Adik Raja Salman Pulang ke Saudi Saat Kasus Jamal Khashoggi, Isyarat Apa?

Liputan6.com, Riyadh – Adik Raja Salman, Pangeran Ahmed bin Abdulaziz al-Saud, dikabarkan kembali ke Arab Saudi pada Kamis 1 November 2018, setelah dua setengah bulan berada di luar negeri, menurut sejumlah laporan sebagaimana diberitakan oleh media Barat.

Kepulangan Pangeran Ahmed terjadi di tengah krisis isu kematian Jamal Khashoggi yang mengguncang pemerintahan Arab Saudi dan lingkaran kepemimpinan monarki –di mana keluarga kerajaan Saudi menghadapi tekanan hebat untuk memperjelas keadaan seputar kematian jurnalis pengkritik Negeri Petrodollar itu.

The New York Times, Reuters dan Financial Times melaporkan bahwa kembalinya Pangeran Ahmed ke Saudi telah memicu spekulasi tentang perannya dalam upaya manajemen krisis kerajaan menyusul kecaman internasional atas pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi, demikian seperti dikutip dari CNN, Jumat (2/11/2018).

Sumber yang berbicara kepada CNN tidak menjelaskan alasan dan signifikansi kembalinya Pangeran Ahmed atau jika dia memang mencari jaminan untuk keselamatannya setelah menghabiskan waktu di luar negeri.

Merestrukturasi Kerajaan Saudi?

Pangeran Ahmed menjabat sebagai deputi menteri dalam negeri selama beberapa dekade sebelum secara singkat mengambil peran menteri dalam negeri pada tahun 2012.

Pada bulan September 2018, dugaan tentang keretakan di dalam keluarga kerajaan muncul setelah Pangeran Ahmed tertangkap kamera menjauhkan diri dari keluarga kerajaan ketika berbicara dengan para pengunjuk rasa anti-Saudi di London.

Menanggapi kerumunan demonstran yang dilaporkan marah atas keterlibatan kerajaan dalam konflik Yaman yang sedang berlangsung, Pangeran Ahmed tampaknya mengatakan seluruh keluarga Al-Saud tidak dapat disalahkan atas kekerasan di Yaman, hanya saudaranya (Raja Salman) dan keponakannya (Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman).

Namun, dalam sebuah pernyataan singkat melalui Agen Pers Saudi yang dikelola pemerintah, ia kemudian mengklarifikasi pernyataannya dengan mengatakan bahwa “raja dan putra mahkota bertanggung jawab atas negara dan keputusannya.”

“Termasuk untuk keamanan dan stabilitas negara dan rakyat. Oleh karena itu, tidak mungkin untuk menafsirkan apa yang saya katakan dengan cara lain,” kata pernyataan itu.

Meskipun tak jelas apakah kepulangan pangeran akan mengubah kepemimpinan monarki, Gregory Gause, seorang ahli Saudi di Texas A&M University, mengatakan bahwa hal itu menunjukkan keluarga kerajaan Saudi mungkin mencoba untuk secara internal merestrukturisasi dinasti.

“Saya tidak berpikir bahwa Pangeran Ahmed memiliki profil yang akan membuatnya menjadi penantang serius untuk posisi teratas, tetapi, dia adalah salah satu anggota paling senior dari keluarga Saud yang memiliki pengalaman politik,” Gause mengatakan kepada CNN.

“Dia selalu menjadi orang ke-dua di hampir semua pemerintahan Saudi … dan ia senior,” lanjut Gause yang menganalisis bahwa Pangeran Ahmed mungkin akan segera menempati posisi pengambilan keputusan yang penting di kerajaan.

“Kembalinya Pangeran Ahmed akan konsisten dengan manuver semacam itu,” Gause mengatakan.

Gause juga menambahkan bahwa kembalinya Pangeran Ahmed menunjukkan bahwa Keluarga Saud memahami bahwa kasus pembunuhan Jamal Khashoggi “telah mengubah iklim politik, sehingga mereka harus melakukan sesuatu (yang signifikan, dengan memanggil pulang Pangeran Ahmed) demi mempertahankan apa yang sedang mereka kerjakan saat ini.”

Simak video pilihan berikut:

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut bahwa pembunuhan Jamal Khashoggi merupakan operasi terencana dari Arab Saudi dan menuntut agar orang yang memberi perintah dimintai pertanggungjawaban.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *