Kasus Jual-Beli Online Gambar Hardisk, Ahli Hukum: Ada Unsur Menipu

JakartaJual-beli online ‘gambar hard disk’ bikin heboh netizen. Pembeli merasa tertipu karena barang yang dibeli hanyalah gambar hardisk bukan bentuk fisik. Lantas bagaimana hukumnya?

Pakar hukum Universitas Trisakti, Fickar Hadjar, mengatakan hukum jual beli masuk ranah kasus perdata. Hukum jual-beli bisa masuk ranah pidana jika ada niatan dari penjual untuk menipu pembeli.

Di kasus jual beli ‘gambar hardisk’ ini, Fickar menilai ada niatan penjual untuk menipu pembeli. Dia mengatakan, penjual memanfaatkan kelengahan pembeli karena memajang harga untuk sebuah gambar hardisk hampir sama dengan harga hardisk fisik.

“Kalau kita lihat harganya kan itu tidak wajar, kalau dia jual gambar harusnya kan lebih murah. Kalau ini kan harganya hampir sama atau mendekati harga aslinya, jadi memang ini ada niatan menipunya,” kata Fickar saat diwawancara detikcom, Kamis (15/11/2018).

Di kasus ini, seorang pembeli membeli hardisk di Tokopedia di toko ‘Pc seller’ dengan harga Rp 450.000. Namun di deskripsi di jelaskan oleh penjual hanya gambar yang dijual. Menurut Fickar harga itu tidak wajar.

Selain itu, kasus ini bisa masuk ranah pidana jika penjual melakukan hal ini berulang kali. “Kalau dia berkali-kali melakukan hal yang sama ini juga bisa masuk pidana, karena dia punya niat,” ucapnya.

Fickar mengimbau kasus penipuan bisa terjadi di semua transaksi jual baik online ataupun konvensional. Untuk itu, pembeli diimbau lebih teliti dalam transaksi.

Selain itu, dia juga berharap sebaiknya pemerintah membuat regulasi supaya kasus seperti ini tidak terulang. Menurut Fickar, kasus jual beli ‘gambar hardisk’ ini tergolong baru di Indonesia.

“Memang ini harus ada regulasinya yang mengatur bisa dikeluarkan lewat Permen atau dimasukkan di dalam UU ITE,” ungkapnya.

Kasus ini bermula saat seseorang bertransaksi di toko ‘Pc seller’. Dia membeli produk seharga Rp 450.000, tetapi merasa tertipu karena hanya menerima kertas bergambar hard disk eksternal berkapasitas 1 TB.

Padahal toko dengan akun Lioe Kon Tjen itu menjual ‘Hardisk external WD 1 Tb’ namun di dalam deskripsinya toko itu menulis ‘hanya gambar saja’.

Pembeli pun protes karena merasa tertipu namun pemilik toko membela diri. “Toko ini sangatlah jujur hanya pembelinya yang terlalu cerdas sehingga mengetahui apa yang saya jual tanpa membaca deskripsinya terlebih dahulu,” tulis si penjual.

Tokopedia kemudian langsung mengambil tindakan. Toko tersebut langsung ditutup.

“Saat ini, produk yang dimaksud sudah dihapus. Toko yang menjual produk tersebut juga sudah ditindak sesuai prosedur (dalam hal ini di-banned/ditutup),” kata Head of Risk Management Tokopedia Fandy Soejanto saat dikonfirmasi detikcom, Rabu (14/11/2018).
(rvk/asp)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

FOTO: Sidang Gugatan CNN ke Trump Digelar

1/6

Pengacara CNN, Ted Boutrous memberikan keterangan setelah sidang dengar pendapat di pengadilan federal, Washington, Rabu (14/11). CNN menggugat Presiden Donald Trump atas penarikan izin meliput salah satu wartawannya, Jim Acosta. (AP/Manuel Balce Ceneta)

Bangun Rumah Tanpa DP untuk PNS Terganjal Banyak Masalah

Jakarta – Pemerintah berencana membangun rumah tanpa uang muka (down payment/DP) untuk aparatur sipil negara (ASN) atau PNS, dan TNI/Polri.

Penyediaan rumah untuk abdi negara itu dilakukan dalam rangka memenuhi kebutuhan hunian bagi mereka. Pasalnya masih cukup banyak dari mereka belum memiliki rumah pribadi.

Dalam rangka mewujudkan program tersebut, ada sejumlah tantangan, seperti dirangkum detikFinance berikut ini.

(ang/ang)

RS Polri: 20 Persen Sampel DNA Korban Lion Air Perlu Diperiksa Ulang

Liputan6.com, Jakarta – Kepala Laboratorium DNA Pusdokkes Polri Kombes Pol Putut Cahyo Widodo menyatakan, proses pemeriksaan sampel DNA korban Lion Air belum selesai. Karena, ada sekitar 20 persen dari total 666 sampel DNA perlu diperiksa ulang.

“Jadi ada 20 persen sampel DNA postmortem yang kemarin sudah diambil tidak bisa digunakan untuk proses identifikasi karena terkontaminasi dan terdegradasi akibat mengalami pembusukan atau hal lainnya. Jadi kami ambil dan periksa ulang,” kata Putut di RS Polri, Jakarta, Rabu 14 November 2018.

Selain karena terkontaminasi dan terdegradasi, yang menjadi kendala lainnya untuk identifikasi adalah karena bagian tubuh korban Lion Air yang didapatkan merupakan sel lemak yang tidak memiliki inti sel DNA.

“Namun kami tetap ambil dan periksa dengan harapan ada sedikit tersisa inti sel DNA,” kata Putut seperti dilansir Antara.

Setelah sampel DNA kembali diambil ulang dan diperiksa, tim DVI bakal kembali mencocokkan hasilnya dengan data antemortem dari pihak keluarga.

“Sampel antemortemnya sendiri sudah lengkap, tinggal postmortemnya yang belum lengkap. Kalau yang 20 persen itu sudah diambil dan diperiksa maka akan dicocokkan kembali dengan data antemortemnya,” kata Putut.

Kendati demikian, Putut sendiri belum bisa memastikan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk merampungkan pemeriksaan ulang 20 persen sampel DNA yang rusak tersebut, karena teknik pemeriksaan yang harus berbeda dari sebelumnya.

“Total ada 16 teknik ekstraksi DNA dan mengingat kondisinya kami harus lakukan pemeriksaan dengan metode lain. Kami berusaha secepat mungkin. Kalau pemeriksaan DNA yang masih bagus idealnya membutuhkan waktu empat hari dan akan lebih tergantung kondisinya,” ucap Putut menambahkan.

Hingga saat ini, jenazah korban kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang telah teridentifikasi sebanyak 89 penumpang dengan rincian laki-laki 66 orang dan perempuan 23 orang.

Milenial Cenderung Gagal Kelola Duit (1)

Jakarta – Kalau melihat berita di mana-mana, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia, maka generasi milenial dalam kurun 10 tahun terakhir ini menjadi generasi yang ‘hot’ untuk dibicarakan baik dari sisi positif maupun sisi negatif.

Pola bisnis yang saat ini berubah menjadi pro teknologi tidak dipungkiri lahir karena adanya generasi milenial ini. Dan hal ini merubah bisnis model yang sudah ada dan bertahan bertahun-tahun.

Bisnis-bisnis lama yang tidak mengikuti perubahan (seperti bisnis media cetak, koran dan majalah) ikut bertumbangan dengan era teknologi yang konsumsi terbesarnya adalah generasi milenial.

Kemudahan-kemudahan yang didapat memang memberikan banyak efek positif tapi juga efek negatif terutama ketika menyangkut ke masalah keuangan generasi milenial. Stigma milenial yang cenderung boros, tidak bisa menabung, lebih suka jalan-jalan, beli gadget dan lain sebagainya yang kemudian turut membuat milenial banyak melakukan kesalahan keuangan.

Akibatnya milenial cenderung gagal dalam mengelola keuangan mereka. Nah, apa saja yang menjadi penyebab utamanya? Yuk kita bahas bersama.

Banyak yang Tidak Mengerti Dasar Mengelola Keuangan
Ini problem dari semua generasi di Indonesia baik orang tua kita yaitu baby boomer, maupun generasi X dan generasi milenial. Mengapa demikian? Sebenarnya hal sepele.

Orang Indonesia dari kecil tidak pernah diajarkan secara formal bagaimana mengatur keuangan pribadi mereka. Nah kalau urusan ini sepertinya sih bukan cuma penyakin generasi milenial, tapi juga penyakit generasi sebelumnya seperti baby boomer dan generasi X alias baby buster.

Mengapa demikian? Karena dasar-dasar mengelola keuangan pribadi itu tidak pernah diajarkan di bangku sekolah baik level Sekolah Dasar, Menengah maupun Atas. Akhir-akhir ini di beberapa kampus sudah mulai diadakan kelas Perencanaan Keuangan Pribadi, tapi kelasnya masih bersifat pilihan bukan kelas wajib.

Sementara kita dari masih muda sudah diajarkan banyak sekali rumus cara mengelola keuangan perusahaan, seperti kelas Akuntansi dan Keuangan Perusahaan. Akibatnya bisa ditebak, kita semua jago mengelola keuangan perusahaan tapi berantakan ketika harus mengelola keuangan pribadi.

Padahal mengelola keuangan yang baik itu haruslah sudah menjadi kebiasaan. Dan yang namanya kebiasaan tidak bisa dipelajari dan dilakukan mendadak. Kebiasaan harus dipupuk dari kecil sehingga ketika sudah dewasa menyatu menjadi karakter orang tersebut.

Akibatnya bisa ditebak, orang Indonesia rata-rata jago mengelola keuangan perusahaan tapiiiiii gagal dalam mengelola keuangan pribadi. So, jadi tidak heran kan kalo banyak orang bilang kalo orang Indonesia itu adalah masyarakat konsumtif?

Makanya hayoooo belajar deh mengelola keuangan yang baik dan benar supaya kamu tidak rugi di kemudian hari. Ke mana belajarnya?

Ikutan saja di banyak workshop yang dilaksanakan oleh tim IARFC Indonesia atau tim AAM & Associates.

Di Jakarta dibuka workshop sehari tentang bagaimana cara Mengelola Gaji dan Mengatur Uang bulanan dan Belajar dan Teknik Menjadi Kaya Raya dan juga workshop sehari tentang Reksadana. Ada juga workshop khusus tentang Asuransi membahas Keuntungan dan Kerugian dari Unitlink yang sudah anda beli.

Karena banyak permintaan, dibuka lagi workshop Komunikasi yang memukau lawan bicara anda (menghipnotis), cocok untuk anda orang sales & marketing, untuk komunikasi ke pasangan, anak, boss, anak buah, ke siapapun, info.

Untuk ilmu yang lebih lengkap lagi, anda bisa belajar tentang perencanaan keuangan komplit, bahkan bisa jadi konsultannya dengan sertifikat Internasional bisa ikutan workshop Basic Financial Planning dan workshop Intermediate dan Advance Financial Planning di Pertengahan Info lainnya bisa dilihat di www.IARFCIndonesia.com (jangan lupa tanyakan DISKON paket)

Anda bisa diskusi tanya jawab dengan cara bergabung di akun telegram group kami “Seputar Keuangan” atau klik di sini.

Alasan berikutnya kenapa banyak generasi milenial yang cenderung gagal dalam mengelola keuangan adalah karena kaum generasi milenial biasanya males bikin anggaran bulanan.

Seperti apa bujet bulanan itu dan kenapa milenial bisa males membuatnya? Kita akan kupas tuntas di artikel berikutnya.

Disclaimer: artikel ini merupakan kiriman dari mitra yang bekerja sama dengan detikcom. Redaksi detikcom tidak bertanggung jawab atas isi artikel yang dikirim oleh mitra. Tanggung jawab sepenuhnya ada di penulis artikel. (ang/ang)

Bawaslu Ajak Tenaga Pendidik Awasi Pemilu 2019

Sementara itu, Komisioner Divisi Hubungan Masyarakat, Pengawasan, dan Hubungan Antar Lembaga Bawaslu Kabupaten Bangka Zulkifli mengatakan, dengan adanya sosialisasi ini masyarakat memahami jika pengawasan Pemilu itu bukan hanya tanggungjawab Bawaslu Bangka saja.

“Kepala sekolah dan guru ini harus memahami aturan bahwa aparatur sipil negara (ASN) tidak boleh ikut langsung berpolitik praktis,” ucap Zulkifli.

Kepala sekolah dan guru, lanjut dia, juga tidak boleh mengarahkan siswa untuk memilih calon tertentu sebab memilih harus sesuai dengan hati nurani masing-masing.

Zulkifli mengatakan, apabila diketahui ada oknum ASN yang berpolitik praktis akan disanksi pidana sesuai Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017. Sedangkan, kata dia, terkait kode etik ASN jika berpolitik praktis mengarahkan pada calon tertentu, maka dikenakan sanksi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014.

“Kita berharap semua pihak ikut mengawasi tahapan-tahapan kegiatan Pemilu 2019, sehingga berjalan lancar, aman, langsung, umum, bebas dan rahasia serta demokratis dan berintegritas,” pungkas Zulkifli.

Inter Milan Sambut Kedatangan Marotta, tapi …

Liputan6.com, Jakarta Inter Milan dikabarkan akan memboyong mantan CEO Juventus, Beppe Marotta. Pria berusia 61 tahun tersebut, dikabarkan akan menjadi manajer umum La Beneamata.

Marotta sendiri telah mengumumkan bahwa dia tidak akan melanjutkan kerja sama lagi dengan pihak Juventus. Kabarnya, Marotta mulai menemukan beberapa ketidaksepahaman dengan bos Juventus, Andrea Agnelli.

CEO Inter Milan, Alessandro Antonello, menegaskan pihaknya menyambut baik kedatangan Marotta. Namun, Antonello juga menyatakan bahwa tidak ada lagi yang bisa dikatakan sampai ada tanda tangan darinya.

Meski begitu, Marotta tampaknya akan segera menjadi manajer umum baru Inter Milan. Antonello pun menyatakan optimisme terhadap kedatangan pemain berusia 61 tahun itu.

“Marotta ke Inter? Seperti yang selalu kami katakan, proyek kami adalah salah satu pertumbuhan, ”katanya kepada Il Sole 24.

“Siapa pun yang dapat memberikan kontribusi untuk membantu kami mencapai tujuan yang telah kami tetapkan sendiri diterima,” ujarnya.

Berita video jadwal Serie A 2018-2019 pekan ke-12. Big match AC Milan vs Juventus di San Siro, Milan.

Pemasang ‘Disuruh Pusat’, Siapa Kreator Poster Raja Jokowi?

Jakarta – Sutradara penyebaran poster dan stiker bergambar petahana Joko Widodo dengan kostum raja Jawa masih menjadi misteri. Pemasang atribut ‘Raja Jokowi’ sendiri mengatakan pemasangan dilakukan atas perintah pusat, siapakah kreator tersebut?.

“Sudah ada, yang masang sudah ketahuan, yang pasang di lapangan ketahuan. Sudah ada, yang pasang di lapangan ketahuan, yang masang bertemu kita. Kita tanya, ‘Kamu itu pasang gimana?’. (Dijawab) ‘Disuruh dari pusat’,” ungkap Ketua DPD PDIP Jawa Tengah Bambang Wuryanto saat dihubungi, Rabu (14/11/2018).

PDIP sendiri sudah melakukan beberapa penelusuran terkait pemasangan atribut ‘Raja Jokowi’ tersebut. Namun, pemasang poster dan stiker ‘Raja Jokowi’ mengaku hanya pesuruh yang ditugaskan untuk memasang.

Pemasang tidak bisa memberi jawaban yang jelas, terkait siapa ‘pihak pusat’ yang menyuruhnya. Pemasang hanya mengaku mendapatkan upah Rp 5.000 setiap pemasangan atribut.

“Itu kan masang poster-stiker dikasih uang. Setiap satu poster ada yang Rp 10 ribu, ada yang Rp 5.000, Rp 25 ribu. Itu kan ada ribuan,” sebut Bambang.

Mereka juga mengaku sempat dikumpulkan beberapa waktu lalu untuk briefing pemasangan. Mereka lalu diminta memberikan alamat untuk dikirimkan atribut ‘Raja Jokowi’, dan diminta untuk membantu memasang atribut tersebut.

“Kita tanya, ini (poster dan stiker) dari mana? (Pemasang mengaku): saya dulu diundang sama senior saya di Hotel Siliwangi Semarang. Di sana ada beberapa orang, kita di-briefing,” sebut Bambang.

“Diminta alamat, diminta bantu pasang. Suatu waktu datang barangnya,” sambung Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Jateng Jokowi-Ma’ruf itu.

Tak hanya itu, PDIP berhasil mengetahui adanya gudang yang disiapkan untuk menyimpan stok dari atribut ‘Raja Jokowi’. Setidaknya gudang tersebar di tiga daerah di Jateng.

“Di situ di gudang. Ada juga yang sudah siap pasang tapi belum terpasang. Ada di Magelang, Banyumas, Bumiayu. Ini bukan orang PDIP,” terang Bambang.

Atribut peraga kampanye (APK) bergambar ‘Raja Jokowi’ diketahui tersebar di Jawa Tengah. Desain poster-poster dan stiker tersebut serupa, yakni bergambar Jokowi mengenakan mahkota khas raja Jawa dan terdapat logo kepala banteng PDIP.

Pada kesempatan terpisah, Bambang mengatakan poster rontek ‘Raja Jokowi’ berjumlah sekitar 85 ribu yang terpasang di Jateng. Di setiap desa terdapat rata-rata 10 lembar. Diperkirakan pihak pembuat harus mengeluarkan dana besar untuk proyek ini.

“Sekali pasang, yang memasang dapat Rp 5 ribu, plus bambu dan tali Rp 10 ribu. Itu angka gede, belum percetakannya, pengangkutannya, dan lain lain. Melibatkan uang besar, tidak kurang Rp 3,5 miliar sampai Rp 4 miliar,” ungkap Bambang saat ditemui di Semarang, Rabu (14/11).

PDIP saat ini memutuskan menurunkan poster tersebut, meskipun di poster itu terdapat logo PDIP namun PDIP tidak merasa mencetak dan mengeluarkannya. Selain itu, gambar Jokowi berpakaian raja dinilai justru merendahkan karena Jokowi adalah calon presiden yang maju melalui pemilihan umum.
(dwia/rvk)

<!–

polong.create({ target: ‘thepolong’, id: 57 }) –>

Bisa Ternak Lele Tanpa Lahan Luas, Mau Coba?

Liputan6.com, Madiun – Jumlah lahan yang minim membuat sejumlah warga RW 11, Kelurahan Mojorejo, Kecamatan Taman, Kota Madiun, Jawa Timur yang tergabung dalam Paguyuban petani lele “Srimino” memutar otak untuk membudidayakan ikan itu. Mereka pun berhasil mengembangkan sistem “Bioflok” dalam membudidayakan lele untuk pemenuhan perekonomian dan peningkatan keanekaragaman pangan keluarga.

Ketua RT setempat Laminto, di Madiun, Jawa T imur mengatakan, budi daya ikan lele dengan kolam bundar bersistem bioflok sangat cocok diterapkan di wilayah perkotaan seperti Madiun yang minim lahan.

“Selain itu, masa panen juga lebih cepat dengan sistem bioflok. Serta menghemat biaya operasional karena minim pemberian pakan,” ujar Laminto, dilansir Antara, Rabu (14/11/2018).

Menurut dia, dari satu kolam yang dikelola bersama, warga di lingkungan setempat bisa meraup untung hingga ratusan ribu rupiah. Hal itu masih ditambah dengan bonus mengonsumsi ikan lele setiap hari.

Warga biasa memanen lelenya setiap tiga bulan sekali. Masa panennya lebih cepat karena pakan lele terbantu dengan keberadaan mikro organisme yang terbentuk dari sistem bioflok.

Mikro organisme yang menjadi makanan alami ikan itu sengaja dibiarkan berkembang di dalam kolam, sehingga lebih hemat.

Untuk biaya pembuatan kolam bundar, benih, dan pakan sistem bioflok membutuhkan biaya sekitar Rp 750 ribu. Sedangkan, harga jual saat panen bisa mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Masih ada keuntungan lain yakni sebagian lele yang bisa dikonsumsi untuk kebutuhan pribadi.

Adapun sistem bioflok dilakukan tidak langsung memasukkan benih ikan ke dalam kolam. Namun, membiarkan mikro organisme berkembang terlebih dulu.

Lalu, air kolam diisi dengan probiotik atau bakteri patogen dan pakannya seperti tetes tebu dan dolomit.

Lurah Mojorejo Basuki menambahkan, pembudidayaan ikan lele tersebut awalnya bertujuan untuk pemenuhan gizi warganya. Saat itu, konsumsi ikan warga setemaat sangat kurang.

“Kemudian warga sepakat membudidayakan lele agar masyarakat tidak perlu membeli. Namun, hal itu terkendala dengan lahan yang akhirnya mendapat pelatihan dari Balai Benih Ikan (BBI) Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Madiun,” katanya.

Kini seiring dengan berjalannya waktu, warga Kelurahan Mojorejo tidak hanya menjual dalam bentuk ikan lele, tetapi juga telah mengemasnya dalam bentuk pepes, nugget, botok, garang asem, hingga mangut.

“Kondisi tersebut turut mendongkrak perekonomian warga pengelolanya. Prinsipnya, dari masyarakat, dikelola masyarakat, dan dimanfaatkan untuk masyarakat,” kata Basuki.

Simak video pilihan berikut ini:

Seorang warga Banyuwangi temukan mayat bayi yang termutilasi di dalam kolam lele.