Gemilang di Piala AFF, Timnas Vietnam Bidik Emas SEA Games 2019

Hanoi – Kedatangan pelatih asal Korea Selatan, Park Hang-seo, pada Oktober 2017, diyakini jadi satu di antara faktor pengerek kesuksesan timnas Vietnam. Sang pelatih dalam wawancara yang diunggah AFC dalam situs resmi mereka, Jumat (12/4/2019), mengomentari pernyataan yang menyebut Timnas Vietnam kini dianggap jadi kekuatan besar di ASEAN.

“Apakah yang lain setuju atau tidak , kami ini juara di ASEAN untuk dua tahun ke depan. Kami membuktikan (jadi kekuatan besar di ASEAN) di Piala AFF, dan kami sangat bangga dengan itu. Tentu, kami akan bekerja lebih keras untuk mempertahankan status itu,” kata Park.

Pelatih 60 tahun itu menyebut Timnas Vietnam masih memiliki banyak tantangan di depan mereka. Prestasi yang sudah diraih, harus jadi cambuk mengingat tahun ini the Golden Stars harus menjalani agenda penting, seperti kualifikasi Piala Dunia 2022 serta SEA Games 2019.

Park Hang-seo memberi perhatian penuh pada dua agenda yang diikuti dua level timnas berbeda itu. Ia menuturkan ingin mencatatkan hasil sebaiknya mungkin dalam dua agenda itu.

Namun, harus ada persiapan khusus untuk itu mengingat kualifikasi Piala Dunia 2022 (sekaligus kualifikasi Piala Asia 2023) dan SEA Games 2019 digelar hampir berbarengan. Seperti diketahui, Park Hang-seo menjabat sebagai pelatih kepala di Timnas Vietnam senior dan U-22/U-23.

“Saya akan membesut kedua tim sebagai pelatih kepala, namun staf pelatihnya akan berbeda,” kata Park.

“Untuk kualifikasi Piala Dunia 2022, kami akan mainkan pemain-pemain kunci jebolan Piala AFF 2018 dan Piala Asia 2019. Kami sudah mengenal satu sama lain sehingga persiapan akan lebih efektif,” imbuhnya.

“Untuk SEA Games, kami tak memenangi event ini sejak 60 tahun terakhir. Ini bukan tugas mudah buat kami karena kami harus bermain dua hari sekali. Jadi, sangat penting setiap pemain memiliki kualitas sama,” jelas mantan asisten Guus Hiddink di Timnas Korea Selatan pada Piala Dunia 2002 ini.

Sejak dtangani Park Hang-seo, timnas Vietnam sudah mencatatkan beberapa prestasi sensasional, seperti melaju hingga semifinal Asian Games 2018, jadi juara Piala AFF 2018, melaju hingga perempat final Piala Asia 2019, serta jadi finalis Piala AFC U-23 2018. Medali emas SEA Games 2019 jelas jadi target Park selanjutnya, selain membawa the Golden Stars melaju sejauh mungkin dalam kualifikasi Piala Dunia 2022.

Sumber: Bola.com

Saksikan video pilihan di bawah ini

Berita video highlights Piala Asia U-23 2018, Vietnam vs Qatar, dengan skor 2-2 (pen. 4-3). This video presented by BallBall.

Timnas Juara Piala AFF U-22, PSSI Ternyata Andalkan Utang

Jakarta – Ada cerita menarik di balik kemenangan timnas Indonesia U-22 di Piala AFF U-22 2019. Ternyata PSSI harus berutang demi keberangkatan Garuda Muda.

Besaran utangnya pun tidak main-main, mencapai milyaran. Uang itu digunakan untuk biaya operasional Timnas Indonesia U-22 selama di Kamboja.

Kendati demikian, pengorbanan PSSI mencari dana talangan berbuah hasil. Pasalnya, Timnas Indonesia U-22 sukses membawa pulang trofi Piala AFF U-22 ke Tanah Air.

“Ya masalah utang itu saya kira bukan hal yang tabu. Sebetulnya bukan mengutang, tetapi, ada Hamba Allah yang memberi talangan,” ujar Gusti Randa.

“Talangan itu kan bahasa kerennya. Bahasa resminya, kami (PSSI) berutang. Begitu,” kata Gusti Randa.

Terkait nominal pastinya, Gusti Randa enggan membeberkan dana talangan dari pihak yang disebutnya sebagai Hamba Allah itu. Yang pasti, jumlahnya menembus milyaran.

“Ya sekitar segitu. (Rp 4,5 miliar) sekitar angka segitu,” tutur Gusti Randa.

Sumber: Bola.com

Saksikan video pilihan di bawah ini

Pulang dari Kamboja, Kini Semangat Timnas Indonesia U-22 untuk Target Utama

PSSI Akui Kesulitan Finansial Kirim Timnas Indonesia Putri U-15 ke Piala AFF

Jakarta PSSI batal kirim Timnas Indonesia U-15 Putri kePiala AFF Putri U-15 2019. Situs AFF menulis, penyebabnya adalah induk sepak bola Indonesia itu kekurangan uang.

AFF membuat artikel tersebut pada Kamis (4/4/2019) malam WIB yang berisikan bahwa Timnas Indonesia Putri U-15 mundur dari Piala AFF Putri U-15 dikarenakan PSSI kesulitan dana. Keesokan harinya, konten tersebut direvisi.

Alinea yang menyebutkan kondisi finansial PSSI yang tidak mendukung sehingga Timnas Indonesia Putri U-15 gagal berangkat ke turnamen yang akan digelar di Thailand tersebut, kemudian dihapus. PSSI lewat Sekretaris Jenderal (Sekjen), Ratu Tisha, membantah asumsi tersebut lantaran pihaknya memprioritaskan penyelenggaraan Liga 1 Putri 2019.

Alih-alih membenarkan klaim Ratu Tisha, Gusti Randa selaku anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI malah berseberangan pendapat dan tidak menepis dugaan tersebut.

“Timnas Indonesia Putri U-15 kami memang punya kendala yang akhirnya tidak bisa berpartisipasi. Tidak bisa berangkat karena memang kami ada kegiatan lain. Jadi mohon maaf sekali. Mungkin Piala AFF Putri U-15 tahun depan baru akan kami berangkatkan,” ujar Gusti Randa.

“Penyebabnya karena kami kekurangan dana. Itu saja. PSSI memang punya uang. Tapi kan program-program tidak bisa mendadak. Turnamen ini dadakan. Artinya kami lebih mempersiapkan Timnas Indonesia Putri ke Olimliade 2020. Itu yang menjadi momentum kami.”

Perkara budget, butuh dana yang besar untuk mengirimkan Timnas Indonesia Putri U-15. Maka dari itu, PSSI mengambil jalan lain. Caranya dengan meminimalisir pengeluaran dengan menarik diri dari turnamen tersebut.

“Bisa dibayangkan saja kalau satu orang tim itu dengan ofisial berangkat bisa 25 orang. Lalu ongkos pesawat kami tahu memang mahal. Ya untuk keberangkatan itu ratusan juta. Belum lagi pengeluaran di sana. Jadi memang PSSI punya program prioritas sehingga menyebabkan keterbatasan,” kata Gusti Randa.

Berita video penjelasan Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, soal langkah dalam pembinaan pemain yang nantinya berujung target Timnas Indonesia untuk lolos ke Piala Dunia 2030.

PSSI Akui Tidak Cukup Dana untuk Kirim Timnas Putri ke Piala AFF U-15

JakartaPSSI akhirnya mengakui masalah dana menjadi alasan tidak mengirim Timnas Indonesia Putri ke Piala AFF U-15. Biaya untuk berlaga di ajang itu disebut mahal.

Sebelumnya ramai diberitakan Indonesia menarik diri dari Piala AFF Putri U-15 yang digelar di Thailand. Dalam keterangan AFF, PSSI batal ikut karena tidak memiliki anggaran.

PSSI melalui sekjen Ratu Tisha Destria sempat membantah tudingan tersebut. PSSI disebutnya memilih fokus mempersiapkan Liga 1 putri dan persiapan menuju SEA Games 2019.

Namun, Anggota Komite Eksekutif PSSI Gusti Randa mengakui minimnya anggaran menjadi penyebab batal mengirim Timnas Putri ke Piala AFF U-15. PSSI tak punya uang.

“Tak berangkatnya Timnas Putri Indonesia memang karena kendala yang pada akhirnya tidak bisa kami berpartisipasi dan tidak bisa berangkat karena memang kami lebih ada event lain. Jadi mohon maaf sekali, mungkin tahun depan baru yang U-15 ini kami bisa berangkatkan,” ujar Gusti ketika ditemui di Hotel Sultan, Jumat (5/4/2019).

“Dan kenapa kami tidak berangkat, jawabannya tidak lain dan tidak bukan, bahwa kami kekurangan dana untuk itu. Itu saja, sih,” katanya menambahkan.

Untuk mengikuti turnamen Piala AFF, Gusti menyebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Anggaran termasuk untuk transportasi dan akomodasi selama turnamen.

“Bisa bayangkan saja kalau satu tim dan ofisial berangkat sekitar 25 orang, lalu ongkos pesawat seperti Anda ketahui tahu memang mahal dan dana keberangkatan itu sekitar ratusan juta,” katanya.

“Belum lagi kan cost di sananya. Jadi memang PSSI punya program prioritas sehingga ada keterbatasan sehingga tidak berangkat. Kalau ditanya harganya itu sangat bervariatif, tergantung juga jarak tempuhnya naik pesawat,” dia menjelaskan.

(ads/cas)


Bantah Kesulitan Dana, Ini Alasan PSSI Tak Kirim Timnas Putri ke Piala AFF

Jakarta – PSSI membantah kesulitan dana hingga tak mengirimkan Timnas Indonesia putri ke Piala AFF U-15. PSSI memprioritaskan bergulirnya Liga 1 khusus putri.

PSSI memutuskan Timnas putri U-15 tidak ikut di Piala AFF U-15 yang dihelat di Thailand pada 9-21 Mei. Dalam situs AFF, disebutkan bahwa PSSI mengalami kesulitan dana sehingga tidak bisa mengikuti kejuaraan tersebut.

“Indonesia telah menarik diri dari partisipasi mereka dalam Kejuaraan Piala AFF U-15 yang digelar di Chonburi, Thailand, 9-21 Mei 2019. FA Indonesia (PSSI), menyatakan kendala anggaran sebagai alasan mengapa mereka memutuskan untuk tak ambil bagian tahun ini,” AFF menuliskan pernyataan tersebut di Aseanfootball.


Kabar tersebut dibantah oleh PSSI. Sekjen PSSI, Ratu Tisha Destria, Timnas putri bilang PSSi sedang memiliki fokus lain. Yakni, menghadapi Liga 1 putri dan pemusatan latihan nasional (pelatnas) SEA Games 2019.

“Beberapa waktu lalu, perwakilan dari FFA sudah berada di Sawangan untuk melihat Timnas putri Indonesia. Kami prioritaskan untuk persiapan Liga 1 Putri dan Timnas Senior Putri menuju SEA Games. Selain itu, Timnas putri kami saat ini juga sedang mengikuti babak kedua kualifikasi olimpiade 2020 di Myanmar,” ujar Tisha dalam rilis kepada detikSport, Jumat (25/3/2019).

“Kompetisi ini baru akan kami bangun rencananya di September. Kami akan memulai dengan sekurang-kurangnya enam klub liga 1 yang akan berpartisipasi,” kata Tisha menambahkan.

Simak Juga ‘Komentar Penuh Sukacita Pemain Timnas U-22 Jadi Kampiun AFF 2019’:

(ads/fem)

Juara AFF tapi Gagal ke Asia, Level Indonesia Masih Asia Tenggara

JakartaTimnas Indonesia, juara Piala AFF U-22 itu gagal ke Piala Asia U-23 2020. Level skuat Garuda Muda rupanya masih mentok di Asia Tenggara.

Indonesia datang ke Kualifikasi Piala Asia U-23 2020 menyandang status juara Piala AFF U-22 2019. 26 hari lalu, skuat Indra Sjafri meraih gelar turnamen Asia Tenggara itu di Kamboja.

Timnas Indonesia U-22 menjuarai Piala AFF U-22 2019 dengan mengalahkan Thailand 2-1 di final, yang ketika itu sang lawan turun dengan pemain lapisnya. Euforia sempat menggelayuti Timnas, mulai diarak ke Istana Negara hingga dikucuri bonus ratusan juta.

Selanjutnya, Indonesia berlaga di Kualifikasi Piala Asia U-23 2020. Para negara lain cukup serius menatap laga ini, dengan memanggil pemain terbaiknya, termasuk Thailand.

Menghadapi Thailand u-23 ‘yang sebenarnya’ di Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, Indonesia pun terbukti kalah kelas. Pada laga perdana Grup K di Stadion My Dinh, Hanoi, JUmat (22/3), Indonesia kalah telak dengan skor 0-4.

Kemudian menghadapi Vietnam U-23 di laga kedua, Minggu (24/3), Indonesia kembali kalah 0-1. Sempat menahan imbang 0-0 hingga menit 90, gawang Indonesia kebobolan di masa injury time lewat tandukan Trieu Viet Hung.

Dua kekalahan di Grup K Kualifikasi Piala Asia U-23 membuat Indonesia dipastikan gagal ke putaran final di 2020. Menyisakan satu pertandingan lagi, Egy Maulana Vikri dkk, yang belum mendulang poin, takkan mampu mengejar Thailand dan Vienam yang sudah punya 6 poin dari dua laga.

Indonesia selanjutnya tinggal menghadapi Brunei, Selasa (26/3). Apapun hasilnya, Indonesia sang juara Piala AFF U-22 itu tetap takkan mampu ke Piala Asia U-23 2020.

Level Indonesia nyatanya masih mentok di Asia Tenggara saja. Untuk ke pentas Asia, skuat Garuda Muda nyatanya belum siap. Coba lagi, ya!

(yna/yna)

Hadiah Luar Biasa untuk Bripda Sani, Sang Juara AFF U22

Liputan6.com, Jakarta – Bripda Sani Rizki Fauzi, anggota Brimob Polda Metro Jaya itu mendapat kenaikan pangkat luar biasa dari Polri. Ini adalah hadiah yang dia dapatkan atas prestasi gemilangnya karena berhasil mengantarkan Tim Nasional Indonesia U-22 menjadi juara Piala AFF.

Kabid Humas Polda Metro, Kombes Argo Yuwono mengatakan, para pimpinan Polri bangga akan keberhasilan Sani.

“Informasi dari manajer akan diberikan kenaikan pangkat luar biasa,” ujar Argo di Mako Brimob Kwitang, Jakarta, Jumat, 1 Februari 2019.

Mendengar hal tersebut, Sani yang juga hadir di Mako Brimob Kwitang sempat meneteskan air matanya karena terharu. Ia mengatakan, kemenangan ini juga berkat kerja sama dari seluruh teman dalam timnya.

“Kami selalu bertekad satu sama lain, untuk selalu memotivasi rekan-rekan satu tim semua agar bisa memberikan hasil yang maksimal, dan alhamdulilah di pertandingan final kemarin kami berjuang keras dan hasilnya pun maksimal,” ujar Sani.

Bripda Sani Rizki Fauzi menjadi salah satu pemain kunci yang mampu membawa tim Garuda Muda menjuarai Piala AFF U-22 di Kamboja pada Selasa 26 Februari 2019 malam lalu.

Sani adalah salah satu pencetak gol dalam partai final itu. Gol Sani ini seperti awal kebangkitan Timnas Indonesia U-22.

Bola yang dilesakkan Sani menyamakan kedudukan setelah sebelumnya Garuda Muda sempat tertinggal. Gol kemenangan Timnas Indonesia U-22 akhirnya dicetak lewat sundulan Osvaldo Haay.

Ia pun merasa bersyukur dengan pencapaiannya menjadi salah bagian penting menangnya Timnas Indonesia U-22 di Piala AFF 2019.

“Saya sangat bersyukur, sungguh tidak menyangka. Saya hanya bekerja keras dan bekerja keras di setiap latihan, setiap pertandingan, dan Alhamdulillah mungkin Allah kasih rezeki buat saya,” kata Sani.

Ayah Sani, Edi Riyadi (49) yang ikut menemani Sani pun menyampaikan rasa syukurnya akan kenaikan pangkat yang akan diterima anaknya itu.

“Ya mudah-mudahan saya harapkan dari anak saya ada rizki lebih saya bisa punya rumah sendiri, itu cita-cita saya. Dan mudah-mudahan anak saya dikasih rizki yang banyak, umur yang panjang, dan mudah-mudahan tambah lagi semangat di bidang olahraganya, apalagi dalam masa tugasnya itu,” tutur Edi.

Atas gol yang dicipkatan Sani Rizki Fauzi dan Osvaldo Haay, mengantarkan Indonesia menjadi tim yang diperhitungkan di Asia Tenggara. Pelatih Timnas Indonesia U-22, Indra Sjafri, bersyukur atas hasil ini. Ia mengatakan, gelar ini membuktikan Indonesia bisa membentuk tim yang berprestasi di level Asia Tenggara.

“Saya sangat bersyukur, ini merupakan gelar kedua bagi saya setelah Piala AFF U-19 2013. Ini membuktikan, bangsa Indonesia bisa berdiri di kaki sendiri, dengan pemain-pemain muda kita,” kata Indra seusai pertandingan.

Pelatih asal Sumatra Barat itu pun merasa sangat bangga kepada skuat Timnas Indonesia U-22asuhannya, yang bekerja keras sepanjang turnamen hingga meraih juara.

2 dari 3 halaman

Terjun ke Kepolisian

Sani yang merupakan pemain Bhayangkara FC itu mengikuti seleksi kepolisian pada 2016 saat Polri dan TNI memberikan kesempatan kepada pemuda berprestasi yang memiliki talenta di berbagai bidang, salah satunya olahraga untuk bergabung di institusinya.

“Jadi bukan hanya Sani saja. Ada banyak (anggota Polri berprestasi) di bidang sepakbola, bola voli, judo, sepak takraw, dan di cabor lain juga diberikan peluang besar, ini bentuk reward dari Polri kepada pemuda-pemudi yang berprestasi di bidang olahraga, maupun di bidang lainnya,” ucap Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

Sementara itu, manajer Timnas U-22 Sumardji menambahkan, sejak awal ia memang ingin mengorbitkan bintang sepak bola berlatar belakang Polri. Ia menanggap, dirinya tidak salah pilih untuk melatih Sani.

“Alhamdullilah saya berikan kepercayaan penuh kepada Sani ketika dia berlatih dengan disiplin, terlebih ketika dia secara khusus bersama-sama dengan official saya berikan tanggung jawab penuh kepada Sani untuk debut pertamanya ketika lawan Kamboja,” ucap Sumardji.

“Dan kami semuanya bisa tergeleng kepala melihat kesungguhan, melihat keberanian Sani dari peluit awal sampai akhir tidak pernah lelah,” ucapnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Dapat Kenaikan Pangkat, Sani Rizki Tak Lupakan Rekan di Timnas U-22

Liputan6.com, Jakarta Anggota Brimob Polda Metro Jaya dan Anggota Timnas U-22 Indonesia, Sani Rizki Fauzi mendapatkan kenaikan pangkat. Ini merupakan salah satu bentuk apresiasi Polda Metro Jaya dengan prestasi Sani Rizki yang membawa Timnas U-22 juara di Piala AFF 2019 lalu.

Kabid Humas Polda Metro, Argo Yuwono menyampaikan pihaknya dan para pimpinan Polri bangga akan keberhasilan Sani bersama Timnas U-22.Berkat prestasinya, Sani pun akan mendapatkan kenaikan pangkat.

“Informasi dari manajer akan diberikan kenaikan pangkat luar biasa,” ujar Argo di Mako Brimob Kwitang, Jakarta, Jum’at (1/3/2019).

Mendengar hal tersebut, Sani yang juga hadir di Mako Brimob Kwitang sempat meneteskan air matanya karena terharu. Ia mengatakan, kemenangan ini juga berkat kerjasama dari seluruh temannya di Timnas U-22.

“Kami selalu bertekad satu sama lain, untuk selalu memotivasi rekan-rekan satu tim semua agar bisa memberikan hasil yang maksimal, dan alhamdulilah di pertandingan final kemarin kami berjuang keras dan hasilnya pun maksimal,” ujar Sani.

Ayah Sani, Edi Riyadi (49) yang ikut menemani Sani pun menyampaikan rasa syukurnya akan kenaikan pangkat yang akan diterima anaknya itu.

“Ya mudah-mudahan saya harapkan dari anak saya ada rizki lebih saya bisa punya rumah sendiri, itu cita-cita saya. Dan mudah-mudahan anak saya dikasih rizki yang banyak, umur yang panjang, dan mudah-mudahan tambah lagi semangat di bidang olahraganya, apalagi dalam masa tugasnya itu,”ujarnya.

2 dari 3 halaman

Pilihan Tepat

Manajer Timnas U-22, Sumardji menambahkan, sejak awal ia memang ingin mengorbitkan bintang sepakbola berlatarbelakang Polri. Ia menanggap, dirinya tidak salah pilih untuk melatih Sani.

“Alhamdullilah saya berikan kepercayaan penuh kepada Sani ketika dia berlatih dengan disiplin, terlebih ketika dia secara khusus bersama-sama dengan ofisial saya berikan tanggung jawab penuh kepada Sani untuk debut pertamanya ketika lawan Kamboja,” ucap Sumardji.

Sani Rizki menyumbang satu gol saat Timnas U-22 menang 2-1 atas Thailand di final Piala AFF. Sedangkan satu gol kemenangan Timnas U-22 lainnya dicetak oleh Osvaldo Haay.

3 dari 3 halaman

Seleksi 2016

Pemain Bhayangkara FC itu mengikuti seleksi kepolisian pada 2016 saat Polri dan TNI memberikan kesempatan kepada pemuda berprestasi yang memiliki talenta di berbagai bidang, salah satunya olahraga untuk bergabung di institusinya.

“Jadi bukan hanya Sani saja. Ada banyak (anggota Polri berprestasi) di bidang sepakbola, bola voli, judo, sepak takraw, dan di cabor lain juga diberikan peluang besar, ini bentuk reward dari Polri kepada pemuda-pemudi yang berprestasi di bidang olahraga, maupun di bidang lainnya,” ucap Dedi.

Sani Rizki menjadi salah satu pemain kunci pada laga final Piala AFF U-22 yang digelar di Olympic Stadion, Phnom Penh, Kamboja, Selasa malam lalu. Dia menjadi pencetak gol pertama untuk tim Garuda Muda U-22.

Gol Sani pun membawa Timnas Indonesia U-22 mengimbangi Timnas Thailand yang unggul lebih dulu di babak kedua. Timnas Indonesia membalikkan keunggulan lewat gol sundulan Osvaldo Haay di menit 63. Skor 2-1 bertahan hingga menit akhir sekaligus memastikan kemenangan untuk tim Garuda Muda Indonesia.

Uji Coba Menuju Kualifikasi Piala Asia, Timnas U-22 Hadapi Bali United

JakartaTimnas Indonesia U-22 dipastikan akan menjalani satu laga uji coba untuk persiapan ke Kualifikasi Piala Asia U-23 2020. ‘Garuda Muda’ akan menghadapi Bali United.

Pada Kualifikasi Piala Asia U-23 2020, Indonesia berada di grup K bersama Vietnam, Thailand dan Brunei Darussalam. Timnas Indonesia U-22 akan mulai menjalani pemusatan latihan pada Senin (4/3/2019) di Jakarta.

PSSI memastikan tidak ada laga uji coba internasional selama persiapan karena waktunya mepet. Sebagai gantinya, Bali United disiapkan sebagai lawan dalam laga yang rencananya digelar pada 17 Maret.

“Rencananya pemusatan latihan selama 10 hari di Jakarta. Kemudian tim akan berangkat ke Bali dan melakukan laga uji coba menghadapi Bali United sebelum bertolak ke Vietnam,” ujar Sekjen PSSI Ratu Tisha Destria saat ditemui di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (28/2/2019).

“Kami harus melihat jadwal turnamen yang padat di AFF kemarin, jadwalnya hanya selang satu hari untuk beristirahat. Jadi, pemain membutuhkan recovery yang agak panjang. Kami pun memutuskan tidak ada pertandingan uji coba internasional dan hanya ada menghadapi Bali United. Toh lawan yang akan dihadapi sudah pernah dihadapi saat AFF,” imbuhnya.

Tisha menegaskan target utama Timnas adalah di Kualifikasi Piala Asia U-23 2020. Gelar juara di Piala AFF U-22 diharapkan menjadi motivasi Andy Setyo dkk.

“Ini adalah target utama. Timnas Indonesia U-22 harus lolos kualifikasi dan masuk ke putaran final AFC 2020 dan masuk ke 4 besar di putaran final tersebut,” tegasnya.
(ads/raw)

Bambu Pethuk, Fenomena Alam yang Kental dengan Kekuatan Gaib

Liputan6.com, Cilacap – Presiden Jokowi mendapat buah tangan nan unik dari seorang warga Cilacap, bambu pethuk alias pring pethuk. Pembicaraan soal bambu pethuk pun meruap.

Memang, sejak dulu ada sebagian masyarakat yang percaya tuahnya. Namun, sebagaimana jimat bertuah lainnya, keberadaan bambu pethuk pun misterius. Ada, tapi sulit dibuktikan keberadaannya.

Kadang, ada yang benar-benar butuh dan telah menyiapkan segepok uang, tetapi barang sukar didapat. Dalam kasus lain, pembeli ada, dana tersedia, bambu pethuk pun ada. Belakangan ketahuan bambu pethuk itu palsu. Transaksi pun gagal.

Pendek kata, bambu pethuk, layaknya barang-barang mistis lainnya, hanya ada dalam pembicaraan-pembicaraan antar teman. Jarang sekali ada yang pernah semata-mata melihat langsung wujudnya.

Liputan6.com barangkali salah satu yang beruntung. Di sebuah grup pertemanan, seorang kawan, Suharyono, yang diketahui concern terhadap isu lingkungan tiba-tiba mengunggah sebuah foto bambu pethuk.

Dia menyebutnya istimewa lantaran bambu pethuk itu masih hidup. Foto itu diunggahnya di grup WhatsApp itu jauh hari sebelum Jokowi diberi bambu pethuk oleh seorang warga Cilacap.

Keistimewaan lainnya, bambu pethuk ini tumbuh tunas ganda, sisi kanan dan kiri ruas bambu sama-sama keluar tunas yang saling bertemu (pethuk). Bambu pethuk ini ditemukannya di rumah seorang karib yang enggan disebut namanya.

Biasanya, secara alamiah, tunas bambu memang selalu tumbuh ke atas. Adalah sebuah keajaiban saat ada bambu yang tunasnya tumbuh ke arah sebaliknya atau saling berhadapan dengan tunas normal lainnya.

2 dari 2 halaman

Awas, Bambu Pethuk Palsu

Lantaran keunikannya ini, bambu pethuk dianggap bertuah. Ada yang meyakini bambu pethuk untuk keselamatan, penglaris usaha, hingga keberuntungan.

Terlepas dari kesaktian bambu pethuk, ada pula yang sekadar menyimpannya sebagai koleksi. Bambu pethuk dianggap sama uniknya dengan keris langka, perkakas peninggalan kerajaan, hingga keramik kuno Tiongkok.

Ia mengakui memang ada sebagian masyarakat yang meyakini keampuhan bambu pethuk. Hanya saja, ia bukan salah satu orang yang mempercayai itu.

“Itu milik teman saya, bukan punya saya,” ucapnya, 28 Februari 2019, menjelaskan foto yang diunggahnya sebulan lalu.

Tetapi, setelah diteliti lebih jauh, bambu pethuk itu diduga palsu. Hanya, ia tak menjelaskan bagaimana untuk membuktikan keaslian bambu pethuk tersebut.

Jika keberadaan bambu pethuk nyata, maka ia menganggapnya sebagai fenomena alam yang luar biasa. Sebab, dari semua hutan hingga cagar alam yang pernah dijelajahinya, tak pernah sekali pun ia mendapatinya di alam liar.

Namun, ia pun menyadari, tak semua fenomena alam bisa terjelaskan. Apalagi, dengan keilmuan masing-masing orang yang terbatas. Dan dia mengaku bukan orang yang berpretensi untuk menjelaskan apakah mungkin bambu pethuk tercipta secara alamiah.

“Ya mungkin saja bisa,” ucap dia.

Mitos bercampur pengetahuan masyarakat yang serba terbatas itu pun akhirnya membuat bambu pethuk dihargai sangat mahal. Dan itu, kerap dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya.

“Yang perlu diwaspadai adalah penipuan bambu pethuk palsu,” dia menambahkan.

Saksikan video pilihan berikut ini: