Dirk Soplanit Ungkap Alasan Tigor Boboy dan Risha Adi Keluar dari PT LIB

Jakarta – Direktur Utama interim PT Liga Indonesia Baru (LIB), Dirk Soplanit menjelaskan alasan mundurnya CEO Risha Adi Wijaya dan COO Tigorshalom Boboy. Rupanya keduanya keluar sudah sesuai dengan keputusan RUPS.

“Iya (benar). Pak Risha dan Pak Tigor sudah dari RUPS 28 Februari lalu tidak di PT LIB. Jadi itu kan direksi PT LIB sebelumnya 4 orang. Ada Pak Berlinton, Pak Irzan Pulungan, Pak Tigor, dan Pak Risha,” ujar Dirk Soplanit, Direktur Utama interim PT Liga Indonesia Baru (LIB) ketika dihubungi Bola.com, Minggu (24/3/2019).

Dirk Soplanit adalah sosok yang dipilih untuk menggantikan Berlinton Siahaan sebagai direktur utama sementara pada RUPS PT LIB Februari lalu.

“Kemudian Pak Berlinton dan Pak Irzan mengundurkan diri. Kemudian pada RUPS, juga melepas Pak Risha dan Pak Tigor. Jadi, sejak 28 Februari itu pak Risha dan Pak Tigor sudah tidak menjabat di PT LIB lagi,” kata Dirk Soplanit menambahkan.

Dirk Soplanit mengungkapkan tidak mengetahui penyebab keluarnya Risha Adi dan Tigor Boboy dari PT LIB. Menurutnya, keputusan itu merupakan wewenang para pemegang saham PT LIB, yakni 18 klub Liga 1.

“Saya tidak tahu penyebabnya. Itu urusan pemegang saham. 18 klub Liga 1. Nah, saya tidak tahu soal itu,” tutur Dirk Soplanit.

Selain keempat orang tersebut, Glen Sugita yang sebelumnya menempati Komisaris Utama PT LIB juga turut meletakkan jabatannya. Posisinya digantikan oleh Gusti Randa.

Sumber: Bola.com

Saksikan video pilihan di bawah ini

Satgas Antimafia Bola memeriksa eks Dirut PT Liga Indonesia Baru (LIB) Berlinton Siahaan. Berlinton diperiksa sebagai saksi kasus dugaan pengaturan skor.

Mulai Musim Panen, Harga Beras Turun

Liputan6.com, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perkembangan harga gabah dan beras. Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani turun 4,46 persen sedangkan harga beras medium di penggilingan turun 1,04 persen.

Selama Februari 2019, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp 5.114 per kg sedangkan untuk beras, harga rata-rata di tingkat penggilingan Rp 10.008 per kg, semua turun dibanding bulan sebelumnya.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Yunita Rusanti berkata, penurunan ini terjadi karena biasanya petani mengalami puncak panen pada bulan Maret.

“Biasanya Januari itu belum panen. Februari sudah mulai, puncaknya di Maret dan April. Itu transisinya begitu. Makanya nanti bulan depan mungkin naik lagi,” ungkap Yunita di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Jumat (01/03/2019).

Penurunan harga gabah dan beras menjadi andil dalam penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) secara nasional. Tercatat NTP turun sebesar 0,37 persen menjadi 102,94 dibanding bulan sebelumnya.

Penurunan ini dipengaruhi oleh 2 dari 5 subsektor pertanian yang juga alami penurunan NTP, yaitu Subsektor Tanaman Pangan (0,80 persen) dan Subsektor Tanaman Hortikultura (1,47 persen).

2 dari 3 halaman

Indonesia Kembali Lakukan Penjajakan Ekspor Beras Ke Malaysia

Indonesia melalui Kementerian Pertanian (Kementan) dan Bulog kembali jajaki peluang ekspor beras ke Malaysia. Hal ini dikemukakan oleh Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP),Kementan, Agung Hendriadi bersama Judith J Dipodiputro, Direktur Komersil Perum BULOG dan KBRI Kuala Lumpur saat melakukan pertemuan dengan BERNAS, Kamis (21-2-2019) di Kuala Lumpur.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Kuala Lumpur ini, Agung diterima oleh CEO BERNAS, Ismail Mohamed Yusoff dan Chairman BERNAS, Megat Joha yang didampingi pejabat tinggi BERNAS.


BERNAS merupakan satu-satunya institusi yang telah ditunjuk oleh pemerintah Malaysia untuk menangani import beras ke Malaysia. Ismail Mohamed Yusoff menyatakan market share beras di Malaysia sebesar 60% dipenuhi dari produksi domestik dan 40% dari impor.

Melalui pertemuan ini, BERNAS menyetujui untuk melakukan kerjasama dengan Perum BULOG untuk impor beras dari Indonesia. Sebagai langkah awal, dalam waktu dekat BERNAS akan melakukan kunjungan ke Indonesia untuk melakukan identifikasi, observasi dan pembahasan lebih lanjut dengan BULOG terkait rencana eksport ke Malaysia. Mendengar respon dari BERNAS, Agung dan rombongan merasa senang dan optimis ekspor beras dari Indonesia ke Malaysia bisa dilakukan.

“Sehubungan adanya peluang kerjasama ekspor beras ke Malaysia, Perum Bulog diharapkan perlu lebih proaktif dalam melakukan round table meeting antara distributor ke dua belah pihak, sehingga ekspor bisa segera direalisasikan,” ujar Agung.

Sebelumnya dalam rapat kerja jajaran Kementerian Pertanian dengan Komisi IV DPR RI (21/1/2019) dan BULOG, Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso menyatakan bahwa Bulog menargetkan ekspor beras ke sejumlah negara tetangga pada pertengahan tahun 2019 mendatang. Target ini diprediksi akan berlangsung seusai panen raya pada pertengahan bulan April hingga akhir Mei 2019.

“Makanya kita targetkan bulan januari sampai april itu kita akan menyerap 1,8 juta ton beras dari petani. Kalau ditambah dengan sisa beras kita hasilnya bisa lebih dari 4 juta ton, kan kita masih punya sisa 2,1 juta,” kata Buwas saat menghadiri Rapat Kerja Menteri Pertanian Dengan Komisi IV DPR RI di Komplek Parlemen, beberapa waktu lalu (21/1).

Beberapa waktu lalu Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara juga telah berhasil meyakinkan negara Malaysia dan Brunai untuk memasok padi adan sebagai bahan kebutuhan mereka. Ekspor ke dua negara ini jumlahnya bahkan mencapai puluhan ton. Setiap kali panen, tak kurang dari 10 ton beras adan secara periodik selalu di expor ke Negara Malaysia dan Brunei.

Padi Adan merupakan salah satu komoditi yang menjadi andalan dari wilayah perbatasan Krayan Kalimantan Utara dan merupakan bibit lokal hasil budidaya masyarakat yang bermukim di daratan tinggi Borneo, khususnya di Krayan yang masuk Kabupaten Nunukan.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

4 Fakta Pertemuan Timnas U-22 dengan Jokowi di Istana Merdeka

Liputan6.com, Jakarta – Presiden Joko Widodo atau Jokowi menerima skuat pemain sepakbola Timnas U-22 dan pelatih Indra Sjafri di beranda Istana Merdeka Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Seperti diketahui, Timnas U-22 berhasil menjadi pemenang AFF U-22 2019 dengan mengalahkan Thailand 2-1 di laga final.

Rombongan tiba di Kompleks Istana Kepresidenan sekitar pukul 09.15 WIB. Mereka tampak kompak mengenakam seragam timnas berwarna merah. Jokowi lalu menyambut mereka di beranda Istana Merdeka Jakarta.

Pertemuan itu pun berlangsung hangat. Tak lupa, sang Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyampaikan rasa bangganya kepada Timnas U-22 yang berhasil meraih kemenangan.

Pelatih Timnas U-22 Indra Sjafri kemudian menyampaikan terima kasih kepada Presiden Jokowi atas apresiasi yang diberikan kepada para pemainnya.

Berikut fakta-fakta pertemuan Timnas U-22 dengan Presiden Jokowi dihimpun Liputan6.com:

2 dari 6 halaman

1. Sampaikan Rasa Bangga

Presiden Jokowi mengungkapkan rasa bangganya kepada para pemain yang berhasil membawa pulang trofi AFF U-22.

“Saya dan seluruh rakyat Indonesia merasa bangga sekali atas prestasi dari ini generasi baru sepakbola Indonesia yang kita harapkan kebangkitan sepakbola Indonesia dimulai dari titik ini,” ucap Jokowi.

Dalam kesempatan ini, para pemain Timnas U-22 ditemani oleh Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Sekretaris Jenderal PSSI Ratu Tisha Destria, dan Sesmenpora Gatot S Dewa Broto. Sementara Itu, Jokowi didampingi Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

3 dari 6 halaman

2. Berikan Bonus

Presiden Jokowi kemudian memberikan bonus Rp 200 juta untuk para pemain Timnas U-22 yang telah memenangi AFF U-22 2019.

Selain dari Jokowi, para pemain asuhan Indra Sjafri ini juga telah mendapat bonus dari Menteri Pemuda dan Olaharaga (Menpora) Imam Nahrawi senilai Rp 65 juta.

“Terakhir kemarin Menpora memberi bonus berapa? Masing-masing pemain Rp 65 juta. (Bonus) dari saya masing-masing 200 (juta), sudah,” kata Jokowi di depan para pemain Timnas U-22 di Halaman Istana Merdeka Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Selain para pemain, Jokowi juga memberikan bonus Rp 200 juta untuk pelatih Timnas U-22 Indra Sjarif dan asisten pelatih.

“Pelatih dan asisten pelatih juga dapat (bonus) semua. Dokternya juga dapat,” ucap mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

4 dari 6 halaman

3. Pelatih Sampaikan Komitmen Timnas U-22

Pelatih Timnas U-22 Indra Sjafri mengatakan ada dua event perhelatan sepak bola yang akan diikuti yaitu, AFC dan Sea Games.

Kepada Jokowi, dia pun berkomitmen membawa skuat asuhannya. Timnas U-22 menjadi juara di AFC dan Sea Games. Menurut Indra, apabila anak asuhnya berhasil membawa pulang piala AFC, Indonesia berpeluang mengikuti Olimpiade 2020.

“Ada dua event penting yang diberikan tugas kepada kami Pak, AFC dan Sea Games. AFC itu kalau nanti kita lolos, juga akan menentukan kita untuk kualifikasi olimpiade. Setelah itu Sea Games. Ini dari tahun 1991 kita belum pernah dapat medali emas, izin Allah nanti kita akan wujudkan Pak,” kata Indra di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (28/2/2019).

Indra menyebut prestasi yang diraih Timnas U-22 saat ini tak lepas dari dukungan yang diberikan Jokowi melalui Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional. Dia berharap agar Inpers ini segera disosialisasikan ke klub dan masyarakat.

“Mungkin itu dan juga terima kasih Inpers bapak mungkin ini sosialisasinya yang belum sampai ke klub-klub, ke masyarakat. Dan saya teman-teman sepak bola mengucapkan terima kasih,” kata Indra.

5 dari 6 halaman

4. Permintaan Pemain Timnas U-22

Kapten Timnas U-22, Bagas Adi Nugraha menyampaikan permintaan khusus kepada Jokowi.

“Di sini saya menyampaikan, ada yang berharap ingin jadi PNS, Polisi, TNI. Dari saya sendiri, dari teman saya, mereka ada yang anggota polisi. Diangkat naik pangkat Pak. Mungkin untuk TNI mohon kejelasannya, Pak,” kata Bagas.

Para pemain pun sontak bersorak dan bertepuk tangan. Jokowi pun berjanji menindaklanjuti permintaan bek Bhayangkara FC itu.

“Saya urus nanti yang TNI dan polisi,” ucap Jokowi.

Tak hanya Bagas, pemain sayap Osvaldo pun menyampaikan harapannya agar teman-teman dalam satu Timnas U-22 bisa menjadi anggota Polri atau Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Saya sendiri kuliah, mungkin rekomendasikan karena sudah tinggalkan kuliah lama. Kalau bisa ya PNS, itu aja, Pak,” kata Osvaldo.

“Ini menggunakan kesempatan namanya,” timpal Jokowi.

Setelah itu, Marinus yang berasal dari Sarmi, Papua. Dia tidak meminta persoalan pribadi kepada Jokowi, namun Marinus berharap agar pemerintah memperbaiki jalan di kampung halamannya.

“Di sana sekarang transportasi, jalan-jalannya masih jelek, pembangunan belum bagus, mudah-mudahan lebih bagus dari tempat lain,” tutur Marinus sembari malu-malu.

Mendengar itu, Jokowi merasa heran lantaran Marinus bukan meminta sesuatu berkaitan dengan sepakbola.

“Bukan urusan sepakbola, urusan jalan,” ucap Jokowi disambut tawa.

6 dari 6 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Cerita Gondangdia: Menjadi Saksi Juara Proliga

Liputan6.com, Yogyakarta – Akhir pekan kemarin, Liputan6.com mendapatkan kesempatan menjadi saksi dalam perebutan gelar juara Proliga 2019. Berbeda dengan musim-musim sebelumnya, tahun ini laga grand final kompetisi bola voli di Tanah Air itu berlangsung dua hari.

Untuk perebutan gelar juara Proliga di bagian putri, digelar pada 23 Februari 2019. Sedangkan untuk putra, dimainkan sehari kemudian. Kedua laga bergengsi itu dimainkan di GOR Among Rogo, Yogyakarta.

Menahan rasa kantuk dan lelah lantaran belum tidur serta usai bekerja shift sore, saya berangkat ke Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten, pukul 02.45. Memakan waktu sekitar 30 menit, saya sudah tiba di terminal tiga.

Setelah tiket di tangan, saya langsung menuju gate 23 untuk naik pesawat yang mengantar saya ke Yogyakarta. Butuh waktu hampir 15 menit lebih bagi saya untuk mencapai gate 23 dengan berjalan kaki secara perlahan.

Duduk di ruang tunggu, saya menunggu kedatangan Chris, humas BNI yang mengundang saya untuk menyasikkan laga grand final. Seperti diketahui, tim putra BNI 46 lolos ke grand final sementara putrinya akan memperebutkan gelar juara ketiga.

Pukul 04.32, ada pesan WA ke telepon seluler saya. “Ak br sampe mas… Wait yaa,” kata Chris dengan ditambah emoji senyum. Tapi ditunggu-tunggu hingga saya masuk ke dalam pesawat, batang hidung Chris pun tak kelihatan.

Saya duduk di kursi 32J. Dugaan kuat saya, Chris duduk di kursi 32K. Sebab sepanjang perjalanan ke Yogyakarta, kursi yang dekat jendela itu kosong tidak berpenumpang.

Setiba di Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, saya masih menunggu Chris sebelum ke luar pintu kedatangan. Pukul 06.41 WIB, Chris kembali mengirimkan pesan WA kepada saya. Bunyinya: “Mas bogi, punten maaf td aku ketinggalan check in. Mas br landing ya?”

Dalam pesan berikutnya, Chris memberi saya nomor sopir yang akan mengantarkan saya ke hotel dan GOR Among Rogo. Saya pun menuju hotel untuk rehat sebentar sebelum menyaksikan grand final Proliga 2019.

Tiba di GOR Among Rogo pukul 12.00 WIB, saya langsung menyaksikan laga perebutan posisi ketiga antara putri BNI 46 dan Bandung Bank BJB Pakuan. GOR berkapasitas sekitar 5.000 penonton itu tidak terlalu penuh. Namun, hal itu menyurutkan ketegangan di lapangan.

Sempat dua set menyaksikan dari pinggir lapangan, saya memutuskan pindah ke ruang media untuk mempersiapkan laporan hasil pertandingan tersebut. Ternyata, suasana di dalam ruang media jauh lebih panas dibandingkan lapangan. Sebab, AC di ruangan mati.

Saya pun terpaksa beberapa kali berhenti menulis hanya untuk sekadar berkipas-kipas dengan kertas lantaran sangat gerah. Hasil laporan pun segera saya kirim lewat email begitu BNI 46 dipastikan merebut tempat ketiga.

Memasuki perebutan gelar juara pertama, yakni Jakarta Pertamina Energi melawan Jakarta PGN Popsivo Polwan, suasana di ruang media semakin panas. Kaos saya kuyub. Bahkan, saya harus membuka kaos hingga ke leher karena saking panasnya.

Tak peduli di sebelah saya ada reporter wanita dari salah satu stasiun televisi yang menyaksikan pertandingan melalui layar monitor dengan live streaming. Bahkan, kami juga terlibat percakapan. “Wah bang skornya 2-2, gimana ini,” ucapnya. Saya menjawab: “Popsivo yang akan juara.”

Dia kembali bertanya. “Kok bisa?”. “Karena mental pemain Pertamina sudah jatuh, kamu lihat aja nanti,” jawab saya kembali.

Benar prediksi saya. Popsivo menang 15-21 di set kelima dan menjadi juara Proliga usai mengalahkan Pertamina dengan skor 3-2.

2 dari 3 halaman

Bertaruh dengan Aprilia Manganang

Usai mengirimkan hasil pertandingan, saya kembali ke lapangan. Saya pun menghampiri Aprilia Manganang, pemain Pospivo yang menjadi bintang di laga grand final.

Sambil bersalaman, saya bilang kepadanya: “Kamu raih MVP (gelar pemain terbaik)”. April tak percaya. Dia menjagokan rekan setimnya, Amalia Fajrina, yang akan memenangkan penghargaan individu bergengsi tersebut.

Bahkan, dia mengajak saya bertaruh, walau tidak disebutkan taruhannya apa. “Salaman ya,” ucap April sebagai tanda setuju taruhan.

Tidak lama berselang, nama April pun disebut sebagai peraih MVP Proliga 2019. Dia pun berlonjak girang dan maju ke depan untuk menerima penghargaan tersebut.

Ini adalah kali ketiga April memenangkan MVP Proliga. Sebelumnya, pevoli kelahiran Tahuna, Sulawesi Utara, 27 April 1992, tersebut pernah meraihnya pada Proliga 2016 dan 2017.

“Ini untuk Popsivo. Ini kali pertama aku membela Popsivo dan aku meraih MVP serta juara Proliga,” ucap April yang menerima hadiah uang tunai sebesar Rp 10 juta sebagai MVP Proliga 2019.

3 dari 3 halaman

Penonton Kepanasan

Grand final putra Proliga 2019 baru akan digelar pukul 15.00 WIB, namun para penonton sudah memasuki GOR Among Rogo, Yogyakarta sekitar 4 jam sebelumnya. Sebab, mereka juga ingin menyaksikan perebutan tempat ketiga antara Palembang Bank Sumsel Babel dan Jakarta Pertamina Energi.

Tetapi belum juga laga dimulai, suasana panas sudah menyelimuti penonton. Bukan karena persaingan dalam mendukung tim yang tampil. Namun, karena cuaca panas yang ada di dalam gor.

“Baju saya sudah basah, padahal pertandingan belum mulai. Mana tidak bawa baju pengganti,” kata salah satu penonton lewat pesan di WA Volimania. Kipas angin dan AC di sejumlah titik ternyata tidak mampu mengurangi suhu panas di dalam GOR. 

Saya yang tiba di GOR Among Rogo sekitar pukul 12.10 WIB, menyaksikan jumlah penonton jauh lebih banyak dari laga grand final sehari sebelumnya. Tak hanya di tribun, kelas VIP pun penuh dengan penonton.

Bahkan, jatah kursi untuk para wartawan yang meliput pun diduduki para penonton kelas VIP. Alhasil, saya terpaksa berdiri di pinggir lapangan dengan penonton VIP yang tidak ke bagian tempat duduk.

Setelah set pertama, saya memutuskan melanjutkan menonton laga grand final Jakarta BNI 46 melawan Surabaya Bhayangkara Samator di ruang media melalui siaran live streaming. Tidak seperti hari sebelumnya, AC kali ini sudah hidup sehingga ruangan tak terlalu panas.

Usai bertarung selama 4 set, Samator sukses mempertahankan gelar juara setelah mengalahkan BNI 46 dengan skor 3-1 (23-25, 25-20, 26-24, dan 25-17). Momen mengharukan pun terjadi usai pertandingan.

Setter BNI 46 Aji Maulana terlihat tampak sedih karena gagal membawa timnya juara. Ia terlihat dihibur sang istri, Nandita Ayu, pemain Jakarta Pertamina Energi yang sehari sebelumnya juga kalah di grand final dari Jakarta PGN Popsivo Polwan.

Nandita terlihat menghapus air mata Aji. Momen ini merupakan satu dari banyak drama yang terjadi di grand final Proliga 2019. Semoga saya bisa menyaksikan drama-drama berikutnya di grand final Proliga pada masa mendatang.



Tekad Keras Berbuah Trofi Piala AFF U-22

Liputan6.com, Phnom Penh – Ketika datang ke Kamboja, Timnas Indonesia U-22 tidak dibebani target juara Piala AFF U- 22 2019. Yang terjadi, pasukan Indra Sjafri malah pulang membawa trofi kemenangan.

Dalam persiapannya, Timnas Indonesia U-22 juga tidak bisa membawa tiga pemain yang berkiprah di luar negeri yakni Egy Maulana Vikri (Lechia Gdanks), Saddil Ramdani (Pahang FA), dan Ezra Walian (RKC Waalwijk). Tapi, kenyataan itu tidak berdampak terhadap Garuda Muda.

Para pemain yang ada menunjukkan tekad keras ketika tampil di Piala AFF U-22 2019. Hal itu terlihat dari pertandingan ke pertandingan yang dilakoni Osvaldo Haay dan kawan-kawan.

Sang nakhoda, Indra Sjafri, terus menumbuhkan kepercayaan diri kepada anak-anak asuhannya. Mengalahkan tim kuat seperti Thailand di partai final jelas menjadi catatan positif bagi Timnas Indonesia U-22.

“Saya sangat bersyukur, ini merupakan gelar kedua bagi saya setelah Piala AFF U-19 2013. Ini membuktikan, bangsa Indonesia bisa berdiri di kaki sendiri, dengan pemain- pemain muda kita,” kata Indra seusai pertandingan.

Ini jadi gelar Piala AFF U-22 pertama bagi Indonesia. Timnas Indonesia U-22 menjadi tim paling produktif selama Piala AFF U-22 2019 dengan mencetak delapan gol sepanjang turnamen.

Timnas Indonesia U-22 tidak sekalipun menelan kekalahan selama turnamen Piala AFF U-22 2019. Di penyisihan grup meraih satu kemenangan dan dua kali imbang. Di babak gugur, Garuda Muda menaklukkan Vietnam (semifinal), Thailand (Final).

2 dari 3 halaman

Peran Marinus

Marinus Wanewar mencuri perhatian berkat performa apiknya. Striker Timnas Indonesia asal Papua itu juga dinilai mampu meredam emosinya, kendati menjadi sasaran provokasi pemain lawan.

Sani Rizki Fauzi muncul sebagai pemain kejutan yang bersinar. Gelandang Bhayangkara FC ini tipikal pekerja keras, dia sempat hanya menghuni bangku cadangan, sebelum menembus starter dan berperan penting membawa Timnas Indonesia U-22 juara.

Secara permainan, Garuda Muda sesungguhnya tidak banyak berbeda. Indra Sjafri tetap menerapkan gaya permainan yang mengandalkan serangan dari sayap. Kunci Timnas Indonesia U-22 mempertahankan keunggulan 2-1 atas Thailand hingga peluit akhir saat laga final yakni tekad kuat dan kerja keras dari seluruh pemain. Kekompakan terjalin sejak mereka bergabung dalam pelatnas.

3 dari 3 halaman

Kritik

Namun, kritik tetap ada untuk permainan Timnas Indonesia U-22, yang kurang klinis. Kartu merah Bagas Adi pada menit ke-89 merupakan salah satu contoh kesalahan yang tidak perlu dilakukan.

“Saya sangat meminta maaf atas kejadian tadi, soalnya semangat saya terlalu berlebihan,” kata Bagas, seperti dilansir Antara.

Selain itu, sukses ini juga harus menjadi pelecut sebelum tampil di SEA Games 2019 di Filipina. Performa Timnas Indonesia U-22 harus meningkat, bukan malah stagnan setelah menjadi juara.

Saksikan video pilihan di bawah ini

Tekel Berbuah Kartu Merah, Bek Timnas Indonesia U-22 Terlalu Bersemangat

Liputan6.com, Phnom Penh – Bek Timnas Indonesia U-22, Bagas Adi Nugroho, meminta maaf seusai diusir wasit dalam laga final Piala AFF U-22 2019 melawan Thailand, di Stadion Nasional, Phnom Penh, Kamboja, Selasa (26/2/2019).

Bagas Adi menerima kartu merah pada menit ke-89, di mana Garuda Muda sudah unggul 2-1. Bagas Adi dinilai melakukan tekel berbahaya kepada pemain Thailand.

Meski demikian, Timnas Indonesia U-22 mampu menang 2-1 atas Thailand. Pasukan Indra Sjafri pun dinobatkan sebagai juara Piala AFF U-22 2019.

“Saya sangat meminta maaf atas kejadian tadi, soalnya semangat saya terlalu berlebihan,” kata Bagas, seperti dilansir Antara.

Pemain Arema FC ini berharap ke depannya bisa memperbaiki diri lagi dalam setiap kesempatan bersama Timnas Indonesia U-22. Bagas Adi mengaku ingin terus membela simbol Garuda di dada selama karier sepakbolanya.

2 dari 3 halaman

Sangat Bersyukur

“Tapi bisa menjuarai AFF U-22 ini saya sangat bersyukur kepada Allah SWT. Saya juga berterima kasih banyak kepada masyarakat Indonesia yang selalu mendoakan dan mendukung kami,” tutur Bagas Adi.

Bagas mengaku bahwa ia sempat khawatir kondisi ketimpangan jumlah pemain akan merugikan timnya. Namun, Timnas Indonesia U-22 mampu mempertahankan keunggulan hingga wasit meniup peluit panjang tanda laga usai.

3 dari 3 halaman

Berdiam di Lorong

Dia tidak segera memasuki ruang ganti ketika meninggalkan lapangan saat diusir wasit. Bagas berdiam di lorong di mana ia masih bisa menyaksikan perjuangan rekan-rekannya mempertahankan kemenangan.

Ketika akhirnya peluit tanda laga usai berbunyi Bagas mengaku lega karena kemenangan tidak tergelincir akibat perbuatannya.

Saksikan video pilihan di bawah ini

Perjalanan Timnas Indonesia U-22 sebelum Jadi Juara Piala AFF

Phnom Penh – Timnas Indonesia U-22 akhirnya sukses menjadi kampiun Piala AFF U-22 2019 di Kamboja. Dalam laga final, Selasa (26/2), tim asuhan Indra Sjafri ini mengempaskan musuh bebuyutan Thailand 2-1.

Sani Rizki Fauzi dan Osvaldo Haay menjadi penentu kemenangan Indonesia dengan gol-gol yang mereka ciptakan. Sebelumnya, Tim Garuda sempat tertinggal melalui gol Saringkan Promsupa.

Ini merupakan gelar pertama Timnas Indonesia U-22 di gelaran AFF U-22. Menariknya, ini pertama kalinya Indonesia berpartisipasi sejak pertama kali digelar tahun 2005.

Sementara, bagi pelatih Indra Sjafri, ini gelar kedua yang dia persembahkan untuk Indonesia. Sebelumnya, pada 2013, Indra juga sukses membawa Indononesia menjuarai Piala AFF U-19.

Namun begitu, perjuangan Timnas Indonesia U-22 di Kamboja tidaklah mudah. Witan Sulaeman harus bekerja ekstrakeras sebelum akhirnya sukses bergelar juara.

2 dari 4 halaman

Sempat Terseok di Fase Grup

Langkah Timnas Indonesia U-22 menunju final Piala AFF U-22 2019 tak mulus. Terutama saat melakoni tiga laga penyisihan Grup B.

Pada laga pertama penyisihan Grup B, Tim Garuda Muda ditahan 1-1 oleh Myanmar. Ketika itu lawan lebih dulu menjebol gawang Indonesia, sebelum akhirnya Rachmat Irianto mencetak gol pada menit ke-38 dan membawa Indonesia meraih poin satu.

Dari segi hasil, Timnas Indonesia U-22 masih belum ada peningkatan saat melakoni laga kedua di Grup B (20/2/2019). Berjumpa musuh bebuyutan, Malaysia, Tim Merah-Putih kembali meraih skor imbang, kali ini 2-2.

Timnas Indonesia U-22 sempat unggul dua kali, lewat Marinus Wanewar menit ke-52 dan Witan Sulaeman menit ke-77, namun dua kali pula gawang Indonesia jebol, hingga akhirnya Indonesia terpaksa berbagi poin lagi dengan lawan. 

Pada laga terakhir Grup B, partai terakhir, yang sekaligus jadi penentu kelolosan ke semifinal, Timnas Indonesia U-22 dengan gagah berani menantang tuan rumah, Kamboja (22/2/2019).

3 dari 4 halaman

Tekuk Tuan Rumah

Meski sudah memastikan lolos ke semifinal sebagai juara grup sejak laga kedua berkat kemenangan beruntun, Kamboja tetap merepotkan Indonesia. Namun, tekad tak mau angkat koper dan mengharumkan nama bangsa, menyelimuti setiap pemain Tim Garuda.

Marinus Wanewar jadi sorotan dalam laga ini menyusul brace yang dicetaknya pada menit ke-19 dan ke-83. Indonesia akhirnya menyudahi perlawanan Kamboja dengan skor 2-0.

Indonesia memastikan tempat di semifinal dengan koleksi poin lima dan jadi runner-up Grup B, menantang Vietnam yang berstatus juara Grup A.

4 dari 4 halaman

Grafik Menanjak

Grafik Timnas Indonesia U-22 kian menanjak. Di semifinal, Bagas Adi cs. merontokkan Vietnam, satu di antara kandidat juara turnamen ini.

Vietnam ke semifinal sebagai juara Grup A, namun Timnas Indonesia U-22 tak gentar. Tim Merah-Putih tampil cukup apik untuk menahan setiap gempuran lawan.

Bahkan, mampu menjebol gawang Vietnam lewat tendangan bebas cantik yang dieksekusi Luthfi Kamal pada menit ke-69. Itulah satu-satunya gol yang tercipta, dan Indonesia pun ke final.

Timnas Indonesia U-22 tentu diharapkan mampu menyuguhkan permainan yang kian moncer dan mencapai puncaknya pada partai final melawan Thailand. Dengan begitu, trofi juara bisa dibawa pulang ke Tanah Air.

Live Report Final Piala AFF U-22: Indonesia vs Thailand

Starting Line Up Indonesia vs Thailand

Timnas Indonesia: Awan Setho, Firza, Bagas Adi, Nurhidayat, Asnawi, Zola, Luthfi, Sani Rizki, Witan, Osvaldo, Marinus

Timnas Thailand: Korraphat Nareechan, Sampan Kesi, Kritsada Nontharat, Chatchai Saengdao, Jedsadakom Kowngam, Jaroensak Wonggom, Saringkan Promsupa (c), Sakunchai Saengthopo, Marco Ballini, Tanpisit Khukhalamo, Patcharapol Intanee

<!–

–>

Live Report Final Piala AFF U-22: FT Indonesia 2-1 Thailand

Starting Line Up Indonesia vs Thailand

Timnas Indonesia: Awan Setho, Firza, Bagas Adi, Nurhidayat, Asnawi, Zola, Luthfi, Sani Rizki, Witan, Osvaldo, Marinus

Timnas Thailand: Korraphat Nareechan, Sampan Kesi, Kritsada Nontharat, Chatchai Saengdao, Jedsadakom Kowngam, Jaroensak Wonggom, Saringkan Promsupa (c), Sakunchai Saengthopo, Marco Ballini, Tanpisit Khukhalamo, Patcharapol Intanee

<!–

–>

Final Piala AFF U-22 2019, Begini Perjalanan Timnas Indonesia U-22 dan Thailand ke Partai Puncak

Jakarta Timnas Indonesia U-22 bakal melakoni pertandingan penentuan juara Piala AFF U-22 2019 pada Selasa (26/2/2019) di Olympic Stadium, Kamboja. Thailand, lawan yang dihadapi bukan tim yang asing.

Thailand, spesialis sukses di berbagai level turnamen Asia Tenggara. Tim Negeri Gajah Putih mungkin sudah bosan mengangkat trofi sanking seringnya menjadi juara.

Sementara itu, Tim Merah-Putih selalu kesulitan menjadi yang terbaik. Semenjak 1991 menjadi juara SEA Games, Indonesia baru mengakhiri paceklik gelar pada Piala AFF U-19 2013, dan kemudian diikuti kesuksesan di Piala AFF U-16 2018 lalu.

Di level senior, nama Timnas Indonesia tak pernah masuk dalam catatan buku sejarah sebagai juara.

Menariknya Indra Sjafri, yang menukangi Timnas Indonesia U-22 saat ini adalah aktor sukses Timnas Indonesia U-19 lima tahun silam.

Sang mentor dianggap sosok yang membangkitkan euforia sepak bola usia dini. Di tangannya lahir bintang-bintang berkelas macam Evan Dimas, Putu Gede, Ilham Udin Arymain.

Bersama Timnas Indonesia U-22, Indra membawa bintang-bintang wajah baru. Osvaldo Haay, Marinus Wanewar, Lutfi Anwar, bersiap mencetak sejarah baru bagi sepak bola Indonesia, yang tengah koyak dengan kasus-kasus pengaturan skor di kompetisi domestik. 


2 dari 3 halaman

Timnas Indonesia U-22 Sempat Terseok di Penyisihan

Langkah Timnas Indonesia U-22 menunju final Piala AFF U-22 2019 tak mulus. Terutama saat melakoni tiga laga penyisihan Grup B.

Pada laga pertama penyisihan Grup B, Tim Garuda Muda ditahan 1-1 oleh Myanmar. Ketika itu lawan lebih dulu menjebol gawang Indonesia, sebelum akhirnya Rachmat Irianto mencetak gol pada menit ke-38 dan membawa Indonesia meraih poin satu.

Dari segi hasil, Timnas Indonesia U-22 masih belum ada peningkatan saat melakoni laga kedua di Grup B (20/2/2019). Berjumpa musuh bebuyutan, Malaysia, Tim Merah-Putih kembali meraih skor imbang, kali ini 2-2.

Timnas Indonesia U-22 sempat unggul dua kali, lewat Marinus Wanewar menit ke-52 dan Witan Sulaeman menit ke-77, namun dua kali pula gawang Indonesia jebol, hingga akhirnya Indonesia terpaksa berbagi poin lagi dengan lawan. 

Pada laga terakhir Grup B, partai terakhir, yang sekaligus jadi penentu kelolosan ke semifinal, Timnas Indonesia U-22 dengan gagah berani menantang tuan rumah, Kamboja (22/2/2019).

Meski sudah memastikan lolos ke semifinal sebagai juara grup sejak laga kedua berkat kemenangan beruntun, Kamboja tetap merepotkan Indonesia. Namun, tekad tak mau angkat koper dan mengharumkan nama bangsa, menyelimuti setiap pemain Tim Garuda.

Marinus Wanewar jadi sorotan dalam laga ini menyusul brace yang dicetaknya pada menit ke-19 dan ke-83. Indonesia akhirnya menyudahi perlawanan Kamboja dengan skor 2-0.

Indonesia memastikan tempat di semifinal dengan koleksi poin lima dan jadi runner-up Grup B, menantang Vietnam yang berstatus juara Grup A.

Grafik Timnas Indonesia U-22 kian menanjak. Di semifinal, Bagas Adi cs. merontokkan Vietnam, satu di antara kandidat juara turnamen ini.

Vietnam ke semifinal sebagai juara Grup A, namun Timnas Indonesia U-22 tak gentar. Tim Merah-Putih tampil cukup apik untuk menahan setiap gempuran lawan.

Bahkan, mampu menjebol gawang Vietnam lewat tendangan bebas cantik yang dieksekusi Luthfi Kamal pada menit ke-69. Itulah satu-satunya gol yang tercipta, dan Indonesia pun ke final.

Timnas Indonesia U-22 tentu diharapkan mampu menyuguhkan permainan yang kian moncer dan mencapai puncaknya pada partai final melawan Thailand. Dengan begitu, trofi juara bisa dibawa pulang ke Tanah Air.

3 dari 3 halaman

Thailand Kelelahan di Semifinal

Sebaliknya, langkah Timnas Thailand U-22 cenderung mulus hingga ke laga puncak.

Tim asuhan Alexandre Lima, belum tersentuh kekalahan serta kebobolan dalam waktu normal pertandingan selama Piala AFF U-22 2019. Sang arsitek asal Brasil yang didapuk jadi nakhoda tim pada awal November 2018 terlihat sukses menjaga tempo permainan Timnas Thailand U-22.

Menghadapi jadwal padat turnamen, Thailand tak habis-habisan di awal namun gembos di akhir. 

Di fase penyisihan Grup A Thailand menang 1-0 dan 3-0 masing-masing atas Timor Leste dan Filipina, bermain tanpa gol kontra Vietnam.

Mereka melaju ke semifinal dengan status runner-up Grup A. Memasuki periode knock-out Tim Negeri Gajah Putih Muda bersua tuan rumah Kamboja yang jadi tim kuda hitam di penyisihan.

Thailand menang 5-3 dalam adu penalti atas Kamboja (0-0) di semifinal.

Pelatih Thailand, Alexandre Gama, mengakui kalau anak asuhnya mengalami kesulitan dengan gaya permainan Timnas Kamboja U-22. Timnas Thailand U-22 akan menghadapi Timnas sepak bola Indonesia U-22 di final Piala AFF U-22.

Sebab Timnas Thailand U-22 kerap mengalami masalah saat berusaha membangun serangan. Apalagi pada laga tersebut anak asuh Gama juga jarang memegang bola.

“Saya tahu bahwa kami bisa bermain lebih baik jika kami memegang bola lebih banyak. Tapi itu adalah sesuatu yang bisa kami tingkatkan dari laga ke laga,” kata Gama.

Pernyataan Gama jangan diartikan secara harafiah bahwa Timnas Thailand U-22 punya persoalan jelang laga final. Pernyataan model ini seringkali dilontarkan pelatih berbagai tim untuk mengecoh lawan.

Realitasnya Thailand di berbagai level dikenal sebagai tim jagoan turnamen level Asia Tenggara. Sudah sering terjadi mereka bermain biasa saja di penyisihan, namun intensitas permainan ditingkatkan begitu memasuki periode knock-out.  Timnas Indonesia U-22 perlu mencermati hal ini, karena Tim Merah-Putih kerap tersandung di pengujung turnamen.