegiatan sehari-hari maupun ketika ada kejadian tertentu. Ucapan ini merupakan bentuk ekspresi pengakuan kebesaran akan Allah, baik itu di momen positif maupun situasi terdesak.

Kembali ke laporan KNKT pada November 2018 lalu, Digital flight data recorder (DFDR) merekam adanya hal teknis berupa perbedaan antara dua AoA (Angle of Attack) yang ada di kokpit pesawat Lion Air PK-LQP. Belakangan juga diketahui, persoalan di Lion Air PK-LQP itu mirip dengan yang terjadi pada pesawat Ethiopian Airlines yang jatuh pada awal Maret ini. Tidak ada indikasi kecelakaan disebabkan karena faktor manusia.

Soal isi CVR yang diungkap oleh sumber, Reuters telah meminta konfirmasi dari Lion Air, Boeing, hingga KNKT. Juru bicara Lion Air mengatakan semua data dan informasi telah diberikan kepada pihak yang meyelidiki serta menolak berkomentar lebih lanjut.

Boeing menolak berkomentar kepada Reuters karena investigasi sedang berjalan. Pekan lalu, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan laporan investigasi bisa dirilis pada bulan Juli atau Agustus. Pada hari Rabu (20/3) ini, dia menolak berkomentar soal isi CVR dan mengatakan bahwa isinya belum dipublikasikan.
(imk/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Suharso Monoarfa dan Air Mata Partai Kakbah di Balik Kasus Romahurmuziy

Liputan6.com, Jakarta Usai resmi dikukuhkan sebagai Pelaksana Tugas Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Suharso Monoarfa menyampaikan pidato pertamanya sebagai Plt Ketum PPP kepada para pimpinan DPC/DPW PPP. Dalam pidatonya, Suharso mengenang sosok Romahurmuziy alias Romi yang baginya sudah seperti adik sendiri.

“Saya tidak pernah bermimpi bisa bediri disini menerima mandat ini. Bagi saya Romi anak saya, adik saya,” kata Suharso dengan diiringi cucuran air mata dalam Mukernas PPP ke-3, di Hotel Seruni, Cisarua, Bogor, Rabu (20/3/2019).

Suharso menceritakan, mantan ketum PPP itu sudah seperti meteor yang memiliki kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi calon pemimpin bangsa ke depannya. Dirinya melihat bahwa sejauh ini Romi sudah terbukti memiliki bibit, bebet, dan bobot sebagai calon pemimpin.

Dalam kesempatan itu, Suharso juga mempertanyakan apakah partainya harus berlinang air mata karena kerap terjerat kasus korupsi.

“Kita tahu sebutan partai dengan lambang Kakbah letaknya di Mekah. Mekah asal katanya ‘bakkah’ artinya air mata. Apakah kemudian partai kita harus berlinang air mata?” tanyanya kepada peserta Mukernas ke-3 PPP.

Pekik Allahu Akbar di Saat-Saat Terakhir Lion Air JT 610 Celaka

Kapten pilot, Bhavje Suneja memegang kendali saat Lion Air Penerbanan JT610 lepas landas dari Jakarta.  Sementara, sang kopilot, Harvino menangani komunikasi radio, demikian berdasarkan hasil laporan awal yang dikeluarkan November lalu. 

Baru dua menit terbang, kopilot melaporkan terjadinya masalah dalam kendali pesawat ke pihak pengatur lalu lintas udara atau air traffic control (ATC). Ia juga mengatakan, pilot berupaya memertahankan ketinggian pesawat di 5.000 kaki.

Kopilot tak menyebut detil masalah apa yang mereka hadapi. Namun, salah satu sumber mengatakan, soal airspeed muncul dalam CVR.

Sementara, sumber kedua mengatakan, indikator menunjukkan masalah pada display di sisi kapten penerbang, bukan di sisi kopilot. Airspeed indicator berfungsi menunjukkan kecepatan gerak pesawat terhadap udara di sekelilingnya.

Kapten kemudian meminta kopilot memeriksa buku panduan, yang berisi petunjuk apa yang harus dilakukan dalam situasi abnormal, tambah sumber pertama.

Dalam sembilan menit berikutnya, sistem dalam pesawat memperingatkan pilot akan terjadinya stall, dan meresponnya dengan menurunkan hidung pesawat. 

Stall adalah kondisi saat gaya angkat sayap tiba-tiba turun secara drastis dan drag meningkat ekstrem.

Kapten penerbang berjuang keras untuk meningkatkan ketinggian pesawat (climb). Namun, komputer — yang terus salah mengartikan adanya stall — terus menurunkan hidung pesawat  menggunakan sistem trim (trim system).

Normalnya, trim menyesuaikan kendali permukaan pesawat untuk memastikannya terbang lurus dan datar.

“Mereka sepertinya tak tahu bahwa trim bergerak turun,” kata sumber ketiga. “Mereka hanya fokus memikirkan airspeed dan altitude (ketinggian). Hanya itu yang mereka bicarakan. 

Sejauh ini belum ada tanggapan dari pihak Boeing Co, produsen pesawat MAX 8. Alasannya, penyelidikan masih berlangsung. 

Terungkap! Pilot Lion Air PK-LQP Panik Cek Buku Panduan Sebelum Jatuh

Jakarta – Fakta baru terungkap dari peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 di perairan Karawang, Jawa Barat pada Oktober 2018 lalu. Percakapan antara pilot dan kopilot yang direkam cockpit voice recorder (CVR) diketahui.

Dilansir Reuters, Rabu (20/3/2019), pilot Lion Air PK-LQP dan kopilot disebut sempat mengecek buku panduan dengan panik di tengah keduanya berusaha mengendalikan pesawat nahas itu. Tetapi, mereka kehabisan waktu sebelum pesawat Boeing 737 MAX-8 itu akhirnya jatuh ke laut.

Hal itu disampaikan oleh 3 orang sumber anonim yang mengetahui isi cockpit voice recorder (CVR) kepada Reuters. Ini adalah pertama kalinya isi CVR terungkap ke publik. Reuters sendiri tidak memiliki rekaman maupun transkrip dari isi CVR.

CVR Lion Air PK-LQP sendiri ditemukan pada Januari 2019 lalu. Sebelumnya, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sudah menerbitkan laporan awal soal kecelakaan ini pada November 2018 berdasarkan rekaman flight data recorder (FDR).

Dalam laporan KNKT pada November 2018, pilot memegang kontrol sementara kopilot bertanggungjawab atas radio. Setelah 2 menit terbang, kopilot melaporkan ada ‘flight control problem’ ke ATC dan pilot berniat menjaga ketinggian pada 5.000 kaki.

Dalam laporan KNKT, masalah yang dilaporkan kopilot itu tidak disebutkan spesifik. Tetapi, sumber pertama Reuters mengatakan ‘airspeed’ disebutkan di CVR sementara sumber kedua mengatakan ada masalah yang muncul di indicator display pilot, tapi tidak muncul di display kopilot.

Sumber pertama Reuters mengatakan pilot meminta kopilot mengecek buku pegangan referensi cepat yang berisi ceklis untuk peristiwa abnormal.

Dalam 9 menit berikutnya, sistem pesawat memberi tahu pilot bahwa pesawat dalam kondisi sttall dan mendorong hidung pesawat ke bawah sebagai responsnya. Pilot berusaha untuk menaikkan hidung pesawat tetapi komputer masih salah mendeteksi stall. Akibatnya, hidung pesawat terdorong ke bawah oleh sistem trim pesawat. Normalnya, trim berguna untuk menyesuaikan permukaan pesawat sehingga tetap terbang lurus.

“Mereka sepertinya tidak tahu bahwa trim bergerak ke bawah. Mereka mengira ini hanya tentang kecepatan udara dan ketinggian. Hanya itu yang mereka bahas,” kata sumber ketiga Reuters.

Pilot disebut tetap tenang sepanjang penerbangan. Hingga di penghujung penerbangan sebelum jatuh, pilot meminta kopilot untuk menerbangkan pesawat sementara dia mengecek buku panduan untuk mencari solusi.

Sekitar satu menit sebelum pesawat hilang dari radar, pilot meminta ATC untuk mem-clear-kan lalu lintas sekitarnya di bawah 3.000 kaki dan meminta ketinggian 5.000 kaki yang kemudian disetujui. Sumber-sumber Reuters mengatakan ketika pilot masih berusaha menemukan prosedur yang tepat dalam buku pegangan, kopilot tidak dapat mengendalikan pesawat Lion Air PK-LQP itu.

“Kondisinya seperti ujian, di mana ada 100 pertanyaan dan ketika waktu habis, Anda haya bisa menjawab 75 pertanyaan. Kemudian Anda panik. Ini bagaikan kondisi time-out,” kata sumber ketiga Reuters.

Reuters telah meminta konfirmasi dari Lion Air, Boeing, hingga KNKT. Juru bicara Lion Air mengatakan semua data dan informasi telah diberikan kepada pihak yang meyelidiki serta menolak berkomentar lebih lanjut.

Boeing menolak berkomentar kepada Reuters karena investigasi sedang berjalan. Pekan lalu, Kepala KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan laporan investigasi bisa dirilis pada bulan Juli atau Agustus. Pada hari Rabu (20/3) ini, dia menolak berkomentar soal isi CVR dan mengatakan bahwa isinya belum dipublikasikan.
(imk/fjp)


<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Air Laut Seperti Terbelah di Suramadu Hanya Bisa Dilihat di Ketinggian Tertentu

Surabaya – Fenomena halocline atau gradasi warna lautan di bawah jembatan Suramadu ternyata tidak pernah dilihat oleh para nelayan di sepanjang pantai Kenjeran. Padahal fenomena itu hampir sepanjang hari terjadi.

Salah satu nelayan Solihin (40) yang ditemui detikcom mengaku dirinya hampir setiap hari melaut. Tapi tidak sekalipun menemukan fenomena yang dimaksud.

“Nggak ada. Belum pernah saya ditemui seperti itu di bawah jembatan,” kata Solihin saat melihat rekaman video yang ditunjukan detikcom, Rabu (20/3/2019).

Sama dengan Solihin, nelayan lainnya Sulaiman (50) juga tidak pernah menemui fenomene halocline selama melaut. Namun jika melihat videonya, ia memastikan tempat itu berada tepat di tengah-tengah selat. Karena memang di situ kadang banyak ditemui buih panjang seperti di video.

“Kalau lihat videonya itu di jalur kapal tengah. Itu dalam di situ airnya dan kadang ada banyak buihnya,” ujar Sulaiman.

Sementara itu Prakirawan Stasiun Meteorologi Maritim Perak Surabaya, Ady Hermanto menyebut tidak semua orang memang di posisi tertentu bisa melihat gradasi warna di sekitar Jembatan Suramadu. Sebab, untuk melihat tersebut harus di atas ketinggian tertentu.

“Kalau pas di lautnya (didatangi), pudar. Karena ada parallax namanya sudut pandang yang terlalu jauh jadi kalau melihat harus di ketinggian tertentu. Dan perahu-perahu nelayan memang tidak terlalu bisa melihat,” terang Ady.

Bila dilihat dari atas Jembatan Suramadu, fenomena halocline memang terlihat. Ketinggian antara laut dengan Jembatan Suramadu sekitar 35 meter.

Sedangkan untuk buihnya, lanjut Ady, hal itu disebabkan karena setiap pertemuan air tawar dan air laut selalu terjadi gesekan. Dari gesekan itulah kemudian membentuk buih yang panjang dan lurus.

“Buih-buihnya itu karena setiap ada pertemuan di lautan kan ada mengandung gesekan akhirnya ada buihnya. Jadi di pertemuan itu kalau misalnya di bak kamar mandi kalau ada air yang mancur itu kan ada buih-buihnya,” urainya.

“Nanti bisa ditanya ke nelayan tiap melaut ada tidak buih-buih yang panjang lurus. Pasti nemuin. Kalau ada berarti mereka sebenarnya menemukan (heloclin). Tapi memang mereka tidak bisa melihat karena terlalu rendah untuk melihat posisinya,” tandas Ady.
(iwd/iwd)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Kerennya Taman Kota Kekinian di Pintu Air Manggarai

Liputan6.com, Jakarta – Taman kekinian dengan nuansa koboy ala Meksiko hadir di Pintu Air Manggarai, Jakarta Pusat. Taman yang diberi nama Robika dibangun oleh petugas Dinas Sumber Daya Air.  

Seperti ditayangkan Liputan6 SCTV, Rabu (20/3/2019),  tanam dibangun untuk membuang kesan kumuh dan kotor akibat sampah yang selama ini identik dengan Pintu Air Manggarai.

Kekinian Taman Robika semakin bertambah dengan berbagai ornamen yang sangat tepat untuk berswafoto.

Tidak heran, taman bisa menjadi destinasi baru bagi warga Ibu Kota.

Anies: Yang Harus Dipikirkan Produksi Air Bersih, Bukan Air Beralkohol

Liputan6.com, Jakarta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sempat menyinggung soal saham perusahaan bir PT Delta Djakarta Tbk, ketika membuka kegitan Musyawarah Perencanaan Pembangunan atau Musrenbang di kantor Wali Kota Jakarta Utara.

Awalnya Anies mengatakan minimnya air bersih merupakan salah satu masalah dasar di Jakarta Utara. Lalu dia menyatakan pemerintah seharusnya lebih fokus dalam mengatasi hal itu ketimbang produksi alkohol.

“Karena itu berkali-kali saya katakan pemerintah seharusnya memikirkan produksi air bersih, bukan air beralkohol,” kata Anies, Selasa (19/3/2019).

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu mengatakan, pembangunan pipa dapat dijadikan solusi untuk pendistribusian air bersih. Anies Baswedan juga menyebut uang hasil penjualan saham perusahaan bir sebanding dengan pembangunan pipa.

Tak hanya itu, dia juga mengatakan uang dari negara seharusnya dapat dimanfaatkan dalam program pembangunan.

“Saya belum pernah mendengar sedikit pun yang bisa menunjukkan argumen bahwa memproduksi minuman beralkohol bagian dari pembangunan,” ujarnya.

Untuk diketahui, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pernah berjanji akan melepaskan saham perusahaan PT Delta Jakarta, yang hingga saat ini rencana itu belum terealisasi.

Janji untuk menjual saham PT Delta ini diungkapkan Anies-Sandi saat maju Pilgub Jakarta. Pada April 2018, pasangan Gubernur DKI Jakarta sudah sepakat dan sudah memulai proses penjualan kepemilikan saham tersebut. Namun, hingga kini saham belum resmi dijual.