24-11-1924: Penerbangan Perdana Amsterdam ke Batavia Berlangsung 127 Jam

Pesawat Fokker F. VII dengan kode registrasi H-NACC lepas landas dari Bandara Schiphol, Amsterdam pada 1 Oktober 1924.

Namun, tiga hari kemudian. Masalah serius terjadi. Pesawat terpaksa mendarat darurat di Phillippopolis, Bulgaria 4 Oktober 1924.

Sistem penggerak pesawat kolaps, sayap rusak. Kerusakan itu tak bisa diatasi para awak. Yang lebih serius, mesin tak bisa lagi digunakan. Harus diganti.

Penduduk lokal yang berkerumun di sekitar Fokker F. VII membuat van der Hoop dan para awaknya merasa diterima. Namun, mereka frustasi bukan kepalang karena tak satu pun warga lokal bisa bicara Prancis, Jerman, Inggris, apalagi ngomong Belanda.

Hingga akhirnya, seorang guru sekolah yang mengerti Bahasa Jerman muncul. Van der Hoop meminta izin untuk menggunakan pesawat telepon yang biasanya hanya bisa diakses pejabat berwenang.

“Aku mencoba mengatakan padanya bahwa di semua negara beradab, (terkait) kecelakaan pesawat memiliki prioritas untuk menggunakan saluran telepon dan telegraf,” demikian menurut sang pilot, van der Hoop seperti dikutip dari buku Blue Skies, Orange Wings.

Tak mudah untuk meyakinkan pihak Bulgaria itu untuk merelakan pesawat telepon mereka digunakan orang asing. Dan, menggunakan telepon primitif itu ternyata tak kalah susah.

Setelah berhasil menghubungi pihak Belanda, masalah baru muncul. Comité Vliegtocht Nederlandsch-Indies tak mengganggarkan pengadaan mesin baru.

Misi ke Batavia terancam gagal total.

Di tengah keputusasaan, bantuan tak terduga muncul. Dari media. Perjalanan van der Hoop dan para awaknya yang nahas ramai diberitakan surat kabar di Belanda.

Bahkan majalah Het Leven mengadakan penggalangan dana untuk membeli mesin pesawat baru. Kampanye itu sukses besar. Hanya dalam beberapa pekan, uang yang dibutuhkan terkumpul.

Mesin Rolls Royce Eagle baru kemudian dibeli, dikirim melalui perbatasan Eropa Timur (dengan melibatkan uang pelicin, tentu saja), para teknisi pun didatangkan ke Bulgaria.

Akhirnya, pesawat pun kembali mengudara pada 2 November 1924. Akhirnya, jarak 15.000 km dari Amsterdam ke Batavia ditempuh dalam waktu 55 hari, dengan mencatatkan 127 jam terbang.

Dari Bulgaria, pesawat transit di sekitar 20 kota di dunia, ke Konstantinopel, Angora, Baghdad, Bandar Abbas, Karachi, Ambala, Allahabad, Kalkuta, Akyab, Yangon, Bangkok, Singora, dan Medan di Sumatera Utara.

Pengalaman terbang yang luar biasa itu dituangkan van der Hoop dalam sebuah buku berjudul Door De Lucht Naar Indie — Menembus Langit Menuju Hindia Belanda — yang terbit pada 1925. 

Ada banyak kisah petualangan dituturkan di dalamnya, misalnya di Myanmar, pesawat mendarat di arena balap, tepat sebelum perlombaan dimulai.

Setelah menuntaskan misinya menjejak Hindia Belanda, pesawat H-NACC kemudian dibongkar dan diangkut ke Eropa naik kapal uap ‘Kertosono’ milik Rotterdamse Lloyd. Cara yang tak seheroik perjalanan menuju Hindia Belanda,

Petualangan penuh drama van der Hoop dan para awaknya menjadi pionir dan membuktikan perjalanan jarak jauh naik pesawat terbang bukan hal mustahil dilakukan.

Selain penerbangan perdana Amsterdam ke Batavia, sejumlah kejadian bersejarah terjadi pada tanggal 24 November 2018.

Pada 1642, Abel Tasman menjadi orang Eropa pertama yang menemukan Tanah Van Diemen yang kemudian menjadi Tasmania.

Sementara, pada 1859, Charles Darwin mempublikasikan karya ilmiah berjudul The Origin of Species.

Sejarah mencatat, 24 November 1963 menjadi momentum ketika tersangka pembunuh John F. Kennedy, Lee Harvey Oswald, ditembak mati oleh Jack Ruby di Dallas, Texas, dalam siaran langsung televisi nasional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *